Damaikan Perseteruan Antar Suku

Sebagai makhluk Tuhan yang beradab, kita perlu berdamai dengan sesama manusia, lingkungan dan alam sekitar,” ucap Imam Muslich, pendiri komunitas Neolath dalam pembukaan acara Bulan Cinta Damai Lingkungan Alam (15/02). Acara yang digelar di depan monumen pahlawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) ini, disebut sebagai usaha menciptakan perdamaian di Bhumi Arema. “Tidak peduli apa agama kalian, dari mana asal kalian, jika kalian sudah ada di Bhumi Arema, maka hanya ada satu kata, salam satu jiwa!” seru Imam.

Acara ini pun dimaksudkan untuk meredam kericuhan antara mahasiswa asal Sumba dan Flores yang kerap kali terjadi di Malang. “Sumba dengan Sumba namun berbeda suku, Sumba dengan flores, mereka semua tak akur hingga ke Malang” jelas Imam. Ia lalu bercerita, di akhir bulan Januari kemarin, sesama mahasiswa yang berasal dari Sumba tapi berbeda suku berkelahi di kelas. Penyebabnya karena perbedaan pengartian kata. Perkelahian itu pun berakhir di jeruji besi. Data yang dihimpun Surabaya.tribunnews.com juga mencatat pernah terjadi bentrok antara mahasiswa Sumba dan mahasiswa ambon pada Mei lalu. Pihak berwajib akhirnya berhasil mendamaikan kedua kubu melalui negosiasi.

Hal semacam itu yang tak diinginkan Imam. Menurutnya, penyelesaian pertikaian mahasiswa antar suku tidak selalu harus dengan jalan proses hukum, namun bisa dengan pendekatan budaya. Pendekatan budaya bisa dengan menyesuaikan budaya yang dibawa oleh mahasiswa asal Sumba dan Flores dengan budaya Malang.

Silius, salah satu mahasiswa asal Sumba yang juga ikut dalam acara itu berharap Malang bebas dari kerusuhan. “Kami mohon maaf. Kami dari timur kemarin-kemarin seringkali buat kerusuhan,” ujarnya. Ia dan teman-temannya sekarang ingin menunjukkan pada warga Malang kalau mereka juga bisa menjaga nama baik kota Malang. Senada dengan Silius, Angga Setiawan sebagai warga asli Malang yang juga hadir pada acara itu menginginkan ‘mahasiswa timur’ bisa hidup berdampingan dengan warga malang. “Tawuran itu nggak penting. Yang penting bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri dengan warga Malang agar dapat hidup berdampingan,” ucap Angga.[]

Leave a Reply