Written by 23:36 Opini

Framing Media dan Wajah Pembaca

Media Massa Sebagai Wahyu Pembaca

Media masa sering diibaratkan sebagai surya, memberikan cahaya penerangan di dunia. Dalam hal ini, pengibaratan media sebagai mentari tidaklah muluk-muluk, lantaran peran media memang dianggap sebagai penyampai pesan. Dengan begitu, media mempunyai tempat tersendiri di masyarakat sebagai sumber informasi.

Media pers hadir sebagai kontrol sosial, menjalankan fungsi untuk menyediakan informasi bagi setiap orang yang berada dalam berbagai lembaga sosial. Itulah fungsi dari media pers yang terus melekat dan dijalankan dalam sistem sosial masyarakat.

Dari kedua peran media tersebut, masyarakat berharap media dapat menjadi pendorong dalam membangun fungsinya. Media massa diharapkan dapat menyuplai informasi kepada masyarakat sesuai kebutuhannya.

Bingkai Fakta Lewat Media

Sebelum berharap terlalu banyak pada media massa, cobalah bersikap realistis. Jika melihat sejarah media massa sebagai penyuplai informasi masyarakat, maka media massa mempunyai kemampuan untuk menstruktur informasi. Media dapat memilah berita tertentu dan mengabaikan yang lain. Media membentuk citra dan membingkainya seperti apa yang dikehendaki oleh penulis.

Dalam tulisan Robert M. Entman, disebutkan terdapat empat teknik melakukan pembingkaian berita atau yang kerap disebut framing.  Pertama, problem identifications, yaitu melihat peristiwa dari nilai positif dan negatif. Kedua, causal interpretations, yaitu mengidentifikasi masalah melalui siapa penyebab terjadinya masalah tersebut. Ketiga, treatment recommendations, menawarkan suatu cara penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan penanggulannya. Dan terakhir, moral evaluations, yaitu evaluasi moral penilaian atas penyebab masalah.

Framing merupakan cara media untuk melakukan konstruksi pada sebuah realita atau peristiwa. Peristiwa dipahami bukan sebagai suatu argumen, melainkan wartawan dan medialah yang secara aktif membentuk realita. Sehingga,  realita tercipta dalam konsepsi seorang wartawan. Jadi, sudah sepatutnya menjadi hal yang penting bagaimana media membingkai peristiwa. Pokok utamanya bukan tentang apakah media menampilkan sisi negatif atau positif suatu peristiwa, melainkan bagaimana bingkai yang dikembangkan oleh media terhadap peristiwa.

Salah satu contoh framing yang digunakan media dalam pemberitaan yakni fenomena perseteruan antara taksi konvensional dan taksi online. Berbagai media memberitakan fenomena dalam berbagai bingkai. Solopos.com memberikan judul “Taksi Konvensional Kalah Telak Soal Tarif, PPAD Belum Puas” juga “Uber dan Grab Sudah Gandeng Koperasi, Organda: Belum Cukup!”. Sedangkan detik.com memunculkan pemberitaan dengan judul  Demo Anarkis Sopir Taksi di Jakarta Mendunia”. Dalam solopos.com, framing dikonstruk untuk mengajak pembaca melihat sisi kesulitan yang dihadapi oleh sopir taksi konvensional akibat adanya taksi online yang beroperasi menggunakan media online.  Berbeda halnya dengan framming yang dibentuk oleh detik.com, yang mengulasi tentang betapa anarkisnya sopir taksi yang juga mejadi pendemo saat itu, menuntut untuk dilakukan penutupan aplikasi milik taksi online.

Pembaca Harus Cerdas

Media merupakan subjek yang mengkonstruk realita, lengkap dengan pandangannya, bias, dan keberpihakkannya. Berita terbentuk karena adanya konstruksi realitas. Di sini dapat dilihat bahwa berita merupakan arena pertarungan bagi pihakpihak yang berkaitan dan berkepentingan dengan peristiwa tersebut.

Tugas media memang membuat framing dalam sebuah fenomena dengan menonjolkan sisi tertentu. Kemudian mengabaikan sisi lain dari peristiwa tersebut untuk mendapatkan sebuah tulisan yang sesuai dengan sudut pandang media tersebut.  Framing menyediakan kunci bagaimana peristiwa dipahami oleh media dan ditafsirkan dalam bentuk berita. Sehingga, pembaca seharusnya lebih selektif dalam menyaring fakta-fakta yang disajikan oleh media. Hal ini lantaran media melihat peristiwa dari kacamata tertentu. Sehingga, realitas yang dilihat oleh masyarakat merupakan framing yang telah dibentuk media. [Aniek Nurul Khomariyah]


Editor : Luluk Khusnia


(Visited 35 times, 1 visits today)

Last modified: 07 Mei 2016

Close