
UAPM INOVASI/Uswatun Hasanah
Penerapan absensi sholat di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly (MSAA) UIN Maliki Malang menuai banyak kontra dari beberapa pihak, baik mahasantri maupun pendamping mahasantri. Pasalnya, beberapa di antara mereka menganggap bahwa penerapan absensi sholat hanya sebagai formalitas dan berjalan kurang efektif. “Absensi sholat sebenarnya hanya formalitas saja untuk mengikuti aturan yang ada,” ujar Bagus Putro, salah satu mahasantri mabna Ibnu Sina.
Menurut penuturan Agus Nur Cahyo, salah satu murobbi, penerapan absensi sholat yang dilakukan dalam sholat Subuh dan Maghrib sudah diberlakukan sejak tahun 2007 lalu. Adanya absensi tersebut bertujuan untuk mendisiplinkan dan membiasakan sholat berjamaah, dan untuk melatih kejujuran mahasantri.
Sayangnya, selama ini penerapan absensi sholat tidak berjalan sesuai tujuannya. Hal tersebut lantaran masih terdapat sebagian mahasantri yang masih berlaku curang dengan absen sholat. Seperti yang sempat dilakukan oleh M. Khamami misalnya. Mahasantri mabna Al-Farabi tersebut mengaku pernah meminta temannya untuk mencantumkan namanya dalam absen sholat Maghrib. “Ya pernah (nitip absen_red), soalnya kan baru pulang PPBA, capek, belum mandi, jadi males ke masjid. Makanya aku nitip absen di temen,” ungkap Khamami.
Hal senada juga diungkapkan Elok N.H. Ia kerap mendapati beberapa temannya di mabna tidak melakukan sholat berjamaah di masjid, namun justru mengisi absensi sholat. Oleh karena itu, Elok sempat merasa absensi tidak efektif untuk diterapkan, karena merugikan mahasantri yang sholat berjamaah di masjid. “Lah itu gak mesti kan. Yang absennya full malah yang gak pernah sholat, intinya gak efektif berarti,” ujar Elok.
Kasus-kasus serupa nyatanya juga kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Apridho Hensa, mantan mahasantri tahun 2014, mengungkapkan selama dirinya menjadi mahasantri, banyak dari temannya yang menitip absensi sholat. “Banyak banget yang nitip absen sholat. Ada juga yang absen terus ke kantin, dan yang absen tapi balik ke kamar,” ungkap mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab itu. Lebih lanjut, menurut Apridho, sistem absensi sholat di mabna sangat tidak efektif, karena terkesan percuma dan tidak memberikan efek bagi kebanyakan mahasantri.
Meskipun banyak mahasantri yang merasakan ketidakefektifan adanya penerapan absensi sholat, namun pihak ma’had tetap menerapkannya. Menurut Agus, hal tersebut dikarenakan absensi sholat menjadi salah satu indikator kelulusan mahasantri yang nantinya akan dicantumkan pada sertifikat kelulusan ma’had. “Jadi, suka tidak suka, mau tidak mau, mahasantri harus mengikuti aturan yang ada di ma’had,” tegasnya.
Menanggapi pernyataan Agus, Elok merasa hal tersebut terkesan seperti sebuah paksaan. Menurutnya, ketika mahasantri tidak mengikuti absen sholat, bukan berarti mahasantri itu benar-benar tidak sholat berjamaah. “Caranya (absen_red) kayak maksa banget,” keluhnya. Terlebih, Elok menganggap bahwa absensi sholat tidak bisa dijadikan indikator rajin tidaknya mahasantri dalam melaksanakan sholat. “Lah itu sampai ada sebutan MSAA, ‘Masa Sholat Aja Absen’, kan? Tambah gak karu-karuan, sholat niatnya karena absen,” tambahnya. [Shulhan Zainul Afkar]
Editor : Luluk Khusnia
Last modified: 07 Mei 2016
