Written by 14:58 Esai • 2 Comments

Sabda Kebencian Tere Liye

Netizen (warga dunia maya) heboh. Pasalnya seorang penulis terkenal, Tere Liye membuat pernyataan kontroversial di dinding facebooknya. “Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama. Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari,” tulis Tere Liye, yang lahir dengan nama Darwis.

Sontak, pernyataan provokatif itu jadi bahan perbincangan dan perdebatan di dunia maya. Ada yang mendukung, dan ada yang menolak. Dukungan atas pernyataan Tere Liye jelas banyak. Anggota fans page facebooknya saja 1,3 jutaan akun. Bahkan netizen sekaliber Arman Dhani yang tulisannya kerap membela buruh saja membela Tere Liye. Yang menolak mentah-mentah pernyataannya juga banyak, tapi mungkin tak sebanyak akun yang menyukai fans page facebook Tere.

Ketika Tere Liye nulis status tentang kaum ulama yang banyak berjasa dalam kemerdekaan RI, dan terkesan mengenyampingkan peran komunis dan sosialis, saya tak terlalu terkejut. Karena apa yang ia katakan hampir sama persis seperti pernyataan kelompok pembenci komunis pada tahun 1965.

Pasca Partai Komunis Indonesia (PKI) dituding sebagai dalang pembunuh para Jenderal di lobang buaya pada peristiwa G30S 1965, ‘sabda-sabda’ yang mengatakan; PKI tak punya jasa apapun terhadap kemerdekaan RI, ramai dikumandangkan. Jadi menurut saya, Tere Liye hanya mengulang sejarah. Ia hanyalah reinkarnasi dari ide-ide kelompok pembenci komunis pasca tragedi G30S 1965.

Sebagai orang yang cukup sering nulis status sinisme terhadap PKI (komunis), ia bisa dibilang kelompok phobia-komunis zaman orde baru. Dan, ketika Tere mengeluarkan pernyataan atau idenya tentang komunis, bisa dipastikan ide yang keluar dari pikirannya adalah ide kebencian dan emosi marah pada komunis.

Saya tak mengada-ada. Pasalnya pada 30 September 2015 lalu, Tere juga pernah menulis status tentang kekejaman PKI yang ia nilai membunuh anak 5 tahun bernama Ade Irma Suryani pada saat tragedi G30S 1965. Ia mengajak pembaca statusnya untuk mengutuk PKI atas tindakan pembunuhan tersebut. Walaupun mungkin ia tak pernah meneliti sendiri, apakah PKI pelakunya, atau oknum ABRI.

Tak hanya itu, pada 26 Januari 2016 ia menuliskan lagi perasaan bencinya pada komunis. “Catat ini baik-baik, buat siapapun yang ingin bersilat lidah atas kekejaman komunis, ketahuilah, di dunia ini, berserakan bukti, berjuta orang mati, di berbagai negara, akibat bengis dan ambisiusnya kelompok komunis berkuasa,” tulis Tere ketika membahas tentang tentara Khmer ‘komunis’ merah di Kamboja. Padahal jika mau jujur, baik umat kristen maupun islam melakukan hal serupa ketika merebut kekuasaan. Di daratan Eropa abad III hingga abad X banyak melakukan pembunuhan umat manusia atas nama agama. Umat islam juga punya kisah kelam ketika memperebutkan kekuasaan setelah Nabi Muhammad meninggal. Mungkin bagi kita umat Islam tak asing lagi dengan perang karbala yang menewaskan cucu Nabi, hanya untuk merebut pengaruh dan kekuasaan. Artinya baik komunis, umat Kristen dan Islam sama-sama pernah gelap mata kalau berurusan dengan perebutan kekuasaan.

Tapi, di mata Tere Liye sepertinya hanya komunis lah yang paling kejam dan sadis. Padahal pasca tragedi G30S 1965 hampir seluruh warga komunis dibantai secara sadis, walau belum tentu terlibat dalam gerakan yang dikomandoi oleh letkol Untung tersebut.

Ketika menulis hal-hal berbau komunis, tampaknya Tere Liye tak mendahulukan pikiran dan hatinya yang jernih, tapi lebih mendahulukan pikiran dan hati yang diselimuti kebencian. Maka otomatis ketika bicara komunis, pernyataan emosi marah dan bencilah yang muncul. Ketika seseorang marah dan benci pada anda, jasa-jasa anda pasti tertolak dari ingatannya. Sepertinya fenomena psikis ini juga yang dialami oleh Tere Liye ketika menulis status di akun facebook nya.

Sikap Tere Liye sebagai pembenci komunis, otomatis menjauhkan ia dari pernyataan yang adil dan bebas nilai. Ia sudah jelas-jelas meremehkan jasa komunisme dan sosialisme dalam merebut ibu pertiwi dari penjajah Belanda dan Jepang. Ia terkesan menolak mentah-mentah bahwa kelompok komunis dan sosialis berjasa dalam merebut kemerdekaan. Ia menulis “silahkan cari,” jasa kelompok komunis dan sosialis dalam kemerdekaan RI.

Untungnya Soekarno sudah lama wafat. Jika bung besar ini masih hidup, dan membaca status facebook Tere Liye yang meremehkan jasa komunis, saya yakin ayah kandung Megawati ini akan marah besar. Sebab, Soekarno pernah menolak secara terbuka, ketika ada kelompok yang bilang PKI tak punya jasa apapun dalam kemerdekaan. “Kalau ada orang berkata, kom (komunis) tidak ada jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, aku telah berkata pula berulang-ulang, malahan di hadapan partai-partai yang lain, dan aku berkata, barangkali dari semua parpol-parpol, diantara semua parpol-parpol, ya baik dari Nas (Nasionalis) maupun A (agamais), tidak ada yang telah begitu besar korbannya untuk kemerdekaan Indonesia daripada golongan Komini, katakanlah PKI, saudara-saudara,” kata Soekarno.

