Written by  _&_  22:10 Feature News

Air yang Tak Tampak di Sana

Udara dingin pagi itu merasuk hingga ke tulang. Begitu membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah atap tenda berwarna kuning yang temaram diterpa cahaya redup. Samar-samar suara azan berkumandang dari kejauhan. Tanganku meraih benda persegi panjang di samping tubuhku, lalu aku mengetuk dua kali layarnya. Terlihat fotoku di layar kunci, diikuti angka yang menunjukkan pukul empat pagi. Waktunya salat subuh, batinku.

Saat itu aku tengah berkemah di Bumi Perkemahan Kebun Rojo, yang berada di kawasan Princi, Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Dengan mukena di tangan, aku berjalan menuju musala. Dalam perjalanan, pandanganku tertuju pada sebuah sungai kecil dengan deretan bunga hortensia biru-putih yang bermekaran di sekitarnya. Anehnya, meski tanah di dasarnya basah, tak setetes air pun mengalir di sana.

Eh, kok nggak ada airnya?” gumamku pelan.

Rasa penasaran itu kubawa hingga matahari menyingsing. Seusai sarapan, aku dan temanku memberanikan diri menghampiri dua pemuda yang duduk santai di posko Kebun Rojo. Kami berkenalan, lalu basa-basi menanyakan soal sumber air di tempat ini.

Salah satunya, seorang lelaki berkaus biru dengan tulisan Kebun Rojo di dada kiri dan Perhutani di dada kanan, tampak seperti pengurus. Sementara itu, seorang pemuda ber-vest hitam yang duduk di sampingku sembari mengisap rokok ternyata lebih banyak menjawab. Namanya Tegar (23), relawan yang ikut mengelola kawasan ini.

“Sumbernya itu dari atas, sumber paling atas sendiri ,” ujarnya sambil menunjuk ke arah air terjun, sekitar empat kilometer dari area perkemahan.

Baca Juga: Liburan yang Tak Memilih Pulang: Kisah Anak Perantauan yang Tak Pulang Saat Libur Lebaran

Ia mengatakan bahwa saat berkumpul dengan orang-orang dari daerah yang sama dan menggunakan bahasa daerah yang sudah lama tidak ia dengar, hal tersebut sudah merupakan arti ‘pulang’ baginya.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya baru datang menggunakan sepeda motor dan mengenakan jaket hitam. Motornya berhenti tepat di depan kami. Tegar menyapa pria tersebut dan beliau pun menghampiri kami. Tegar menyarankan agar kami berbincang dengannya, sebab ia jauh lebih paham soal air di Kebun Rojo. Namanya Robi Siswanto (43), salah satu pengelola yang sudah ikut membangun kawasan ini sejak awal.

Dengan nada ramah, Robi menjelaskan bahwa aliran air dari hulu disalurkan melalui pipa-pipa dan ditampung di tandon. Dari sana, air dialirkan ke bumi perkemahan sekaligus ke perkebunan warga.

“Di situ nanti ada semacam tandon, dan dialirkan ke perkemahan dan perkebunan,” jelasnya.

Namun, distribusi air itu tak bisa dilakukan bersamaan. Jika sedang dialirkan ke perkebunan, maka jalur ke perkemahan dimatikan. Karena itu, tandon berfungsi sebagai cadangan bagi pengunjung.

Dari penjelasan Robi, tandon tersebut tidak ada dengan sendirinya. Rupanya tandon tersebut adalah buah dari kerjasama warga dengan pihak Kebun Rojo untuk menghidupi kebutuhan air di daerah Perinci. Robi pun menjelaskan bahwa sumbernya berasal dari Sabana yang oleh warga sendiri disebut dengan Sumber Dandang.

“Kalau sumbernya sih yang utama otomatis dari Sabana. Terus mengalirnya itu lewat yang kita punya nama yang untuk istilahnya kepercayaan adat itu Sumber Dandang. Sumber Dandang di atas kurang lebih 4 km,” jelas Robi.

