Sriatin: “Kami Tidak Butuh Bahasa Diplomatis!”

“Ibu-ibu, Bapak-bapak, kami sudah merundingkan dengan perwakilan kalian. Nanti jelasnya tanyakan mereka,” ujar M. Anton, Walikota Malang setelah melakukan musyawarah dengan perwakilan pedagang Pasar Tradisional Merjosari.

Aksi Peduli Pedagang Pasar Merjosari di depan Balai Kota Malang, menuai kekecewaan dari pedagang Pasar Tradisional Merjosari (11/11). Salah satunya Sriatin, selaku pedagang Pasar Tradisional Merjosari. Ia mengecewakan tindakan Anton, yang berbelit-belit saat menyampaikan hasil musyawarah dengan perwakilan pedagang Pasar Tradisional Merjosari. Aksi yang dilakukan oleh berbagai elemen yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Pedagang Pasar Merjosari tersebut menuntut agar tidak terjadi intimidasi terhadap pedagang Pasar Tradisonal Merjosari dan menetapkan kembali status hukumnya.

Para peserta aksi, termasuk Sriatin, mengaku jengkel karena Anton tidak langsung mengutarakan hasil musyawarah dengan perwakilan massa aksi. Bukannya mengungkapkan hasil musyawarah tersebut, Anton malah menyuruh untuk menanyakan pada perwakilan mereka. “Kami tidak butuh bahasa diplomatis. Cukup iya atau tidak,” ujar Sriatin.

Tidak hanya Sriatin, Jamiatun yang juga berdagang di Pasar Tradisional Merjosari pun demikian. Mendengar keterangan Anton saat menyampaikan hasil musyawarah dengan perwakilan pedagang Pasar Tradisional Merjosari, sontak membuat kata-kata cacian terlontar dari mulutnya. “Jumatan di sini aja, Pak,” ujar Jamiatun. Ia menyesalkan Anton yang tidak segera mengungkapkan hasil musyawarah tersebut.

Karena jawaban dari Anton dirasa kurang memuaskan, massa aksi akhirnya pindah ke depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang lokasinya dengan Balai Kota Malang hanya dipisah jalan raya saja. Di depan gedung DPRD, mereka kembali menyuarakan tuntutannya dan mengharap ada perwakilan dari anggota DPRD keluar untuk menemui mereka.

Massa aksi diam sejenak setelah salah satu anggota DPRD Kota Malang berjanji akan menindaklanjuti tuntutan mereka. “Kami akan melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat,” ujar salah satu anggota DPRD Kota Malang yang menemui massa aksi siang itu. Ia juga menghimbau para pedagang Pasar Tradisional Merjosari agar menyampaikan tuntutan mereka secara tertulis.

Mendengar penjelasan tersebut, Sabil el Achsan, selaku Koordinator Pedagang Pasar Dinoyo mengancam akan mencabut status Anton sebagai walikota. “Jika tuntutan kami tak ditanggapi, saya gak bertanggung jawab jika Anton harus turun,” ujarnya. Akhirnya, massa aksi pun membubarkan diri setelah Sabil membacakan doa untuk menutup aksi pada siang hari itu. [Achmad Gilang Rizkiawan]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Leave a Reply