Sebagian besar warga Jawa Timur pasti setuju, sebutan Malang adalah kota pendidikan. Sebutan itu mengacu pada banyaknya perguruan tinggi yang ada di kota Malang. Berdasarkan situs pemkot malang, pada tahun 2015 jumlah perguruan tinggi di kota Malang berjumlah 31 lembaga perguruan tinggi. Sedangkan situs ngalam.web.id mencatat ada sekitar 62 lembaga perguruan tinggi di kota apel ini. Ini belum termasuk jumlah perguruan tinggi yang ada di kabupatennya lho!
Saya, tercatat sebagai salah satu alumni perguruan tinggi di kota itu. Pada tahun 2006, kakak tingkat saya waktu masih ngampus dulu bilang begini; di kota Malang ataupun di kabupatennya sering ada komunitas-komunitas diskusi.
Menurutnya aura diskusi dan semangat mencari ilmu kental terasa saat itu. Tapi keadaannya berbeda dengan saat ini. Memangnya sekarang aura diskusi di kota ini sudah meredup? Untuk membuktikannya, saya sering nyambangi kota arema ini.
Saya sendiri saat ini masih bekerja di Pasuruan. Namun waktu liburan lebih banyak saya habiskan di Malang. Saya sering sekadar lewat, ataupun sekadar ngafe di kota dingin ini. Sepertinya di kota Malang saat ini yang lebih terasa bukan aura intelektual dan komunitas diskusi nya. Namun yang terasa aura kongkow-kongkow di cafe-cafe.
Asal tahu saja, sejak tahun 2010 hingga saat ini, jalan Soekarno-Hatta di kota malang dipadati dengan kafe-kafe ataupun tempat makan. Padahal dulu zaman saya kuliah tahun 2006 di jalan soekarno-hatta tidak ada yang namanya cafe mie jogging, mie tomcat, resto pizza hut, ikan goreng pangeran, penyetan suroboyo dan cafe baru lainnya yang saya tidak hafal brandnya satu persatu. Sekarang, cafe-cafe serupa tumbuh subur di jalan soekarno hatta itu.
Asal tahu saja, pemkot Malang mencatat ada 132 jumlah kafe dan resto di kota Malang. Ini jumlah yang terdeteksi oleh pemkot malang. Berdasarkan amatan saya, masih banyak cafe-cafe yang tidak tercantum di data yg diupload oleh pemkot Malang di situs resminya.
Di kota Malang sepertinya yang menjamur kafe, resto dan tempat makan bukan toko buku. Jika kita bandingkan dengan jumlah kafe dan resto dengan jumlah toko buku yang ada di kota tersebut, saya jamin, jumlah kafe dan restolah yang lebih banyak.
Tak percaya? Mari kita ambil sampel jumlah toko buku dan jumlah cafe di UIN Maliki Malang. Di sekitar kampus Islam ini hanya ada 1 toko buku di Bussines Center (BC) UIN Maliki Malang. Kalau cafe dan tempat makannya banyak tersebar di depan, samping, dan belakang kampus ini. Jumlahnya berapa? Banyak! Yang jelas lebih dari 20 cafe dan tempat makan.
Atmosfir seperti ini berbeda dengan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di kampus ini juga lebih banyak cafe dan tempat makannya. Tapi, di samping pagar tembok kampus ini berdiri beberapa lapak yang menjual buku. Tak hanya satu, tapi ada sekitar 7 atau mungkin lebih. Saya tak hitung jumlahnya. Yang jelas lapak atau toko buku itu tersebar di sepanjang jalan di samping pagar tembok kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tak hanya jumlah toko buku yang minim di sekitar kampus di malang, atau di kota malang sendiri. Tapi juga koleksi buku yang dijual di toko buku kota malang. Ini berdasarkan amatan saya, untuk data realnya saya tak survey. Yang jelas, ketika saya waktu kuliah hunting buku, saya kecewa. Saya kecewa karena buku-buku yang ingin saya cari tak tersedia di toko buku di kota malang, termasuk di kawasan willis, salah satu pasar buku yang terkenal di kota ini.
