Farmasi merupakan jurusan yang baru dibuka tahun 2013. Dibukanya jurusan ini mengacu pada rencana strategi pengembangan UIN Maulana Maliki Malang, untuk menyiapkan jurusan berbasis ilmu kesehatan. Rencana ini kemudian direalisasikan dengan diterbitkannya surat keputusan (SK) bernomor 2753 yang ditetapkan pada tanggal 17 Desember 2012 oleh Dirjen Pendidikan Islam. SK tersebut berisikan izin penyelenggaraan jurusan Farmasi Strata satu (S1) di UIN Maliki Malang.
Meski jurusan Farmasi masih baru, pendaftarnya memiliki antusias yang tinggi. Untuk jalur Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (SPAN-PTAIN) misalnya, dengan kuota hanya lima kursi yang tersedia, tercatat sekitar 1693 pendaftar. Dengan kata lain, setiap pendaftar harus bersaing dengan 338 pendaftar lainnya. Belum lagi terdapat enam jalur lainnya, yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Ujian Masuk Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (UM-PTAIN), Mandiri tulis, Mandiri prestasi dan jalur Mandiri luar negeri.
Sayangnya, tingginya antusias tersebut tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai untuk menunjang pembelajaran di Farmasi. “Di segi fasilitas, kelihatan banget kalau masih kurang,” ujar Lisa Damayanti mahasiswi jurusan Farmasi semester dua. Lisa mengaku, salah satu kekuranganya dari jumlah dosen pengajar. Untuk saat ini, jumlah dosen di jurusan Farmasi masih sangat minim. Dengan tanggungan 125 Satuan Kredit Semester (SKS) selain matakuliah pengembangan kepribadian, hanya ada enam tenaga pengajar. Jumlah itu mepet dengan jumlah yang ditetapkan menteri Pendidikan Nasional (minimal 6) dalam aturan No. 234/U/2000 pasal 8.
Selain itu, untuk melaksanakan praktikum saja, mahasiswa jurusan Farmasi masih harus menumpang di laboratorium Kimia dan Biologi. Sejak pendirianya, jurusan Farmasi belum memiliki labolatorium sendiri, bahkan setelah setahun berjalan. Menurut pengakuan Sri Nur Atiqah, mahasiswi jurusan Farmasi yang akrab disapa Tika, sejauh ini Ia melakukan praktikum inti dalam bentuk kuliah tamu pengenalan kefarmasian di Universitas Airlangga Surabaya. “Kayak praktikum pembuatan obat, alat yang besar-besar gitu disini kan belum ada, makanya kesana,” ujarnya. Tika juga mengatakan sempat iri saat mengunjungi Airlangga, “Di sana lo lengkap, di sini malah belum punya apa-apa.†Ia juga mengeluhkan kurikulumnya, “di sana semester dua sudah bisa membuat obat, di sini cuma kayak Kimia dasar, belum mengarah ke obatnya”.
Tingginya antusias terhadap jurusan Farmasi meski ditengah fasilitas yang belum memadai, tentunya tidak lepas dari nama yang sudah dimiliki UIN Maliki Malang. Seperti yang diungkapkan Sutaman, selaku Kasubbag Humas, Dokumentasi, dan Publikasi mengenai strategi UIN Maliki Malang, “Sekarang itu mau dikasih produk apa saja dari UIN pasti diterima oleh masyarakat dan dipercaya†ujarnya. Menurutnya, memadukan pesantren dengan Universitas serta memiliki akreditasi A merupakan puncak tercayanya UIN Maliki di kalangan masyarakat. Sutaman yang menganalogikan sebuah jurusan sebagai produk, beranggapan bahwa produk-produk yang UIN Maliki tawarkan, pasti diterima dan dipercaya dipasaran. Hal ini dikarenakan produknya menyandang label UIN Maliki Malang.
Kepercayaan terhadap UIN Maliki Malang tentunya tidak lahir dengan sendirinya. Bagi Rhenald Kasali, dalam bukunya Manajemen Public Relation, pemahaman (kepercayaan_red) timbul karena adanya informasi. Informasi sendiri membutuhkan media sebelum diterima oleh penerima pesan. Dalam hal ini, UIN Maliki Malang memiliki beberapa media untuk menyampaikan informasinya, seperti tabloid GEMA terbitan informasi dan publikasi (INFOPUB), dan kalender kampus.
Dalam kalender tahunan kampus, terdapat informasi mengenai fakultas Kesehatan. Meski masih dalam wacana pembangunan, hal ini sudah digambarkan di kalender kampus tahun 2014. Di sana tertulis “Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan” yang ukuran font-nya lebih besar daripada keterangan di bawahnya yang menyatakan masih dalam wacana pembangunan. “Mungkin itu salah satu strategi untuk menambah animo dari masyarakat†ujar Begum Fauziyah selaku ketua jurusan Farmasi ketika ditanyai tanggapannya mengenai kalender tersebut.
Selain itu di tabloid Gema edisi 64, Maret-April 2013, juga terdapat informasi mengenai jurusan Farmasi berjudul “Angkat prestige dengan jurusan Farmasiâ€. Namun gambar yang disematkan pada informasi tersebut justru fasilitas di Poliklinik Gigi UIN Maliki Malang.
Dalam kenyataan minimnya fasilitas jurusan Farmasi, Puspita Prawiswari, salah satu pendaftar jurusan Farmasi jalur SNMPTN 2014 punya pemahaman yang bertolak-belakang. Ia memahami bahwa Farmasi di UIN Maliki Malang tidak kalah dengan Farmasi di Universitas lain, “Setauku fasilitas di Farmasi cukup memadai,” ujarnya. Puspita mengaku tahu informasi jurusan Farmasi dari penelusuran website. Untuk menghindari kekecewaan atas bertolak-belakangnya pemahaman akan kenyataan sebenarnya, informasi perlu dibuat apa adanya.
Muhammad Djakfar salah satu dosen fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang dalam bukunya yang berjudul Etika Bisnis, menuliskan, “Iklan yang dibuat dengan melebih-lebihkan kenyataan yang sebenarnya, dari sebuah produk tertentu dengan maksud memperdaya, dan membujuk konsumen agar mereka tertarik untuk membeli produk tersebut, dianggap sebagai iklan yang tidak etis. Karena konsumen adalah pihak yang berhak mengetahui kebenaran sebuah produk yang diiklankan”.
Dalam hal ini UIN Maliki sebagai institusi pendidikan apalagi sebagai Universitas Islam yang berproyeksi sebagai wadah pencetak lulusan yang memiliki kekohan akidah dan keluhuran akhlaq, seharusnya mempromosikan produk-produknya dengan pembentukan citra yang bertujuan terciptanya pemahaman yang sesuai dengan kenyataan yang ada.*[Penulis : Latifatun Nasihah]
Tulisan ini juga dimuat di buletin PATRIOTIK edisi juli 2014
Last modified: 10 Juli 2015
