Written by • 08:53• Esai • One Comment

Bukan Teroris Biasa

45

Mengkaji terorisme bukan perkara mudah. Paling tidak itu yang saya alami ketika akan menulis tentang fenomena ini. Tapi bagi beberapa orang, menulis tentang terorisme ini terkesan mudah. Salah satu penulis yang menulis tentang terorisme adalah Tasrif Mansur.

Pada 19 Januari 2016 lalu Tasrif menulis tentang terorisme di situs mojok.co. Judul tulisannya cukup provokatif; “Bersikap Adil” kepada ISIS. Judul ini tak hanya sekadar kiasan untuk menarik minat netizen untuk membaca tulisannya. Tapi, benar-benar sebuah ajakan untuk bersikap adil dengan memahami psikologis, motif dan aksi gerakan teror ISIS dari perspektif cita-cita gerakan kiri; revolusi.

Dalam tulisannya, Tasrif menegaskan bahwa dalam sudut pandang revolusi, aksi teror adalah hal lumrah yang harus dilakukan, walaupun menimbulkan korban dan pertumpahan darah. Ia menilai gerakan ISIS ada karena ketidakpuasan terhadap pemerintahan Irak yang didikte oleh Amerika Serikat. Ia sepertinya ingin mengajak pembaca (gerakan kiri) untuk memposisikan diri sebagai pendukung ISIS yang membenarkan tindakan ISIS sebagai bentuk gerakan revolusi yang benar-benar murni untuk pendirian negara khilafah islam.

Tak hanya itu, untuk menguatkan argumentasinya, Tasrif menyajikan analogi dari gerakan para tokoh Indonesia. Analoginya seperti ini; Soekarno dianggap “teroris” oleh Belanda tapi dianggap pahlawan oleh rakyat Indonesia, Kartosuwiryo dianggap “teroris” oleh presiden Soekarno tapi dianggap pahlawan oleh pengikut-pengikutnya yang berideologi konsep negara Islam.

Menurut saya, ada yang luput dari amatan Tasrif ketika bicara masalah terorisme ini. Tasrif terkesan naif jika menganggap gerakan ISIS adalah gerakan murni untuk kebangkitan negara Islam di Irak dan Suriah. Saya bisa saja memposisikan diri sebagai pendukung ISIS jika memang gerakan mereka murni untuk tegaknya negara Islam. Tapi, abad posmodern ini menuntut saya untuk tak mudah percaya saja dengan berbagai realitas yang tersaji di ruang sosial. Realitas tak bisa dengan naif dipandang dengan sudut pandang yang dangkal. Suatu peristiwa atau fenomena tak melulu selaras dengan realitas yang sebenarnya.

Saya tak dapat begitu saja setuju dengan Tasrif ketika ia secara implisit menyebut ISIS sebagai sebuah gerakan “revolusi” untuk memperjuangkan ideologi negara Islam. Ada beberapa kejanggalan setelah ISIS eksis disebut sebagai teroris.

Sebelum mendedah kejanggalan ISIS sebagai gerakan pendirian negara Islam, saya akan menunjukkan kejanggalan gerakan terorisme yang eksis sebelum ISIS; kelompok Al Qaeda. Ini penting, karena Al Qaeda memiliki misi yang sama dengan ISIS.

Nama Al Qaeda populer di seluruh dunia pasca tragedi 11 September 2001. Pasca tragedi yang meruntuhkan gedung kembar WTC dan menewaskan sekitar 3000 warga AS itu, Al Qaeda langsung dituduh sebagai pelakunya.

Osama bin Laden selaku pimpinan Al Qaeda tak pernah secara tegas dan kontinyu menyangkal tuduhan pemerintah AS tersebut. Walau ia pernah satu atau dua kali menyangkal keterlibatannya di tragedi 11 September, tapi sebagian besar warga AS percaya bahwa Al Qaeda pelakunya. Warga AS percaya, karena massifnya pemberitaan dari media di AS yang menuding Al Qaeda sebagai dalangnya.

Saat ini, setelah belasan tahun pasca tragedi 11 September, beberapa warga AS yang skeptis mulai curiga pemerintah mereka bekerjasama dengan Al Qaeda untuk membuat teror. Salah satu buktinya ialah pernyataan dari seorang warga AS yang menuturkan dekatnya hubungan keluarga George WalkerBush (presiden AS saat itu) dengan keluarga Osama bin Laden. “Pada tahun 1976 kakak Osama, Salim bin Laden menyewa seorang pria bernama Jim Bath di Texas untuk menangani seluruh investasi bin Laden di Amerika Serikat. Secara kebetulan Jim Bath merupakan kawan akrab George W. Bush (Bush Junior).” kata Michael Ruppert, Former Los Angeles Police Officer.

