Written by 11:26 Esai

Perayaan Natal dan Terorisme

Fotografer : Luluk Khusnia

Fotografer : Luluk Khusnia

Isu-isu teror semakin gencar menjelang perayaan hari besar keagamaan. Terlebih, pada tahun 2015 ini, terdapat dua perayaan yang saling berdekatan. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 24 Desember 2015, dan kemudian perayaan Natal selang sehari setelahnya.

Sebagai bentuk pengamanan atas perayaan hari besar keagamaan, Pemerintah Kota Malang mengerahkan sejumlah 1.100 personel yang bersiaga pada Perayaan Natal dan Tahun Baru 2016. Enam ratus personel berasal dari Kepolisian Resort Malang Kota. Bantuan pengamanan juga datang dari beberapa anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), Organisasi Masyarakat, Dinas Perhubungan, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Pasukan-pasukan dikerahkan untuk melakukan pengamanan di beberapa gereja yang berada di Kota Malang, salah satunya di Gereja Katedral Ijen yang malam itu tengah melangsungkan perayaan Misa Natal (24/12).

Pengerahan pasukan pengamanan bertujuan untuk menghindari terjadinya aksi-aksi teror yang kerap kali terjadi pada sekitar perayaan Natal. Bahkan, tim penjinak bahan peledak pun masih dikerahkan guna menyisir gereja dan mengantisipasi adanya bahan peledak. Para petugas pengamanan juga ditugaskan untuk melakukan patroli demi menjaga keamanan. Khususnya mencegah terjadinya aksi-aksi terorisme yang nantinya dapat menganggu kekhusyukan ibadah umat Nasrani malam itu.

Teror-teror yang terjadi pada sekitar perayaan Natal memang bukan menjadi hal baru. Seperti yang dilansir dari statistik.tempo.co, Badan Intelijen Negara (BIN) menyatakan Indonesia sedang berada dalam siaga satu ancaman teroris setelah penangkapan terduga teroris di enam tempat berbeda pada Jumat-Ahad pekan lalu. Akibat adanya kasus terorisme yang kerap kali terjadi, sekitar 150 ribu personel dari polisi dan TNI dikerahkan untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2016. Bahkan sebelum tahun 2015, masih banyak kasus pengeboman di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan ketika Hari Natal tiba.

Sayangnya, kebanyakan kasus terorisme kerap dikaitkan dengan agama. Seperti kasus teror yang terjadi di Paris beberapa bulan silam. Serangan teror di salah satu pusat peradaban Eropa itu diklaim dilakukan oleh milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) atau yang kerap kali dikenal dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Belum selesai dengan kasus Paris, muncul aksi teror lain di San Bernardino, California, Amerika Serikat. Dua orang bersenjata diketahui telah menembak dan menewaskan sejumlah 14 orang dalam sebuah perayaan menjelang Natal. Lagi-lagi, kasus tersebut masih berhubungan dengan ISIS.

Kasus-kasus terorisme yang kerap dikaitkan dengan agama tersebut sangat disayangkan oleh beberapa pihak. Salah satunya yaitu Nugroho sebagai salah satu pengurus di Gereja Katedral Ijen Kota Malang. “Kalau saya, teroris ya orangnya, bukan agamanya,” ungkap Nugroho. Menurutnya, terkadang teror pun terjadi atas dasar adanya kekuasaan yang melatarbelakanginya. Sehingga, bukan hanya sekedar karena alasan agama. Kalau pandangan saya sih jangan terlalu mengait-ngaitkan, sedikit-sedikit agama, gitu loh,” sarannya.

Selama ini, terorisme sering dikaitkan dengan agama Islam khususnya. Dalam ajaran Islam terdapat konsep jihad. Namun, konon dalam ajaran Islam, jihad diartikan oleh kebanyakan orang sebagai tindakan kekerasan ataupun teror terhadap pihak tertentu, yang berjuang di jalan Tuhan dengan cara yang salah.

Selain itu, terorisme semakin gencar diasosiasikan sebagai aksi radikal umat Islam, salah satunya semenjak terjadi teror bom di Legian, Kuta Bali pada tahun 2002 silam. Pasalnya, teror tersebut terjadi di Indonesia yang notabene-nya sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, dan menjadikan wisatawan asing sebagai sasaran utama teror.

Dalam tulisan berjudul “Terorisme Berkedok Agama” yang diterbitkan m.inilah.com disebutkan bahwa terorisme selama ini terbukti paling mudah berkedok agama untuk mengikat pengikut guna melancarkan gerakan politik ekstrem yang biadab. Maka, masuk akal jika pengamat politik sekaligus Direktur Pelaksana East Preston Islamic College Australia, Esad Alagis, menilai pengeboman di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton 17 Juli 2009 tidak terkait masalah agama, tetapi lebih ke sosial politik. “Saya percaya ini masalah politik di negara ini. Bukan karena masalah Islam,” kata Alagis. Maksudnya, bom teroris adalah pesan politik dan gerakan politik ekstrem.

Nugroho mengaku bahwa dirinya kerap bergaul dengan banyak kalangan. Bukan hanya dengan kalangan Nasrani saja, melainkan dengan kalangan lain seperti Front Pembela Islam (FPI), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dsb.

Dalam dialog lintas iman yang dilakukannya bersama beberapa pegiat Gusdurian Malang selepas perayaan Misa Natal malam itu, Nugroho juga bercerita sempat beberapa kali berdiskusi dengan tokoh-tokoh Islam. Seperti Marzuki Musta’mar misalnya. Bagi Nugroho, teror itu bukanlah tentang agama. Agama tidak pernah menyarankan umatnya untuk berbuat kejahatan, justru memerintahkan berbuat kebaikan. “Bagi saya, teror itu bukan agama, tapi orang yang tidak memahami aqidah agamanya sendiri,” ujar laki-laki yang juga aktif dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) itu.

Senada dengan Nugroho, Jimmy, salah seorang pemuda katolik yang juga hadir dalam dialog malam itu, mengungkapkan bahwa teroris tidak lebih dari sekedar kelompok saja. “Teroris hanya sebuah kelompok yang memakai bungkus agama,” tuturnya. Menurut Jimmy, istilah terorisme sendiri sering disalahartikan, khususnya di Indonesia. Terlebih, ketika terorisme kerap disangkutpautkan dengan agama. Isu terorisme pun pada akhirnya semakin menggema di Indonesia. “Hanya gara-gara isu yang paling gampang memanas itu kan isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan_red),” tambahnya.

Di lain kesempatan, Komunitas Gusdurian Malang yang saat itu membawa misi “Kunjungan Natal Damai, Latihan Menghapus Prasangka” dengan mengunjungi empat gereja di Kota Malang, berusaha memberikan spirit bagi kaum Muslim dan Nasrani agar dapat merayakan Maulid Nabi dan Natal secara berdampingan serta damai. “Saya suka sekali anak-anak muda yang bisa hidup damai berdampingan. Seandainya semua orang berpandangan seperti itu (setiap agama mengajarkan kebaikan_red), akan damai dunia itu,” pungkas Nugroho. [Luluk Khusnia]


Editor : Ahmad Ilham Ramadhani


(Visited 36 times, 1 visits today)

Last modified: 07 Mei 2016

Close