Written by • 09:42• Esai

Bukan Dangdut Biasa

Tanggal 9 maret 2016 lalu tak hanya gerhana matahari total saja yang jadi sorotan publik. Karena hari itu juga merupakan hari musik nasional. Untuk memperingati hari musik nasional tersebut, pada hari itu juga metro TV mengundang group musik Efek Rumah Kaca dalam salah satu program Talkshow mereka. Asal tahu saja, grup musik Efek Rumah Kaca bergenre pop indie, walau beberapa orang menyebut mereka band beraliran post-rock.

Menurut saya, ada semacam kenaifan sejarah ketika tim metro TV menghadirkan grup Efek Rumah Kaca dalam rangka peringatan hari musik nasional. Menghadirkan grup musik bergengre pop menurut saya adalah sebuah sikap ahistoris.

Musik bergenre pop, jelas-jelas bukan genre musik yang berasal dari Indonesia. Musik pop berasal dari luar Indonesia. Saya tak tahu pasti kapan lahirnya genre musik ini. Tapi di laman wikipedia.com menuliskan musik pop lahir pasca perang dunia I (tahun 1920) di benua Amerika. Genre musik ini pada saat kelahirannya diringi dengan irama Rhumba, Samba, Conga, Salsa, Mambo dan masih banyak lagi. Dan jelas, jenis irama ini bukan berasal dari negeri Indonesia.

Seandainya saya jadi salah satu tim kreatif Metro TV, saya akan sarankan untuk menghadirkan grup musik atau tokoh dangdut saat perayaan hari musik nasional. Karena, genre musik dangdut lebih mewakili identitas keindonesiaan ketimbang genre musik pop.

Dangdut adalah jenis musik gubahan asli musisi Negeri ini. Dangdut adalah musik asli ciptaan orang Indonesia. Dangdut merupakan perpaduan antara ciri khas lantunan lagu melayu, irama padang dengan dipolesi gendang tabla ala musik india. Walaupun dangdut baru lahir di era tahun 1960an, tapi banyak pihak menilai bahwa dangdut merupakan genre musik dari Indonesia. Menurut saya, akar musik dangdut yang kental dengan lagu melayu, sudah cukup membuktikan bahwa genre musik ini disebut genre musik asli Indonesia. Apalagi genre musik dangdut ini hanya ada di Indonesia, tak ada di negara mana pun genre musik yang serupa dangdut.

Ciri khas dangdut yang masih melekat kuat dengan lagu melayu, mampu menjadi pembeda dengan jenis musik yang lainnya. Dangdut bisa dibilang adalah musik country nya Amerika. Sebagai musik asli kreasi anak bangsa, keberadaan dangdut sebagai genre musik justru tak mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, terutama masyarakat kalangan menengah atas.

Bagi kalangan menengah atas, dangdut dinilai sebagai musik kampungan, lirik lagunya dangkal dan tak berseni tinggi jika dibandingkan musik pop. Kalangan menengah atas akan kelihatan lebih keren dan ber’kelas’ jika menggemari musik pop, sebaliknya terkesan lebih kampungan jika menggemari musik dangdut.

Padahal, justru musik dangdut memiliki kualitas yang lebih tinggi dibanding musik pop. Dalam musik dangdut, harmonisasi alat musik tak hanya gitar, tapi juga dipadukan dengan gendang dan seruling. Sedangkan harmonisasi dasar alat musik pop hanya gitar dan drum saja. Artinya dari perpaduan alat musik, jelas dangdut memiliki perpaduan alat musik yang lebih lengkap ketimbang musik pop.

Dari cara menyanyi, dangdut juga memiliki kelebihan yang tak dimiliki genre musik pop. Genre musik pop cukup dinyanyikan dengan nada rendah dan nada tinggi yang benar, maka sudah dapat dibilang nyanyinya udah nge-pop. Tapi, tidak begitu dengan dangdut. Musik dangdut harus dinyanyikan dengan nada rendah dan nada tinggi yang benar lalu wajib dipoles dengan cengkok, baru bisa dibilang nyanyinya sudah dangdut.

Tak hanya itu. Kelebihan musik dangdut lainnya adalah keragaman aliran. Dangdut era reformasi memiliki banyak aliran. Sebut saja aliran dangdut pop, dangdut rock, dangdut koplo, dan dangdut klasik (original). Sedangkan pop? Aliran musik pop di Indonesia ya hanya pop (original) saja, tak ada aliran pop lainnya di Indonesia.

Kelebihan musik dangdut lainnya yaitu originalitas. Tak ada genre lainnya di belahan bumi manapun yang menyerupai dangdut. Genre musik dangdut, kiblatnya ya hanya Dangdut yang ada di Indonesia. Sepertinya tak ada orang diluar Indonesia yang menyanyikan lagu dangdut sebaik orang Indonesia. Beda dengan genre musik pop. Genre ini kiblatnya ada diluar Indonesia. Kiblat pop salah tiganya ada di Michael Jackson, Mariah Carey, dan Adele. Musisi pop Indonesia akan merasa bangga diri, jika duet sama ketiga artis pop luar negeri tersebut. Dan, saya pikir musisi dangdut semacam Rita Sugiarto dan Lesti, tak akan memiliki perasaan bangga diri jika duet dangdut dengan Adele ataupun Mariah Carey. Karena jelas, dua musisi luar negeri tersebut tak akan mampu menyaingi cengkok Rita Sugiarto dan Lesti.

Originalitas dangdut sebagai genre musik asli Indonesia, harusnya menjadi pilihan oleh tim kreatif Metro TV dalam memperingati hari musik nasional. Tapi, sepertinya para redaktur di metro TV tak banyak yang paham sejarah musik di Indonesia. Alih-alih ingin terlihat keren dan berbobot mengahdirkan Efek Rumah Kaca, metro TV malah terlihat buta sejarah. Sekian.[]

Hendri Mahendra

(Visited 71 times, 1 visits today)

Last modified: 02 April 2016

Close