Written by 17:21 Opini

Rindu Malang dari Banyak Sisi

Jaman dulu

Arek Malang yang pernah muda di tahun 1970-an pasti mengingat kejayaan band musik rock-nya. Dentuman musik beraliran rock, metal, dan underground pasti tak pernah redup mengiringi hari mereka. Terutama bagi yang suka aliran musik tersebut, dandanan necis ala rocker, rambut klimis, dan sepatu boot pasti tak pernah ketinggalan. Tiap kali ada pementasan band rock mereka ini selalu hadir, dan terlihat sangar.

Perkembangan musik rock yang cukup maju di Kota Malang menempatkan kota ini sebagai barometer rock tanah air pada masa itu. Lahirlah Bentoel Band, Jaguar, Ogle Eyes, hingga si lady rocker Sylvia Saartje.

Budayawan Kota Malang, Yongki Irawan,  turut mengamati perkembangan musik di kota ini. Ia mengatakan bahwa Malang saat itu memang pantas sebagai barometernya musik rock tanah air. Ia menuturkan, ketika ada pertunjukan musik di kota ini, semua remaja dari penjuru kampung hingga luar Malang berdatangan. Jika ada band rock yang segi musikalitasnya kurang baik, mereka pasti mencibir bahkan melempari sesuatu ke arah panggung.

Hingga saat ini, Kota Malang masih identik dengan itu. Sangar, ekspresif dan terlebih lagi nakal cukup menggambarkan para remajanya. Mungkin jaman itu sudah cukup bergeser mengikuti perkembangan musik di tanah air. Tapi bukan Malang namanya kalau tidak identik dengan kompak dan kegarangannya. Ranah tersebut sudah melebur menjadi satu pada tiap kampung yang ada di Malang.

Aremania adalah potret kebesaran yang cukup menjadi candu bagi orang Malang itu sendiri. Bukan hanya sebutan supporter bagi tim sepak bola Arema. Namun terlebih dari itu, Arema sudah seperti agama yang memasuki denyut nadi kehidupan masyarakatnya.

Di kota ini, kita bakal dengan mudah menemukan tambal ban bernama Arema, tulisan di angkot, tukang bakso, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Warna biru-biru menjadi pemandangan sehari-hari di Kota Malang.

Mengikuti perkembangan band rock tadi. Aremania juga sama-sama lihai dalam menawarkan sebuah identitas. Tak ada yang lebih membuat bahagia di luar selain nonton bola di Stadion Kanjuruhan. Baju kebasaran, syal, dan bendera Arema adalah bukti kecintaannya pada tim sepak bola satu ini. Inilah yang membuat mereka tak pernah berpaling sedikitpun meski kadang prestasi Arema naik-turun.

Kota Malang adalah rumah bagi mereka. Meski gempuran dari ribuan mahasiswa baru terus berdatangan tiap tahunnya. Mencoba untuk belajar Boso walikan, mencicipi baksonya, santai di alun-alun, hingga menghabiskan malam di sekitaran Kayoetangan adalah surga bagi pendatang.

Malang memang memiliki sisi romantisme yang tinggi. Tak mungkin ditemukan di tempat lain saat menikmati asyiknya sore di bundaran tugu ketika bel kereta dari Stasiun Kota Baru terdengar lirih. Begitu juga malam, tak ada malam yang syahdu selain di Jalan Soekarno Hatta (Soehatt). Di sepanjang jalanan Soehatt, ribuan janji pernah berujung disini. Tempat duka dan lara melebur bersama café-café.

Namun kota ini semakin menua, bangunan besar, mall, hingga ruko-ruko seperti tak ada habisnya. Kepadatan ini juga turut terjadi di jalan-jalan khususnya saat pagi dan sore menjelang. Taman-taman kota mulai tampak diperbarui, namun sebagian sangat rawan digusur. Sepertinya warga juga para pendatang harus berkenalan dengan Malang secara mendalam sebelum kota ini benar-benar rapuh.

Kota Malang kini memasuki usia 102 tahun. Tentunya banyak sekali cerita-cerita kecil yang terjadi. Masihkah ingat masa kejayaan Walikota Ebes Sugiono, tenangnya Robet Rene Alberts saat memandu Noh Alam Shah dan kawan-kawan bermain untuk Arema. Juga nonton film dengan sistem Misbar, Gerimis Bubar. Banyak sekali kenangan itu.

Belum lagi daya tarik Topeng Malang yang tersebar dari kawasan Tumpang hingga Pakisaji. Kripik tempe dari kawasan Sanan, juga sentra kuliner di kawasan Sawojajar. Sebagai penutup, jangan lupa belanja di Rombengan Malam (Roma). Meski bekas, tapi tetap berkualitas.

Meski gempuran pendatang yang sulit sekali terkontrol, Malang masih terasa nyaman. Hal ini bisa terlihat dari kampanye toleransi dari banyak orang di kota ini. Kampanye-kampanye kecil macam inilah yang semakin membentuk karakter asli Kota Malang, keras namun damai. Kita pun selalu berharap begitu. Tak ada yang lebih bahagia, selain membuat jatuh hati pada kota ini. Panjang umur Kota Malang.[]

(Visited 146 times, 1 visits today)

Last modified: 22 Mei 2016

Close