Michael Ruppert bahkan menegaskan bahwa pemerintah AS sengaja berkomplot dengan Al Qaeda untuk membuat perang. Perang ini nantinya akan menguntungkan keluarga Bush junior dan perusahaan keluarga bin Laden. “Hubungan antara keluarga bin Laden makin jelas ketika George Herber Walker Bush melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada 1998 dan 2000 untuk bertemu keluarga bin Laden atas permintaan perusahaan yang bernama Grup Carlyle,” tambahnya. Asal tahu saja, Grup Carlyle sendiri adalah perusahaan kontraktor alat-alat perang.

Kecurigaan Michael Ruppert atas keluarga Bush dan bin Laden yang merencanakan perang, bukan isapan jempol belaka. Pada tahun 2003 dimulai invansi ke Irak melawan pemerintahan Saddam Husein. Perang melawan Saddam sudah diisyaratkan oleh presiden AS Bush junior ketika memberikan konferensi pers beberapa hari pasca tragedi 11 September 2001. “Tentu saja kita mengejar Saddam Husein, maksud saya bin Laden, dia, dia, dia,” kata Bush.

Ketika memberi keterangan terkait teror 11 September, Bush junior sepertinya mengalami slip of the tounge. Niat hati menyebut akan mengejar Osama bin Laden (yang dianggap sebagai dalang teror), tapi malah menyebut nama Saddam Husein sebagai target sasaran.

Apa itu slip of the tounge? Menurut Sigmund Freud, slip of the tounge adalah salah satu bentuk ekspresi pikiran dan emosi yang terpendam di alam bawah sadar. Slip of the tounge dapat muncul sewaktu-waktu tanpa disadari oleh individu. Sepertinya, Saddam Husein sudah jadi target sasaran Bush junior sebelum peristiwa 11 September 2001. Pengejaran terhadap Saddam Husein yang satu paket dengan invansi ke Irak sepertinya menjadi pikiran dan hasrat terpendam Bush Junior. Pikiran dan hasrat yang terpendam ini yang kemudian muncul lewat perisitiwa psikis slip of tounge saat Bush junior memberikan keterangan tentang teror 11 September 2001. Kebenaran tentang hasrat terpendam mantan presiden AS itu terbukti pada tahun 2003.

Bush junior pada 2003 benar-benar merealisasikan hasrat dan pikiran terpendamnya itu; mengejar Saddam Husein dan menginvansi Irak. Padahal pada tahun 2001 pemerintah AS tidak pernah mengabarkan ke publik untuk mengejar Saddam sekaligus menginvansi Irak.

Selain peristiwa slip of the tounge Bush tersebut, hal lain yang janggal dari teror 11September 2001 adalah peristiwa robohnya gedung kembar WTC. Pada tahun 2001 lalu, mungkin sebagian besar masyarakat dunia percaya bahwa ledakan pesawat yang dihantamkan ke gedung WTC lah yang menyebabkan gedung megah itu runtuh, terjun bebas dan rata dengan tanah. Namun, saat ini sudah banyak peneliti independen AS menyatakan bahwa bukan pesawat yang dibajak Al Qaeda yang meluluhlantakan gedung kembar WTC, namun bom yang sudah ditanam disana lah yang membuat gedung itu hancur lebur. Ini dibuktikan lewat video amatir detik detik rubuhnya gedung WTC yang sudah banyak beredar di youtube.

Selain dari hasil investigasi peneliti independen, rubuhnya gedung WTC juga bukan karena pesawat yang dihantamkan ke gedung. Bangunan megah WTC tak mungkin rubuh hanya karena hantaman pesawat boeing 707. “Kami merancang bangunan yang mampu menahan tabrakan dengan Boeing 707 pada bagian manapun,” kata Les Robertson, salah satu arsitek gedung WTC mengomentari peristiwa 11 September.

Itu lah beberapa kejanggalan yang ada dalam tubuh Al Qaeda dan ‘aksi’ mereka dalam peristiwa 11 September 2001 lalu. Selain hal janggal itu, ada pola perilaku pemerintah AS yang hampir mirip dengan gerakan teror yang saat ini eksis; ISIS.

Pasca peristiwa 11 September 2001, pemerintah AS memperkenalkan dan mempopolerkan diksi ‘Teror’ dan ‘Teroris’ kepada dunia. Pasca tragedi memilukan itu, pejabat publik dari presiden hingga para Jenderal AS selalu dan acapkali menyebut diksi ‘teror’ dan ‘terorisme’ dalam setiap konferensi persnya.

Terus terang, sejak saya lahir hingga sebelum tragedi 11 September 2001 terjadi, saya tak pernah mendengar diksi ‘teror’ dan ‘teroris’ dipakai oleh media untuk menggambarkan aksi kelompok yang melakukan tindakan kriminal atau melawan suatu negara.

