Written by 08:24 Esai, Koran Tempel Q-Post

May Day dan Wajah Baru Dominasi Kekuasaan

sumber gambar: agus-prasetiyo.blogspot.com

sumber gambar: agus-prasetiyo.blogspot.com

Kita tak mimpi kawan!
Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan

(Widji Tukul)

Lapangan Haymarket, Chicago Amerika Serikat penuh sesak. Empat ratus ribu buruh berkumpul dengan seruan yang sama. Buruh-buruh yang biasa dipekerjakan 19 hingga 20 jam dalam sehari tersebut, menyerukan tuntutan untuk pemberlakuan 8 jam kerja. Pada hari yang sama, 1 Mei 1886, Kanada secara resmi memberlakukan 8 jam kerja. Keberhasilan yang diraih para buruh Kanada tersebut tentu bukan dengan perjuangan sederhana. Peresmian ini menindaklanjuti aksi mereka tahun 1872 silam. Empat belas tahun berjuang, buruh-buruh Kanada akhirnya berhak diganjar dengan hasil sepadan.

Di tempat lain, para buruh Amerika melakukan demonstrasi besar-besaran selama 4 hari dengan harapan akan mendapatkan keberhasilan serupa. Namun, alih-alih mendapatkan peresmian 8 jam kerja, pada hari keempat, 4 Mei 1886 buruh-buruh tersebut justru ditembaki oleh polisi setempat. Ratusan buruh tewas, sedangkan beberapa pemimpin demonstrasi ditangkap lantas dihukum mati.

1 Mei 2016, sudah lebih satu abad sejak tragedi tewasnya ratusan buruh akibat tembakan oknum polisi. Di Indonesia, para buruh berkumpul di depan Kantor Balai Kota Malang. Pekerja yang tergabung dalam Solidaritas Persatuan Buruh Indonesia (SPBI) berkumpul untuk memperingati tanggal 1 Mei yang ditetapkan sebagai Hari Buruh Sedunia. Dalam momen tersebut, biduan didatangkan berikut panggungnya untuk menghibur para buruh yang datang. Mereka tak perlu khawatir akan mendapat tembakan dari oknum kepolisian. Berkat kerjasama dengan pemerintah Kota Malang, puluhan polisi dan pihak keamanan lainnya ikut berjaga untuk memastikan keamanan jalannya acara.

Bila saja ku tahu, bahwa kesetiaanmu begitu dalam padaku, takkan aku mengingkari…,” demikian lirik lagu berjudul Kandas yang dinyanyikan oleh seorang biduan.

Salah satu pihak keamananan bahkan sempat naik ke panggung untuk mendendangkan lagu tersebut bersama sang biduan. Para buruh yang menonton diajaknya untuk ikut berdendang lantas bergoyang. Beberapa buruh yang semula duduk langsung berdiri dan mengikuti ajakan tersebut.

Suasana peringatan hari buruh siang itu penuh dengan suka cita. Ironisnya, poster-poster yang berisi tuntutan justru dibiarkan berserakan di depan panggung. Salah satu poster bertuliskan “Hapuskan sistem kerja kontrak”, bertumpuk dengan poster-poster lain yang berjejer dengan kardus berisikan sampah makanan.

Lutfi Chafidz, Ketua Komite Pusat SPBI, beranggapan bahwa perayaan 1 Mei juga harus diisi dengan acara yang menghibur. Lutfi bahkan nyinyir terhadap buruh-buruh yang menyampaikan tuntutan-tuntutannya dengan jalan kekerasan.  Kan sudah terpenuhi dengan adanya 1 Mei, sudah disepakati juga momen untuk perjuangan para buruh,” ujar Lutfi sambil menyeringai.

Menurut Lutfi, adanya penetapan 1 Mei sebagai Hari Buruh Sedunia, berdampak terhadap para buruh yang kehilangan momen untuk melakukan perjuangan. Meskipun demikian, masih banyak tuntutan yang perlu diajukan. “Tapi kalau kita pakai gaya keras terus, buruh bosen,” katanya.  Tak ayal, Lutfi lantas menyampaikan 12 tuntutan seusai pemberian santunan kepada anak yatim yang juga merupakan rangkain acara. Tuntutan yang mereka ajukan pun beragam, bukan hanya tuntutan 8 jam kerja lantaran itu telah dijamin dalam Undang-undang (UU) No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam pasal 77 ayat (2) jelas disebutkan bahwa jam kerja bagi buruh yaitu 7 jam kerja sehari untuk 6 hari kerja, dan 8 jam  sehari untuk lima hari kerja.

Kenaikan upah minimum kota dan penurunan harga bahan pokok juga menjadi bagian dari kedua belas tuntutan. Demikian pula dengan pemberhentian kriminalisasi buruh dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak. Usai Lutfi membacakan kedua belas tuntutan, penyanyi yang sama dengan pasangan duet pihak keamanan naik ke panggung untuk menggantikan Lutfi yang telah membaca tuntutan. 

Perayaan Hari Buruh di depan Kantor Balai Kota Malang didominasi lantunan lagu dangdut. Lutfi bahkan menegaskan bahwa memperingati Hari Buruh dengan demonstrasi seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak lagi relevan. “Ngapain demo? Dulu bertahun-tahun demo terus kan? Lah, sekarang demo mau ngapain? Kan sudah terpenuhi,” kata Lutfi.  Ia juga menyebutkan tentang keikutsertaan pemerintah, “Kita coba acara lain. Kita ajak pemerintah. Karena masalah ini masalah bersama”.

Setiap zaman memiliki ceritanya masing-masing. Perjuangan buruh di Chicago yang berakhir dengan penembakan, mungkin tak pernah akan dirasakan lagi oleh Lutfi dan kawan-kawannya sesama buruh. Bagaimana tidak, pemerintah Kota Malang telah memfasilitasi sedemikian rupa untuk menekan perlawanan-perlawanan para buruh.

Pekerja seyogyanya memang membutuhkan hiburan untuk keberlangsungan hidupnya. Setelah sehari-hari bergelut dengan mesin dan alat produksi, lantunan lagu dangdut yang dibawakan penyanyi lokal setidaknya bisa menjadi angin segar. Tentunya, asalkan mereka tak lupa akan esensi perjuangan kaum buruh untuk menekan kesemana-menaan pemilik modal.

Pemerintah, selaku pembuat regulasi, setiap tahun juga perlu diingatkan atas peraturan ketenagakerjaan yang tak lagi relevan. Seruan terkait sistem kerja kontrak, kriminalisasi buruh, dan jaminan tenaga kerja tak boleh kalah lantang diteriakkan daripada cengkok para biduan.  Apabila dengan alasan adanya 1 Mei, momen perjuangan para buruh terpenuhi, barangkali mereka harus membuat momen lain untuk memperjuangkan kesejahteraan. Apabila panggung hiburan yang disediakan pemerintah tersebut menghalangi ruang-ruang teriakan, mungkin para buruh memang perlu turun ke jalanan. Dan biar kita saksikan bersama, apa kapitalis sudah kelabakan? [Latifatun Nasihah]


Editor : Ahmad Ilham Ramadhani, Luluk Khusnia


(Visited 15 times, 1 visits today)

Last modified: 22 Mei 2016

Close