Written by 20:20 Berita Malang

Cuman “Kemaluan” Yang Boleh Ditutupi

Pemutaran dan diskusi film Senyap di Warung Kelir Kota Malang bubar. Salah seorang hadirin yang mengaku sebagai keluarga korban Partai Komunis Indonesia (PKI) menuntut agar pemutaran film dihentikan. “Tolong hentikan film ini! Saya sebagai anak dari korban komunis tidak rela film ini diputar,” teriak Haris Nur Cahyo. Pria bersorban putih yang juga mengaku sebagai anggota LSM Pribumi ini menuturkan film tersebut akan menimbulkan kontra publik. “Film ini dapat menetralisir sejarah, seakan-akan tidak berbahaya bagi bangsa. Saya melihat film ini di share di publik dan dapat menimbulkan kontra, tolong hentikan!” teriaknya lagi. Akibat ulahnya, panitia akhirnya benar-benar menghentikan pemutaran film.

Tak hanya itu, ketua RT dan RW setempat malah membubarkan kegiatan di warung Kelir. Pengunjung dipaksa untuk meninggalkan warung. “Ada pemutaran film PKI terbaru, versi Amerika, isinya mungkin menuntut HAM. Nanti kalau bergejolak gimana?”, ujar Gunarno, selaku ketua RW setempat. Ia pun mendapat informasi adanya pemutaran film dari badan inteligen. “Iya saya dapat info langsung dari Kodam tadi siang”, tambahnya.

Larangan ketua RW dan ulah Haris tampaknya menunjukkan masih adanya ketakutan bangsa Indonesia terhadap PKI. Bagaimana tidak, sejarah yang ditampilkan di buku sejarah sekolah tingkat dasar selama ini memunculkan stigma PKI sebagai sesuatu yang jahat dan mengerikan. Orang-orang PKI dituduh sebagai pembunuh keenam Jenderal dan tokoh-tokoh agama kala itu. Seperti dalam salah satu adegan film Senyap, ketika anak dari tokoh utama mendapatkan pelajaran sejarah di sekolahnya.

Stigma itu pun begitu tertanam dalam diri Haris. “Ayah saya sendiri, Nur syamsu, pelajar di jalan Bandung. Dulu ditangkap,” ceritanya. Ia juga sempat melihat foto korban-korban komunis dipajang di pondok pesantren. Ada foto kyai digantung terbalik dengan kedua kaki terikat. Lalu ia menegaskan bahwa tak perlu mengungkap kembali cerita masa lalu, “Untuk apa merusak masa depan dengan masa lalu,” ujarnya.

Film Senyap yang tak jadi ditonton itu sendiri mengungkapkan fakta lain tentang PKI. Terungkap fakta-fakta pembunuhan kejam oleh warga suruhan Tentara Republik Indonesia (TNI) di daerah sungai Ular provinsi Aceh. Mereka (warga yang diduga PKI_red) dipenjarakan dan dibunuh tiap 20 orang per malam. “Iya ratusan orang yang kita bunuh,” ujar salah satu pembunuh yang tak disebutkan namanya. Adik Ramli menuntut beberapa pembunuh bercerita. Ramli adalah salah satu warga Aceh yang diduga anggota PKI. Sayang, beberapa narasumber malah marah dan menunjukkan raut tak suka.

Sejarah atas PKI memang telah dipublikasikan dimana-mana. Buku-buku dan media massa mengungkapkan cerita menurut versinya masing-masing. Masyarakat sekarang akhirnya hanyut dalam cerita yang telah diceritakan ulang. Tak ada larangan bagi siapapun untuk bercerita termasuk munculnya Film Senyap. Haris el mahdi, selaku seorang sosiolog yang juga hadir di Warung Kelir malam itu menegaskan bahwa sejarah itu tidak boleh ditutupi, hanya agar sejarah itu tidak terulang lagi. “Cuman kemaluan yg boleh ditutupi,” kelakarnya lalu disambut gelak tawa para pengunjung. [Anisatun Solihah]

(Visited 17 times, 1 visits today)

Last modified: 10 Juli 2015

Close