Pada zaman orde baru (pemerintahan Soeharto) tindakan kriminal dan chaos yang paling terkenal adalah, kelompok orang yang ingin memperkaya dirinya sendiri lewat merampok dan membunuh. Tak ada konsep ideologi tertentu dalam gerakan mereka. Di zaman orde baru kelompok ini dikenal dengan nama kelompok Jhonny Indo. Sebutan mereka pun bukan teroris, tapi bromocorah. Sedangkan pada zaman orde lama (pemerintahan Soekarno) tak ada istilah terorisme bagi pelaku kriminal dan penentang negara. Yang ada ialah sebutan ‘pemberontak’ dan gerakan ‘kontrarevolusi’. Salah satu pemberontak negara di zaman orde lama ialah gerakan PRRI permesta dan gerakan khilafah islam pimpinan Kartosuwiryo.

Baru pasca tragedi 11 September 2001 saya mendengar diksi ‘teror’ dan ‘terorisme’ berseliweran diruang publik (televisi, media cetak, media daring). Lalu apa kaitannya dengan perilaku ISIS?

ISIS juga berperilaku layaknya pemerintah AS ketika intens mengkampanyekan diksi ‘teror’ dan ‘terorisme’. Bedanya, ISIS tidak mengkampanyekan diksi tersebut, namun mengkampanyekan kebengisan dan kekejaman mereka.

Mereka ‘konsisten’ mengkampanyekan aksi potong kepala wartawan asing dan aksi potong kepala anggota mereka yang dianggap murtad. Perilaku kejam yang membuat orang-orang bergidik ini dilakukan terus menerus layaknya pemerintah AS mempopulerkan diksi ‘teror’ dan ‘terorisme’.

Perilaku ISIS ini sebenarnya tak menguntungkan ISIS secara personal branding. Perilaku kejam yang dengan sengaja ditampakkan ke publik lewat dunia maya akan membuat orang orang takut dan tidak ingin masuk kelompok mereka.

Asal tahu saja. Media-media di Amerika Serikat cukup sukses membuat citra kelompok dengan ideologi khilafah Islam sebagai teroris yang kejam. Al Qaeda sudah bertahun tahun dianggap kelompok teroris yang kejam, bahkan sebagian warga AS menilai Islam adalah agama teroris. Padahal umat Islam di luar organisasi Al Qaeda belum tentu teroris pula seperti Al Qaeda. Namun, citra yang buruk kepada Islam ini justru makin dikuatkan dan diperagakan oleh ISIS lewat aksi mereka yang lebih brutal dari Al Qaeda. Menurut saya, ini merupakan suatu kejanggalan ISIS lainnya.

Hal lain yang tak kalah janggalnya ialah aksi ISIS menyerang Paris. Penyerangan Paris harusnya tak dilakukan ISIS jika mereka ingin menegakan negara khilafah Islam. Karena misi utama ISIS ialah mendirikan khilafah Islam di Irak dan Suriah. Bagaimana mungkin jika negeri mereka (Irak dan Suriah) sendiri belum berhasil mereka kuasai, tapi sudah ngobok-obok negeri orang lain. Ini indikasi jelas bahwa ISIS hanya mengambil sikap sebagai tukang teror (hanya menyulut rasa takut), bukan ingin memperjuangkan ideologi khilafah mereka.

Sedangkan hal yang paling janggal dari keberadaan ISIS ialah perilaku slip of the tounge presiden AS Barrack Obama. Pada 8 Juli 2015 lalu Obama menyatakan dalam konferensi persnya, bahwa “kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar.” ISIL adalah sebutan lain ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS.

Slip of the tounge yang menyebut pemerintah AS lah yang melatih ISIS, sepertinya membuka rahasia siapa dalang dibalik gerakan ISIS. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa Bush junior (mantan presiden AS) juga mengalami slip of the tounge saat memberikan keterangan terkait teroris. Ia berniat menyebut akan memburu (memerangi) Osama bin Laden, tapi yang terucap adalah perburuan Saddam Husein. Dan, perburuan Saddam Husein benar-benar terjadi. Lalu bagaimana dengan peristiwa Barrack Obama yang menyebut pemerintah AS melatih ISIS? Apakah Obama benar-benar murni salah sebut, atau ia sedang mengalami peristiwa slip of the tounge seperti Bush Junior? Waktu akan menjawab, kita tunggu saja.

Tapi, dari kejanggalan-kejanggalan tersebut saya tidak bisa percaya bahwa ISIS adalah gerakan yang diorganisir secara independen tanpa ada campur tangan AS. Kejanggalan tersebut sudah cukup buat saya untuk curiga bahwa ISIS bukanlah gerakan dengan misi pendirian khilafah Islam.

Nah, saya pikir kejanggalan-kejanggalan ISIS inilah yang luput dari amatan Tasrif Mansur ketika ia mengajak pembacanya untuk “bersikap adil” kepada ISIS. Tasrif sepertinya terlalu naif jika beranggapan gerakan ISIS adalah gerakan ‘revolusi’ untuk menegakkan khilafah Islam. Terlalu ceroboh jika berasumsi ISIS muncul atas reaksi sikap AS yang mendikte pemerintah Irak. Padahal, bisa saja AS lah dalang dibalik ISIS. Sekian.[]

Hendri Mahendra

(Visited 49 times, 1 visits today)

Last modified: 22 Mei 2016

Close