Written by 09:53 Berita Kampus

Nasib Jurusan Farmasi di Gedung RKB

    Sejak Agustus 2016, gedung perkuliah Jurusan Farmasi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang dialihkan ke Gedung Ruang Kuliah Bersama (RKB). Gedung ini berada di Jalan Sunan Muria IV, Kecamatam Dinoyo, Malang. Sebelum gedung ini dibangun, mahasiswa Jurusan Farmasi mengikuti kegiatan perkuliahan di Kampus I UIN Maliki Malang yang berada di Jalan Gajayana nomor 50, Malang. Pengalihan gedung perkuliahan tersebut, menurut A. Heru A. H. selaku Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama (BAK) Universitas disebabkan karena jumlah mahasiswa yang terus bertambah. “Karena Farmasi butuh ruang untuk kuliah dan di sini (Kampus I_red) gak cukup, jadi dipindah ke RKB,” ungkap Heru. Sementara, di gedung RKB, pembangunan gedungnya masih belum selesai. Hal ini disampaikan oleh Begum Fauziyah selaku ketua jurusan Farmasi, “Gedung RKB sebenarnya belum selesai proses pembangunannya”. Belum selesainya pembangunan gedung RKB ini menyebabkan mahasiswa jurusan Farmasi tidak mendapatkan fasilitas memadai untuk proses praktikum.

    Gedung RKB dihuni sejumlah 202 mahasiswa yang terdiri atas mahasiswa angkatan tahun 2013-2015. Menurut Ubaidillah, mahasiswa semester 7 Jurusan Farmasi, pemindahan  gedung RKB sebenarnya belum siap. “Masih kurang persiapan, soalnya fasilitas yang diberikan masih kurang”, ungkapnya. Salah satunya yakni laboratorium. “Di sana gak ada tempat praktikum. Praktikumnya tetap di gedung C”. Laboratorium milik Jurusan Farmasi hanya berada di kampus I, tepatnya di gedung C.

   Hingga saat ini, Jurusan Farmasi masih memiliki dua laboratorium. “Sebenarnya di Farmasi itu ada dua laboratorium, yaitu Laboratorium Multipurpose dan Teknologi  Farmasi,” ungkap Ubaidillah. Ia juga menambahkan, “Labnya pun juga awalnya cuma kelas yang diubah jadi laboratorium”.

   Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi Tahun 2013 mengenai  Standar Sarana dan Prasarana pada pasal 41 nomor 6, setiap perguruan tinggi harus memilik ruang akademik khusus berupa laboratorium, studio, bengkel kerja, lahan praktik atau tempat praktik lainnya harus disediakan dengan luas ruang yang memenuhi syarat gerak dan spesifikasi aktivitas praktikum, bengkel dan studio, dan didasarkan pada efektivitas keberlangsungan proses pembelajaran untuk ketercapaian pembelajaran praktik. Dilansir dalam tulisan berjudul Mimpi Punya Lab Masih Jauh pada buletin Patriotik edisi Juli 2014, Begum pernah menyebutkan bahwa Jurusan Farmasi minimal harus mempunyai empat sampai lima laboratorium. Namun, nyatanya di Jurusan Farmasi hanya terdapat dua ruang laboratorium.

   Nurul Laili, mahasiswa Jurusan Farmasi semester 3 juga mengeluhkan terkait alat di laboratorium yang belum lengkap.  “Alat labnya juga masih jauh banget. Kadang Farmasi masih menumpang di Lab. Kimia  semisal kalau ada alat yang kurang,” ujarnya. Ia bahkan membandingkan dengan laboratorium yang berada di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. ”Labnya masih jauh banget dari Unair. Kalau mereka kan punya ruang lab sendiri-sendiri, kalau kita kan digabung jadi satu,” ungkap Laili.

    Ketidaksiapan gedung RKB, menurut  Ubaidillah juga berupa tidak tersedianya  air di toilet. “Yang paling penting adalah toilet. Ketika mahasiswa bingung nyari toilet karena kebelet, mereka harus lari ke kampus I. Kan di sana (gedung RKB_red) gak ada airnya,” terangnya. Demikian halnya dengan fasilitas lain, seperti Liquid Crystal Display (LCD) misalnya. “LCD  juga masih bongkar pasang, sehingga sibuk  pinjam LCD. Menurut saya, itu kurang efektif,” tambah Ubaidillah .

   Begum membenarkan bahwa fasilitas di gedung RKB memang belum memadai. “Gedungnya cukup memadai untuk kebutuhan perkuliahan, namun tidak tepat bila dikatakan sudah memadahi semua kebutuhan Farmasi,” tambahnya. Namun, Heru mengungkapkan, fasilitas di gedung RKB masih akan terus diperbaiki. Ia juga memastikan bahwa gedung RKB akan selesai tahun 2016 ini. “Fasilitasnya masih dalam proses pengadaan. Karena anggaran penyelesaiannya tahun ini,” terang Heru.

   Sejak tahun 2013 pengadaan fasilitas Jurusan Farmasi sempat stagnan karena dugaan mark up harga tanah yang berdampak pada ketiadaan laboratorium di Jurusan Farmasi. Seperti yang dikutip dalam buletin Patriotik edisi Juli 2014. Hal  ini yang membuat mahasiswa harus melakukan praktikum di laboratorium jurusan lain karena laboratorium di sana belum memadai.

   Pada  tahun  2014 sampai 2015, mahasiswa masih berebut kelas dengan jurusan lain. Hal ini dirasakan oleh Ubaidillah hingga saat ini. “Di gedung C dulu pas tahun 2014, 2015, masih rebutan kelas,” keluhnya.

   Meskipun fasilitas akan terus diadakan, mahasiswa juga berharap supaya jurusan Farmasi diperhatikan dan pengembangannya difokuskan “Saya pengennya pihak fakultas, dekanat, melihat kondisi Farmasi bagaimana, bahwa banyak kekurangan terutama fasilitas”. “Kalau Farmasi belum siap, kok tergesa-gesa buka jurusan lain,” keluh Ubaidillah, merujuk pada dibukanya Fakultas Kedokteran pada Agustus 2016 lalu. [Siti Romlah]

(Visited 75 times, 1 visits today)

Last modified: 17 Oktober 2016

Close