Written by 16:44 Esai

Kenangan

Tempat itu terlihat ramai dengan orang-orang yang duduk dan berjalan. Tempat itu seperti pulau yang dikelilingi laut, namun lautnya adalah lautan motor, mobil, truk dan bus.

Di bawah lampu malam, di dalam keramaian orang-orang, saya dan teman-teman saya bernyanyi. Untuk melepaskan penat setelah lomba, walaupun lombanya adalah menyanyi. Di sana terlihat tiang setinggi kira-kira tujuh meter. Di bawah tiang itu ada kolam air yang melingkar. Saya tidak bisa menghitung luas diameternya. Dan saya bertanya kepada teman yang duduk di sebelah saya, “Apa nama tiang itu?” Dia berpikir sejenak –walaupun tidak tahu jawabannya– kemudian dengan cuek dia menjawab,Ah, nggak tau lah.” Setelah itu saya merasa penasaran.

Rasa penasaran membawa saya kepada sebuah nisan. Di sana tertulis Taman Tugu Muda, Untuk Mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang”. Setelah membacanya, pikiran saya mulai gelisah, mungkin hanya sekedar bingung. Tempat untuk mengenang masa lalu ternyata bisa digunakan untuk membuat kenangan baru yang lebih menyenangkan.

Salahkah kami dan mereka yang membuat kenangan baru? Jika kami salah, siapa yang akan menyalahkan? Atau mungkin ukiran di tugu yang menggambarkan orang yang sedang kelaparan dan orang yang sedang berperang itu marah kepada kami. Melalui cara yang tidak kami ketahui.

Kemarahan. Ya, setiap pertempuran tidak pernah melewatkan kemarahan. Seperti kemarahan para pemuda Semarang kepada tentara Jepang. Ketika proklamasi terdengar sampai Semarang, pimpinan Kidobutai, Mayor Kido, menolak pelucutan senjata. Pemuda Semarang membuat kemarahannya menjadi satu semangat untuk menyergap, melucuti tentara Jepang yang melewati daerah Rumah Sakit Purusara –yang menjadi markas pemuda semarang– dan menjebloskan ke Penjara Bulu.

Tentara Jepang pun melakukan serangan balasan. Delapan anggota polisi istimewa yang menjaga sumber air Reservoir Siranda ditangkap lalu disiksa di Jatingaleh, markas Kidobutai.

Pemuda Semarang mendengar kabar itu, bersamaan dengan kabar bahwa tentara Jepang telah meracuni sumber air Reservoir. Kemudian Kepala Labolatorium Dinas Pusat Purusara, Dr. Kariadi bergegas ke sumber air Reservoir untuk melakukan penelitian terhadap kondisi air. Sekedar untuk memastikan kabar.

Pemuda Semarang menunggu hasil penelitian Dr. Kariadi. Begitu juga dengan sang istri, drg. Soenarti. Namun yang didapatkan pemuda Semarang dan drg. Soenarti bukanlah hasil penelitian, melainkan sebuah duka yang dalam; Dr. Kariadi dibunuh oleh tentara Jepang yang mencegatnya di tengah jalan. Pemuda Semarang kembali marah.

Perang Lima hari dimulai. Pada hari itu, 15 oktober 1945, seribu tentara Jepang melakukan serangan ke pusat kota Semarang atas perintah Mayor Kido. Perlawanan diberikan oleh para pemuda Semarang bersama seluruh warga yang tersulut amarahnya. Sampai 19 Oktober 1945, pertempuran itu menjatuhkan sekitar dua ribu nyawa warga Semarang dan 850 tentara Jepang.

Pertempuran itu berakhir. Dan begitulah saya mengetahui kronologi pertempuran itu setelah membaca artikel di internet. Lalu saya mengitari ukiran yang menceritakan pertempuran itu. Terlihat seseorang berseragam yang di belakangnya ada perempuan yang seperti meratapi keperginnya. Sepertinya itu ukiran Dr.Kariadi dan drg. Soenarti.

Saya pun kembali bertanya, sebenarnya apa yang harus dikenang dari masa lalu. Pertempurannya, kesedihannya, atau kemenangannya? Tapi, apakah pemuda Semarang, Dr. Kariadi, dan drg. Soenarti menginginkan pertempuran itu untuk dikenang? Saya rasa tidak, karena setiap orang selalu ingin melupakan kenangan yang buruk –walaupun sulit– dan menciptakan kenangan yang menyenangkan.

Di ukiran itu, terlihat juga seorang anak dengan perut yang kering –hingga terlihat rusuknya– sedang menarik baju seorang perempuan yang ada di depannya. Saya tak tahu siapa itu. Tapi kemudian pandangan saya teralihkan oleh seorang anak yang lewat di depan saya. Anak itu menenteng karung di punggungnya, lalu menuju tempat sampah. Dia memasukkan tangannya ke dalam tong sampah. Dia mengambil botol minuman plastik. Dengan jeli wajahnya memandang botol itu, memasukknnya ke dalam karung, kemudian pergi ke penjual sate cilok. Anak itu memesan satu tusuk sate. Saya tidak tahu dia membayar sate itu dengan apa. Saya terus memperhatikannya, tapi tiba-tiba seorang teman memanggil saya untuk segera kembali ke bus. Untuk pulang.

Mungkin anak itu sedang kelaparan, walaupun wajahnya tidak menunjukkan hal itu. Dalam perjalanan pulang, saya masih tidak bisa memahami kenangan menyenangkan seperti apa yang ingin dia ciptakan. [Wahyu Agung Prasetyo]

(Visited 33 times, 1 visits today)

Last modified: 28 Agustus 2016

Close