Saya setuju baik agamawan, sosialis dan komunis berjasa bagi kemerdekaan RI. Tapi kalau disuruh untuk membandingkan jasa siapa yang lebih besar, Bung Karno punya jawabannya. Menurut Bung besar, pengorbanan kelompok komunis lah yang lebih besar dibandingkan perjuangan kelompok nasionalis dan agamais (ulama). Karena Soekarno pernah mengalami penderitaan di penjara bersama-sama dengan warga komunis yang dipenjara seumur hidup oleh Belanda. Warga komunis tersebut dihukum seumur hidup karena mencoba berjuang merebut ibu pertiwi dari jajahan Belanda pada tahun 1927.

Selain itu, Ideologi komunisme dapat membaca secara langsung penindasan yang dilakukan oleh Belanda. Menurut Akhol Firdaus, pengkaji filsafat dan sejarah, bahwa penjajahan (kolonial) adalah bentuk kepanjangan tangan dari kapitalisme. Sedangkan kapitalisme sendiri adalah musuh utama komunisme. Makanya di penghujung tahun 1965, saat ulang tahun Antara, Soekarno menyatakan bahwa Indonesia itu terlahir sebagai bayi yang kiri. Karena terlahir sebagai bayi yang kiri, maka “tak mungkin membelokkan cita-cita ibu pertiwi ke kanan,” kata bung Karno. Kiri sendiri adalah sebutan untuk ideologi yang bertentangan dengan kapitalisme dan kolonialisme (paham penjajahan), yakni komunisme dan sosialisme.

Tere Liye boleh tidak setuju dengan pengakuan Soekarno tersebut. Tapi kebenciannya pada komunis dan sosialis harusnya tak membuat kecerdasan dan logika berpikirnya jadi kacau balau.

Tingkat kacau balau berpikir Tere Liye ini menurut saya sudah cukup akut. Alih-alih ingin terlihat keren nulis status, tapi yang tertampil adalah kerancuan berfikir. Bagaimana bisa ia mempertanyakan jasa kelompok pembela HAM dalam kemerdekaan? Konsep HAM sendiri baru masuk ke Indonesia pada tahun 1970an. Lalu kok bisa-bisanya Tere Liye mempertanyakan jasa kelompok pembela HAM dalam merebut ibu pertiwi?

Kekacauan berpikir Tere Liye juga termanifestasi dari tudingan yang seolah-olah menyatakan bahwa kelompok komunis dan sosialis adalah orang tak beragama, tak religius. Perhatikan alinea pertama status kontroversi Tere tersebut. Di alinea pertama, ia menilai bahwa Indonesia merdeka karena jasa tiada tara dari para ulama, diteruskan dengan kalimat “orang-orang religius, beragama.”

Nah, bagaimana bisa penulis novel best seller ini seolah-olah menuding bahwa hanya kaum ulama saja yang religius dan beragama? Asal tahu saja, PKI lahir dari organisasi Serikat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto. Rasanya terlalu naif jika beranggapan bahwa penganut paham komunis dan sosialis adalah orang ateis (tak beragama-tak bertuhan). Penganut paham komunis sekaliber H. Misbach tentu akan ngelus dada kalau kereligiusannya dipertanyakan. Tan Malaka pasti akan galau 7 hari 7 malam jika dituding tak beragama. Dan, penganut paham sosialis sekaliber HOS Tjokroaminoto pasti akan ngenes kalau dinilai tak bertuhan tak beragama.

Kekacauan berpikir penulis novel Hujan ini ditutup dengan ungkapan bahwa paham komunis dan sosialis adalah paham dari luar Indonesia. “Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan,” tulisnya.

Dalam penutup status kontroversinya itu, Tere menilai bahwa paham komunis dan sosialis adalah paham dari luar Indonesia. Saya tak setuju. Indonesia itu lahir tahun 1945, sedangkan Islam, Kristen, komunisme dan sosialisme sudah ada sebelum Indonesia lahir sebagai negara dan bangsa. Logikanya, jika suatu bangsa terlahir dengan segala ideologi yang ada di dalamnya, maka ideologi-ideologi yang ada sebelum ia lahir merupakan bagian dari bangsa itu sendiri. Jika Tere menilai paham komunis dan sosialis bukan bagian dari Indonesia, harusnya agama Islam juga dinilai sebagai entitas yang berasal dari luar Indonesia.

Kekacauan lain dari Darwis Tere Liye adalah nasehatnya pada anak muda. Ia menyarankan pada anak muda agar jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, padahal ia sendiri menggunakan paham luar (bahasa India) dalam nama penanya. Mungkin nama pena “Tere Liye” terkesan keren sekali buat Darwis Tere Liye. Saran saya, untuk mengurangi tingkat kacau balau dalam dirinya, sebaiknya Tere Liye jangan ngurusi sejarah dan politik. Sebaiknya dia kembali fokus nulis sastra. Sumpah! Quote-quote sastrawi nya keren banget! Sekian.[]

 Hendri Mahendra

(Visited 187 times, 1 visits today)

Last modified: 02 April 2016

Close