Melihat Kembali Kampung 1001 Malam Dari Wajah Supriyatin

I can show you the world
Shining, shimmering, splendid
Tell me, princess, now when did
You last let your heart decide?

(A Whole New World – Alan Menken & Tim Rice)


Supriyatin Namanya. Saat itu, panas mencapai temperatur 31 derajat celcius. Sebab tingkat panas cuacanyalah, kota ini, Surabaya seringkali menjadi bahan gunjingan sebagai kota yang panas. Sesekali teman saya membandingkan dengan Jakarta, dan ia mendaku bahwa Surabaya jauh lebih panas. Namun, tidak di tempat itu. Jalan Lasem, di bawah tol, seorang perempuan berusia 44 tahun sedang berbaring santai di atas ranjang. Supriyatin Namanya, dan ia sedang menemani Cucunya, anak perempuan kecil berusia 5 tahun yang sedang iseng memegang gawai.


Reno Surya lah yang mengantar kami – saya dan lima kawan lain – ke tempat ini. Maret, 2022, Reno menulis tentang kampung ini. Kampung 1001 malam. Menurut catatan perjalanan yang ia rangkum dalam dua judul tulisan, “Kampung 1001 Malam: Sarang Penyamun Yang Bersalin Rupa” dan “Geliat Kampung Kota: Absennya Negara & Janji Palsu Politikus”, kampung ini adalah kampung pelarian para penyamun. Seperti bandit gorong-gorong. Demikian masyarakat umum mengenalnya. Tapi Mamik, alias dari Sigit Santoso pengurus kampung setempat, penduduk 1001 malam kini tidaklah demikian. Hari ini, kami hidup normal. Orang-orang bekerja sebagai pengamen, pemulung, pengemis. Pokoknya kerja normal,” kata Mamik dilansir dari catatan Reno.


Supriyatin, perempuan yang kami temui, setidaknya menegaskan catatan Reno. Jika kamu berkunjung ke tempat itu, sedikit saja masuk terowongan mina – terowongan penghubung 1001 malam dan kampung lainnya – kamu akan segera menemuinya. Sejak kecil, ia bercerita telah menetap di kampung itu. Ibunya telah mendiang, tapi ia tak pernah lupa, di tempat ini ia tumbuh besar. Sebelum ada tol, menurut penuturannya, tempat ini persis sebagaimana tampak saat ini. “Udah sejak kecil (tinggal di sini), dulu di kobongan, waktu itu di kobongan sebelum ada tol, udah lama, ya barangkali, kisaran tahun 90-an, asli Surabaya, saya asli sini.” Tutur Supriyatin sambal mengingat sisa-sisa ingatan masa kecilnya.

Semua berubah sejak tol itu masuk. Menurut penuturan Supriyatin, tempat ini dulu sempat memiliki kebun. Sebagian warganya, sempat berkebun di sekitar kampung. Meski suatu waktu, kebun ini sempat terbakar. Dulu, Supriyatin tinggal di bawah tenda buatan yang tertutup terpal. Namun ketika pembangunan tol berlangsung, Supriyatin dan ibu, tak pernah tinggal menetap. Bila malam tiba, mereka membangun terob guna keperluan tidur. Namun ketika matahari terbit. Mereka harus membongkar kembali sebab kegiatan pembangunan kembali berjalan. “Enggak pernah ada penggusuran dari pihak tol, dibiarkan aja, pokok kalo gak digawe kisruh aku tetep di sini. Kalau hujan rembes,” tegasnya.


Betapapun hidup Supriyatin penuh pertaruhan, seperti bongkar pasang tempat tinggal, ia tetap hidup menikmati. Meski ia menyadari, kelak tempat tinggalnya berpotensi untuk digusur, tetapi inilah tempat kelahirannya. Jasa Marga, melalui ketua RT 20, tempat rukun tetangga Supriyatin pernah memberitahu bahwa ada tawaran relokasi. Namun relokasi itu tidak langsung berbentuk rumah lunas, melainkan perlu cicilan. Bahkan mereka juga sempat ditawari tinggal dalam rusun. Tetapi bagi Supriyatin, persoalan rumah bukan hanya tentang properti. Isi keluarga, tetangga serta memoar kampungnya. “Mas, missal kalau mau orang sini disuruh pindah ya pindah semua, tapi tetep gak ada yang mau. Pindah satu pindah semua. Kalo kayak gitu mau, kalo sedikit sekarang gak mau, harus pindah semua,” tutur Supriyatin pada kami.


Di usianya yang terbilang tua, kini Supriyatin telah memiliki dua cucu. Nia Ramadhani dan Donna Ramadhani. Dari enam anak yang ia miliki, kini tersisa tiga perempuan. Suami serta menantunya. Keseluruhan keluarga itu, tumbuh dan hidup di tempat ini, kampung 1001 malam, yang menurutnya penamaan ini telah hadir sejak listrik belum masuk ke tempat ini. Tempat  gelap di tengah menterengnya kota Surabaya.


Tak ada penyamun, Tak ada bandit. Kami pamit dan pulang. Sepanjang jalan, inilah 1001 malam bagi kami, tempat manusia bertaruh akan hidup seperti apa esok hari dengan dan atau tanpa modal. Supriyatin kini telah mendapat akses listrik serta air bersih dari PDAM dan PLN. Kendati ia tetap harus membayarnya, dan hidup dari pola kerja keluarga ala kadarnya. Dua anak pengamen, dua cucu murid sekolah dasar, satu anak yang kini menjadi ibu, dan suami yang sedang ikut kerja temannya ke Pasuruan. Mereka hidup, dan inilah 1001 malam. Hampir seperti fantasi. Tak ada negara dan para raja. Hanya meja judi kehidupan. Kisah Syahrazad dalam 1001 malam belum mati, kini berlanjut dalam kehidupan Supriyatin. []

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
LOKER ISU REDAKSI
merupakan wadah yang disediakan bagi seluruh sivitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan masyarakat umum yang ingin menyalurkan isu untuk diangkat menjadi berita.
Klik di sini
MARI BERKONTRIBUSI
kami menerima karya dari kalian yang ingin menyuarakan gagasannya melalui tulisan
Klik di sini
Previous
Next