Sore ini, kamu menyusuri jalanan sepi kabupaten dengan motor maticmu. Jalan yang amat sepi, dibanding dengan kota dulu kamu kuliah. Kira-kira sudah dua tahun kamu meninggalkan kota itu, kota yang penuh lalu lalang muda-mudi itu.
“Kota yang penuh kenangan,” ucapmu.
Tiiiit… tiit! Bunyi klaksonmu menyapa.
Tiiiit… tiiiiit! Bunyi klakson tetanggamu membalasnya.
Bagimu, kabupaten tempatmu tinggal amat berbeda dengan kota itu. Seperti klakson tadi, fungsinya untuk menyapa. Sedang disana, seakan-akan untuk memerintah, minggir sana! Tentu yang berbeda tak hanya perihal klakson, kamu juga merasa ada yang berbeda dalam dada dan jiwamu sekarang.
Kamu melihat sepasang muda-mudi berboncengan, sedang kamu hanya sendiri. Si perempuan mengelus-ngelus rambut si laki-laki. Sedang kamu, hanya dipermainkan kerudungmu oleh angin-angin dingin sore ini. Terasa sepi dan sunyi. Bukan tentang jalan-jalan ini, tapi hati mu.
“Aduuuuuh…! Kok dingin banget, sih!” Yang lebih parah, kamu juga kedinginan lahir dan batin karena lupa membawa jaket ketika berangkat ngeles anak SD tadi.
@@@
Kamu sampai di rumah, memeluk badanmu sendiri. “Gilaak… gilaaak! dingin woy!” gerutumu mengeluh sesudah masuk ke depan rumah dan mematikan motormu.
Kamu mengucapkan salam lalu ibumu menjawabnya. Lantas berlalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dengan perasaan ragu.”Njir, kayak wudhu di puncak Everest nggak sih?!” candamu pada dirimu sendiri.
Azan terdengar, ibu sudah memanggilmu untuk shalat maghrib berjamaah dengannya. Sedangkan, ayahmu sudah pergi ke masjid satu jam sebelumnya. Kata ibumu ada yang sedang mau mengadakan tasyakuran.
“Tasyakuran anaknya Lilis, temanmu SMP itu lho, yang ganti nama. Soalnya tiga bulan anak balitanya suka sakit-sakitan,” ucap ibumu sudah memakai mukenah lusuhnya, sedang wajahmu masih basah akan air dengan kerudung setengah terpakai. Memperlihatkan rambut-rambut keningmu dan rambut depan kepalamu.
“Ohhhh…..!” balasmu dingin.
“Oh, Nduuuk… Nduuuuk!” balas ibu dengan muka sedihnya.
Baca Juga: Dihapus oleh Sistem
Jantung Fajar berdetak lebih cepat. Ia mencoba melangkah mundur. Bayangannya di dinding lift tetap diam. Lalu, dalam satu kedipan mata, bayangan itu tersenyum padanya. Senyum yang tidak ia buat. Fajar terhuyung ke belakang, hampir jatuh. Pintu lift tertutup kembali. Panel angka naik lagi.
@@@
Kamu rebahan di kasur, setelah bersih-bersih badan tentunya. Rambutmu yang sudah kering, kamu biarkan saja tergerai. Kamu bengong sesaat, kembali teringat tentang sepasang muda mudi itu. Kamu ingat tawa mereka, ingat betapa mesranya mereka, kamu ingat ada perasaan kamu hanya penyewa dunia belaka, dan dunia hanya milik mereka berdua.
Ya, ada perasaan hampa dan perih rasanya dalam dada. Kamu ingat kembali dia.
Kamu menangis, entah karena apa. Apakah karena kamu iri dengan sepasang muda mudi itu? Ataukah karena kamu membayangkan dia yang tiga tahun menemani masa kuliahmu? Entahlah, kamu tak yakin karena apa. Tapi kamu hanya ingin menangis, itu saja.
“Mungkin, kalo aku masih sama dia, aku bisa sebahagia mereka ya!?” Dengan sesenggukan kamu menangis. Dalam hati kecilmu, ternyata kamu masih mengharapkannya.
@@@
Toktok! Toktok!
Sekarang pukul delapan malam, tiba-tiba ibumu mengetuk pintu kamarmu. Sedang pipimu masih terasa bekas tangismu yang terbawa tidur. Sesaat kamu bersyukur, untunglah aku ngantuk dan capek, jadi aku tak perlu menangis dan sedih terlalu lama, batinmu.