Sumber air tersebut nantinya akan dipergunakan untuk kebutuhan area perkemahan maupun kebutuhan warga, karena sebagian besar warga di sana juga bertani.

Robi menjelaskan tidak pernah ada kekeringan yang terjadi sejauh ini karena telah diorganisir oleh pengelola Kebun Rojo dengan baik. Begitu pun konflik antar warga dan pengelola Kebun Rojo juga tidak pernah terjadi.

Baca Juga: Sudah Petang, Cobek Itu Masih Bersih

Penghasilan Nenek Poni sehari yang hanya menyentuh nilai lima puluh ribu rupiah harus bisa mencukupi kebutuhan tujuh cucunya. Bahkan, anak bungsunya juga masih dibiayai nenek. Jika dilihat dari kebutuhan sehari-hari di Malang, lima puluh ribu sangatlah sedikit untuk sehari-hari mereka. 

Mulanya kawasan Kebun Rojo ini adalah kawasan hutan tanah tegaan Pinus, atau hutan yang baru ditanami pinus dan di sekitarnya boleh ditanami tumbuhan lain. Akhirnya warga mulai menanam dan menjadikannya tempat mencari nafkah. Sampai pada akhirnya ada inisiasi oleh kelompok tani bernama Kebun Rejo untuk membuat lahan perkemahan seperti daerah lain, misalnya Parang Tejo.

Robi menjelaskan setelah ada rencana pembuatan lahan perkemahan ada yang namanya tukar guling atau pemindahan lahan dari Kebun Rojo ke tempat lain.

“Kita bisa manfaatin sebagian hutan ini untuk kita buat mainan lah utamanya gitu. Tapi kita tukar guling di sebelah. Untuk penggarap di sini kita tukar-tukar gulingnya di sebelah. Ada pembukaan lahan baru. Nah, petani di sini pindah. Jadi, enggak ada debat, enggak ada permasalahan,” jelas Robi.

Jadi, itulah awal mula terbukanya lahan perkemahan Kebun Rojo. Namun, tempat ini tidak serta merta langsung ramai. Banyak badai yang dihadapi mulai dari belum terkenalnya Kebun Rojo hingga pandemi. Dulu, kawasan ini sepi. Kini, sejak pandemi berakhir, jumlah wisatawan terus bertambah.

“Ramainya setelah COVID, sekitar 2022,” ujar Ridho, si pemuda berkaus biru, menimpali.

“Waktu itu juga booming dibantu teman-teman media. Media Malang, misalnya, ngaruh banget,” tambah Tegar.

Mendengar penjelasan itu, rasa penasaranku tentang aliran air di Kebun Rojo pun terjawab. Aku teringat kembali pada sungai kecil dengan hortensia biru-putih yang kulihat pagi tadi. Rupanya, aliran air yang tak tampak di sana, justru menghidupi banyak hal: kebun warga, tenda-tenda perkemahan, bahkan aktivitas wisata yang kini menjadikan Kebun Rojo kian ramai.

Setelah ramai pun Kebun Rojo tidak kehilangan kualitasnya hingga saat ini. Air bersih terus mengalir guna memenuhi kebutuhan orang-orang yang berkemah disini. Salah satunya Keisha (21) salah satu pengunjung Kebun Rojo. Ia mengaku bahwa air di Kebun Rojo sudah cukup bersih. 

“Menurut aku sih airnya udah ok buat dipakai bersih-bersih. Airnya juga kencang [alirannya], jernih, dan pastinya dingin. Jadi, enak dan nyaman digunakan selama ngecamp,” terangnya. 

Para pengunjung berharap pengelola Kebun Rojo akan selalu menjaga kualitas airnya agar tetap bersih dan nyaman.

“Harapan dari aku sih semoga airnya tetap lancar, dan selalu bersih biar kegiatan camping makin nyaman. Kalau bisa diadakan pengecekan dan pembersihan rutin biar air nya tetap terjaga kebersihannya,” ujar Keisha.

Editor: Nurul Luthfiyyah

(Visited 15 times, 1 visits today)

Last modified: 15 Oktober 2025

Close