Lalapan Telur Tempe dengan Rasa Papua Merdeka

Warung lalapan kerupuk Cak No mulai sepi jam sepuluh malam. Seperti malam-malam sebelumnya, ia bersama istrinya duduk santai di kursi warung menunggu pelanggan yang biasanya datang jam segini. Dua gadis kecilnya sudah terlelap di atas kasur, di sudut warung. Cak No menghisap sebatang kretek, istrinya mengipasi lehernya yang berkeringat. Sambil

Aku Ingin Menjadi Wanita

Ruangan pengap yang hanya disibak tirainya sebagian membuat cahaya yang masuk tidak banyak namun cukup untuk melihat pantulan bayangan dari kaca. Seorang perempuan mengambil gunting dari laci kecil di kaca riasnya. Wajahnya terlihat tidak baik-baik saja. Rambut hitam gelombangnya terlihat kusut dan kusam. Wajahnya pucat dengan mata sembap, menatap wajahnya

Aku Bukan Aku

“Pernahkah kamu berpikir, menjadi dalang ditengah-tengah ketakutan, darah-darah, kegelisahan dan ribuan ledakan senapan yang begitu dahsyat?” Hari itu pukul delapan dini hari, langit masih saja seperti pukul tiga pagi. Suram, sunyi, dan matahari enggan mempersilahkan sinarnya untukku. Bangkit dari hibernasi yang entah kapan aku memulainya, aku linglung memikirkan sesuatu yang tidak

Luka Ayu

   Perempuan itu berdiri di ujung tebing. Matanya nanar menatap laut yang menghantam batu-batu besar di bawah kakinya. Pikirannya kosong. Sesekali ia hanya mengingat beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya. Ingatannya terpotong-potong, bolak-balik, tak berurutan. Gelas pecah, seorang wanita berteriak. Ayu berlari, sebuah tongkat terpental menabrak pembatas jalan. Mobil merah melaju kencang.

Pasung Jiwa Sang Penari

Ahhh, perempuan... Masa telah mengubah segalanya. Aku kehilangan. Kehilangan identitas, kehilangan peran sebagai perempuan. Melepas jauh kungkungan adat. Memperbudak diri dengan harta, hingga lenyaplah harga diri yang dijunjung tinggi. Tiada lagi rahim berkualitas yang akan menumbuhkan generasi-generasi unggul... Praaannnggg...!!! Perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan vas bunga di atas meja yang berada persis di

Kembalikan Masa Mudaku

Seorang anak kecil berusia sepuluh tahun berlarian di tengah taman bermain pusat kota. Anak itu tertawa riang sambil melemparkan bola plastik ke arahku. Tawanya mengingatkanku dengan seorang teman. Kenangan itu terus meluncur jatuh di pikiranku, seperti rintik hujan sore ini. Tak bisa dihentikan, semakin deras, dan membasahi setiap objek yang

Mengundi Tuah Sang Buruh Outsourcing

“Ngeng…ngeng…ngeng…”. Suara sepeda motor riuh memecah sunyinya pagi kala itu. Udara masih dingin. Kawanan burung prenjak Jawa pun enggan keluar dari sarangnya. Hanya sesekali terdengar bunyi ngriwik burung dara dalam sangkar kotak yang tiangnya kokoh tertancap di halaman rumah. Asap mengepul dari lubang knalpot sepeda motor berlabel Legenda Astrea itu.