Kelas Overload di Fakultas Psikologi

Beberapa kelas di Fakultas Psikologi mengalami kelebihan kuota (overload) pada mata kuliah Psikologi Umum II dan Psikologi Perkembangan I. Hal tersebut menjadi salah satu isi tuntutan, yang dikeluhkan mahasiswa Fakultas Psikologi saat Audiensi Mahasiswa dengan pihak dekanat (1/6). A. Nazaruddin Faiz, salah satu peserta audiensi mengungkapkan, adanya kelas overload tersebut menyebabkan kelas pada mata kuliah yang sama hanya berisi belasan mahasiswa.

“Kelasnya jadi sumpek dan gak kondusif,” ujar mahasiswa Psikologi semester dua itu. Dia menambahkan, jumlah kursi di setiap kelas tidak mencukupi untuk 55 mahasiswa. Sehingga, memungkinkan mahasiswa akan kekurangan kursi dan harus mengambil kursi dari kelas lainnya. Tidak hanya mahasiswa yang merasakan ketidakefektifan kelas overload, melainkan juga dosen. “Kelas besar memang tidak recommended dan mengakibatkan proses belajar kurang optimal,” ungkap Elok Halimatus Sa’diyah, dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan I. Menurutnya, ketidaknyamanan di kelas terjadi saat diskusi kelompok. Tentunya, kelompok yang dibentuk akan memiliki anggota yang banyak. Sehingga, proses belajar mengajar di kelas pun menjadi kurang efisien.

Hilmy, selaku Kepala Sub Bagian Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Fakultas Psikologi mengutarakan, kelebihan kuota disebabkan adanya kesalahan saat pemrograman Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) pada ajaran semester genap 2014/2015. Hilmy memperlihatkan, dia telah memasukkan kuota maksimal perkelas sejumlah 45 mahasiswa. Kuota maksimal tersebut merupakan ketentuan dari Dekan Fakultas Psikologi.

Namun, ketika mahasiswa memprogram Kartu Rancangan Studi (KRS) kala itu, dalam SIAKAD justru tercantum kuota maksimal sejumlah 55 mahasiswa. “Waktu itu kita langsung konfirmasi dan komplain ke PTIPD (Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data_red). Mereka mengatakan sistemnya yang bermasalah,” jelas Hilmy. Lebih lanjut, Hilmy juga menegaskan bahwa pihak PTIPD juga memberikan alasan terjadinya perubahan kuota kelas tersebut karena pembobolan pada program SIAKAD.

Menanggapi hal tersebut, Ajib Hanani, selaku teknisi PTIPD justru menyatakan bahwa tidak terjadi pembobolan. Dia menjelaskan, terdapat dua kemungkinan yang bisa menyebabkan perubahan kuota. Pertama, banyak mahasiswa yang memilih kelas yang sama secara serentak dalam waktu bersamaan. Kedua, pihak jurusan telah mengganti kuota maksimum mahasiswa per kelas.

Kesalahan sistem yang mengakibatkan perubahan kuota, menurutnya dapat terjadi pada pemrograman SIAKAD. Dia mengasusmsikan jika kuota dalam satu kelas 45, sedangkan yang terisi sudah mencapai 40. Kuota yang tersisa hanya 5. Pada waktu bersamaan, ternyata ada 10 mahasiswa yang memilih kelas tersebut. Maka menurutnya, kesepuluh mahasiswa itu dapat mengambil kelas tersebut tanpa harus terkendala kuota kelas penuh. Ia pun melanjutkan, segala sesuatu yang berhubungan dengan input maupun perubahan data bukan menjadi wewenang PTIPD. Ketika terjadi perubahan kuota, kemungkinan pihak jurusan yang telah mengubahnya. “Kami hanya menjalankan dan menjaga sistem. Yang melakukan input data ya tetap pihak jurusan,” tambahnya.

Penjelasan Ajib tersebut jelas berbeda dengan pernyataan Hilmy yang menyatakan bahwa perubahan kuota terjadi karena adanya pembobolan SIAKAD. Bukan karena perubahan kuota oleh pihak jurusan, seperti yang diungkapkan Ajib. Hal tersebut mengindikasikan, adanya koordinasi yang buruk antara kedua pihak tersebut. Ajib lalu mengatakan, “Kalau mau mengubah lagi, berarti harus mengubah dari awal semua,” ungkapnya. Padahal, dampak dari kesalahan tersebut dirasakan langsung oleh mahasiswa dan dosen selama satu semester. [Luluk Khusnia]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

Tinggalkan Balasan