“Bentar!” balasmu pada ibumu.
Kamu pergi ke meja riasmu. Kamu mendapati dirimu dengan rambut yang sedikit berantakan, dengan bekas air mata yang sedikit terlihat. Kamu mengambil cleanser dan membersihkan wajahmu. Mungkin, lebih tepatnya untuk menyembunyikan sedihmu.
Kamu lantas keluar kamar. Bapak dan ibumu sudah ada di ruang keluarga. Mereka sedang menonton Ganteng-ganteng Serigala. “Auuuuuuu….! Aku mencium darah suci!” itu yang kamu dengar dari suara TV tabung keluargamu.
Kamu duduk bersebelahan dengan mereka. Tangan bapakmu mulai bergerak memegang remot. Suara TV mulai mengecil. Kamu merasakan suasana yang rasa-rasanya menjadi lebih sunyi dan serius. Lalu, suara bapakmu pelan mulai terdengar, ”begini Nduk, Kamu ‘kan udah berumur dua puluh empat. Apa kamu…”
Kamu sudah tau kalimat-kalimat semacam apa selanjutnya. Kamu hanya mendengarkan saja.
“Begini, Buk, Pak. Aku masih belum siap, mungkin bapak juga tadi ditanyain tetangga perihal aku kapan nikah. Tapi aku memang belum siap. Pertama, karena kadang dalam diri aku masih berharap sama yang kemarin. Jadi, rasa-rasanya nggak baik kalo nanti nikah tapi kok belum selesai. Takutnya juga, malah aku jadi bandingin suamiku sama yang kemarin. Rasa-rasanya kan nggak baik juga.
Kedua, jujur ada perasaaan takut juga kalo nanti gagal dan sakit hati lagi. Rasa-rasanya untuk percaya seorang laki-laki lagi tuh sulit. Ketika kita pernah memberikan hati kita seratus persen terus dikecewakan. Tentu, akan sulit memberikannya seratus persen lagi. Itu yang aku rasakan,” terangmu pada mereka.
Kamu sadar, memiliki orang tua yang perhatian, juga mau mendengarkan apa pendapatmu mungkin akan jarang. Tentu kamu bersyukur. Tentu kamu juga punya perasaan ingin membuat mereka lega atau bahagia dengan pernikahanmu.
“Hmmmm…Bapak paham. Bapak juga akan tetap pada prinsip Bapak, pernikahanmu, ya kamu yang memutuskan. Karena bukan bapak atau ibu yang akan menikah,” ucap Ayahmu sebelum diam sesaat.
”Tapi, Bapak mohon sama kamu, coba kenalan sama anak teman Bapak, dia dua tahun lebih tua dari kamu. Akan bohong, kalau Bapak nggak berharap, tapi kamu nggak usah merasa bersalah. Bapak hanya takut kamu terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Bapak masih bisa lihat wajah sedihmu,” ucap Ayahmu dengan lemah lembut.
Batinmu, entahlah, apakah aku harus mencoba. Apakah sopan dengan membawa hati yang hancur? Membawa kurang dari lima puluh persen yang tersisa. Dan yang lainnya telah hancur dengan dia.
Baca Juga: Sagar di Ujung Metropolitan
Sebenarnya, Saga tak hanya mempertimbangkan tentang seberapa berbahayanya sampah plastik bagi ekosistem laut, namun permukaan air laut yang semakin meninggi sementara dataran tempat ia berpijak semakin menurun, sudah cukup membuat hati Saga teriris saat melihatnya. Saga tak ingin tindakan kecil yang seringkali dianggap ‘sepele’ ini akan semakin memperburuk kondisi pantai dan laut yang begitu ia jaga.
@@@
Sore ini, kau berjalan kaki membawa cangkul di pundakmu. Dengan pekerjaan ini, kau selalu berfikir, apakah aku pecundang dengan menjadi petani? Bukankah, perempuan memandang perihal ini? Ketika seorang teman bapak kau, yang katanya mau mengenalkan anak gadisnya. Kau ragu, mengukur-ngukur alangkah tak pantasnya diri.
Entahlah, apakah aku harus mencoba? Dengan membawa harta yang apa adanya, apakah sopan? Membawa kurang dari apa yang dipunya bapaknya.
Editor: Alviona Ninda Febriyanti
cerpen kehidupan pernikahan rindu
Last modified: 06 Oktober 2025

