Mahasiswa dan satuan pengamanan (satpam) terlibat aksi tarik-menarik atribut demo di depan gedung rektorat UIN Malang (31/5). Aksi penolakan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa baru tahun akademik 2016/2017 ini mendapat sambutan kurang baik dari pihak keamanan kampus.
Sekitar pukul 09.30 WIB, ratusan mahasiswa UIN Malang berjalan menuju gedung rektorat. Mereka membawa berbagai macam atribut demo. Seperti banner dan beberapa kertas bertuliskan “Mahasiswa Miskin Dilarang Kuliah”, “Tolak Kenaikan UKT”, serta berbagai macam tulisan penolakan lainnya. Dengan lantang mereka menyanyikan lagu berjudul Buruh Tani. Terlihat puluhan satpam berjaga-jaga di depan gedung rektorat. Tiba-tiba, salah seorang satpam merampas atribut demo yang dipegang oleh mahasiswa. Mahasiswa dan satpam akhirnya terlibat aksi tarik-menarik atribut demo.
Salah seorang mahasiswa yang ikut demo sangat kesal dengan tindakan yang dilakukan satpam. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Farhan Zain, mahasiswa Fakultas Ekonomi. “Ini dibuatnya menggunakan tenaga, uang juga. Ini namanya menyepelekan aspirasi kami,” ungkapnya sambil memperlihatkan atribut demo yang sudah lusuh.
Hal ini juga diamini oleh Hasan Abdillah selaku koordinator aksi. Ia sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh satpam. Pasalnya, mahasiswa hanya ingin menyampaikan aspirasi dan atribut sebagai gambaran aspirasi dalam bentuk tulisan. “Yang kami tuliskan di atribut itu adalah wujud apa yang kita rasakan,” ujar Hasan.
Ia juga mengatakan bahwa, ketika dari pihak satpam berlaku represif berarti patut menjadi bahan evaluasi bagi tim keamanan. Menurut Hasan, aksi demo yang dilakukan dilindungi oleh hukum karena ada undang-undang yang melindungi penyampaian aspirasi di depan publik. Hal ini memang tertera dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Di dalam pasal 8 tertulis bahwa pihak keamanan berperan serta agar penyampaian pendapat di muka umum berlangsung secara aman, tertib, dan damai.
Menanggapi hal tersebut, Rully NS selaku komandan satpam mengatakan bahwa hal tersebut merupakan spontanitas. “Mereka ngrewuhi (mempersulit_red) tugas saya. Seharusnya kerja saya di sana (pos satpam_red). Gara-gara ada anak-anak ini, saya jadi kerja ekstra di sini (gedung rektorat_red),” tuturnya.
Rully juga mengatakan bahwa sebagai satpam, ia hanya menjalankan amanah. Ia mengaku mendapat instruksi langsung dari semua pimpinan, mulai dari rektor hingga seluruh jajarannya. “Kalau bisa, ya dibubarkan,” tambah Rully.
Namun, Agus Maimun selaku Wakil Rektor Bagian Kemahasiswaan membantah pernyataan Rully. “Tidak ada instruksi pembubaran massa,” ungkapnya. Agus menambahkan bahwa perampasan atribut demo terjadi secara spontanitas. “Dalam psikologi massa, situasi seperti itu pasti mudah memancing emosi orang,” tambahnya.
Saat ditanyai alasan perampasan atribut demo, selain spontanitas, Rully juga mengatakan bahwa aksi demo bertepatan dengan Tes Seleksi Bersama Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). “Nanti terlihat orang tua yang mengantarkan anaknya untuk tes di UIN,” pungkasnya. [Reni Dwi Anggraini]
Last modified: 01 Juni 2016