Di kawasan pasar buku Wilis kota Malang, mencari koleksi novel lawas Pramoedya Ananta Toer susahnya minta ampun. Tapi, di blok M Jakarta Selatan justru banyak yang menjual novel-novel lawas karya Pram. Saya nemu buku Sarinah karya Bung Karno cetakan 1947 di blok M Jakarta Selatan, bukan di malang. Saya juga nemu buku Gadis Pantai karya pram cetakan kedua juga di blok M. Padahal blok M itu terminal plus pusat perbelanjaan menengah ke atas, bukan pasar buku.
Nyari buku Madilog karya Tan Malaka di pasar buku Wilis kota Malang, susah nemu. Tapi justru di pasar Senen Jakarta Pusat malah banyak yang jual. Saya menemukan buku The Birth of Tragedy karya Nietzsche justru di Tangerang, di kampus UIN Jakarta, bukan di UIN Malang.
Waktu saya berkunjung ke UIN Jakarta, banyak buku unik yang saya temukan disana. Salah satunya buku Kapital jilid II karya Karl Marx. Saya menghabiskan ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli koleksi buku yang tidak pernah saya temukan di kota Malang.
Jika anda penikmat filsafat, sejarah atau penikmat novel lawas, saya sarankan sekali-kali pelesirlah ke UIN Jakarta, blok M Jaksel, dan Pasar Senen Jakpus. Temukan koleksi buku unik mu. Kota Malang tidak saya rekomendasikan!
Mencari menu makanan dengan resep inovatif mungkin lebih mudah kita temukan di Malang. Tapi mencari buku yg membuat wawasan kita menjadi filosofis agak susah nemunya. Menemukan warung kopi, cafe dan resto dengan menu yang unik sangat mudah di kota Malang. Namun menemukan koleksi karangan Nietzsche, Foucault atau Derrida seperti mencari jarum di rumput.
Mungkin saking susahnya atau memang koleksi tersebut tidak ada di kota ini, ibarat memancing ubur-ubur di danau. Di kota ini, lebih mudah menemukan segerombolan anak muda kongkow-kongkow di cafe-cafe, tempat makan dan warung kopi dari pada menemukan anak muda berdiskusi tentang ilmu pengetahuan di taman-taman kota, atau taman kampus.
Memang, banyaknya toko buku dan koleksi buku bukan satu satunya barometer sebuah kota dijuluki sebagai kota pendidikan. Tapi menurut saya, dengan banyaknya toko buku di sekitar kampus dengan koleksi beragam adalah indikasi bahwa penghuni kota tersebut gemar membaca dan hobby hunting buku buku langka. Kondisi ini menurut saya sedikit banyak menggambarkan atmosfir ilmu pengetahuan yang sedang berkembang.
Dan, dengan melihat kondisi kota malang saat ini yang makin hari makin disesaki oleh cafe, tempat makan dan resto, tanpa diiringi oleh geliat toko buku dan diskusi, masih pantaskah Malang kita juluki sebagai kota pendidikan?
Hendri Mahendra
Last modified: 25 April 2016


Indikasi sebuah kota dikatakan kota pendidikan memang sulit di temui indikatornya. Toko buku di sekitar UIN Malang sendiri tak mempunyai koleksi buku yang memadai. Saya selaku mahasiswa pernah mencari buku karangan dosen UIN sendiri susahnya minta ampun. Selepas dari itu kampus telah rutin mengadakan basar, walaupun hanya kecil kecilan dan yang mengadakanpun dari kalangan mahasiswa sendiri.
Banyak ebook 😀 toko buku kurang relevan. Toko gadget yang lebih relevan, nah banyak kan di Malang, bahkan ada mallnya juga. 😀