Alkisah di sebuah desa yang asri, hiduplah seorang petani di sebuah gubuk kecil sederhana. Petani ini hanya tinggal seorang diri dengan keseharian berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pagi itu, seperti hari – hari biasanya si petani pergi ke kebun mangga miliknya yang letaknya hanya seratus meter ke arah selatan dari gubuk. Tetapi, kali ini Ia pergi dengan tergesa – gesa karena ingin segera menengok keadaan kebunnya yang semalam baru diterjang angin kencang. Saat hendak memetik buah mangga yang sudah siap panen, tiba – tiba ia mendengar suara rintihan dari tumpukan dedaunan. Setelah menemukan sumber suara, alangkah terkejutnya sang petani melihat ada seekor anjing yang meringis kesakitan akibat tertimpa dahan pohon yang sangat besar.
Rupanya dahan itu runtuh akibat angin kencang semalam. Sigap si petani langsung menolongnya dan membawa anjing itu pulang ke rumah. Dengan penuh kasih sayang, petani mengobati si anjing hingga sembuh serta merawat selayaknya keluarga sendiri.
Dengan kehadiran si anjing, hidup petani lebih bahagia. Ia tidak merasakan lagi kesepian karena tinggal seorang diri di gubuk tua miliknya. Setiap hari ia memberi makan anjing kesayangannya, membawanya berkebun, mengajaknya mandi di sungai, bahkan mengajari anjingnya untuk melakukan hal-hal seperti berburu dan buang kotoran di luar rumah. Petani benar-benar sosok majikan yang sangat baik dan perhatian.
Anjing itu tumbuh dengan cepat setiap harinya, tubuhnya gempal, gemuk, dan tentunya gagah karena sering Latihan berburu bersama petani. Kini, hubungan antara anjing dan petani bukan lagi sebatas anjing dan majikan, namun sudah bisa dikatakan sebagai dua makhluk hidup yang bersahabat. Ke mana pun petani pergi, si anjing selalu mengikuti dengan setia. Apapun yang dilakukan oleh petani, selalu dibantu sebisa mungkin oleh si anjing, meskipun terkadang kehadirannya hanya mengganggu atau menyulitkan petani. Tetapi, petani tidak pernah merasa keberatan karena kehadiran si anjing. Kesalah-kesalahan kecil yang dilakukan oleh sahabatnya itu, selalu ia maafkan.
“Kau hanyalah seekor anjing kecil, bukan? Tidak apa-apa, besok akan kuajarkan kau melakukannya dengan cara yang benar,” begitu kalimat maaf yang selalu diucapkan petani pada sahabatnya setiap ia berbuat kesalahan.
Pada suatu hari petani tertidur di atas dipan teras rumah. Tampaknya petani sangat kelelahan selepas mengantar hasil panen ke kios – kios buah di pasar yang jaraknya sepuluh kilometer dari desa. Melihatnya, sang anjing pun mengipasi petani agar tidak kepanasan sehingga tidurnya semakin pulas. Tiba – tiba ada tiga ekor lalat yang hinggap di hidung petani. Sang anjing meniup lalat tersebut agar pergi, sehingga tidak mengganggu petani beristirahat. Namun, tak lama lalat – lalat itu datang kembali dan menghinggapi hidung petani. Sang anjing kembali melakukan hal yang sama, yakni meniupnya hingga pergi. Akan tetapi tiga ekor lalat itu terus menerus kembali menghinggapi si petani. Ditambah suara bisingnya yang cukup mengganggu, akhirnya memancing emosi bagi si anjing. Tak berpikir panjang, sang anjing langsung meraih sebalok kayu di bawah dipan dan memukulkannya ke gerombolan lalat tersebut. “Bruuk”. Sekejap lalat – lalat itu mati gepeng, tetapi tindakannya itu juga mengejutkan petani yang sangat terkejut hingga terjaga dari tidurnya dengan keadaan wajah yang berlumuran darah.
Untuk pertama kalinya, kali ini selain merasa terkejut petani juga merasakan amarah yang memuncak karena perbuatan anjingnya. Ia terbangun dari tidurnya, duduk sebentar sambil memegangi hidungnya yang terus mengeluarkan darah segar. Sambil menahan darah yang terus keluar, mata petani mencari-cari ke sekeliling tempat tidurnya dan melihat sebuah balok berlumuran darah di samping anjing peliharannya. Tanpa berpikir panjang, petani mengambil balok tersebut dan menghantam kepala anjingnya.
Beberapa saat setelah dipukul dengan keras oleh petani, si anjing terkapar di lantai. Ia menggonggong keras, sambil berjalan mundur. Hatinya terluka, lebih sakit daripada luka yang ada di kepalanya. Ia berlari dengan rasa ketakutan dan kecewa. Petani bisa mendengar gonggongan anjingnya yang memilukan, hingga akhirnya gonggongan itu hilang ditelan oleh ladang-ladang yang terhampar di sekitar gubuknya. Senyap.
Kepergian anjing peliharannya semakin lama semakin menghadirkan kembali kesepian yang dulu pernah dirasakan oleh petani. Bagaimana hampanya hidup sendiri tanpa teman, bagaimana rasanya menikmati hasil kerja kerasnya hanya untuk dirinya sendiri, bagaimana hambarnya seluruh makanan yang ia kunyah. Ia merasakan kembali semua itu. Hingga akhirnya, petani mulai mencari-cari dan memanggil anjing kesayangannya itu, ia sangat berharap bahwa anjingnya akan kembali lagi. Walaupun sebenarnya ia sadar bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Setiap hari, petani selalu berjalan menyusuri ladangnya sambil menangis dan memanggil-manggil anjingnya.
“Kau hanyalah seekor anjing kecil, bukan? Tidak apa-apa, besok akan kuajarkan kau melakukannya dengan cara yang benar. Dan kau pun bisa mengajariku bagaimana cara menjadi sahabat yang benar,” ucap petani di tengah-tengah ladang tempat terakhir ia mendengar gonggongan anjingnya.
Sejak kejadian itu pula, sang anjing sudah tidak pernah terlihat kembali pada petani. Mungkin saja sudah kembali ke hutan. Akhirnya petani kembali melanjutkan kehidupannya dengan seorang diri seperti sedia kala.
Last modified: 21 Juli 2022

