Written by 23:30 Berita Malang

Pemerkosaan Terhadap Perempuan

36 - Masih ada asa

Fotografer : Salis Fahrudin

Orang umur baru kayak gini, baru 21,” ungkap Anjelina Rosdiana Dato. Perempuan asli Flores itu lalu menundukkan kepala. Terisak, dan air matanya jatuh. Dalam scene pembuka film dokumenter berjudul “Masih Ada Asa” yang diputar siang itu (13/1) tertulis, dia menjadi salah satu dari ribuan perempuan penyintas kekerasan seksual, yang berusaha melanjutkan hidup setelah gelombang masa lalu merenggut semua cita-citanya.

Bertempat di Omah Munir, pemutaran dan diskusi film dokumenter tersebut dilaksanakan. Film ini menyuguhkan kisah dua perempuan yang mencoba bertahan hidup setelah diperkosa. Kasmiati, perempuan 25 tahun yang diperkosa oleh seorang pemilik kos. Sedangkan Rosdiana, diperkosa oleh sekelompok pemuda secara ramai-ramai. “Perempuan itu sebetulnya terancam bukan oleh orang lain, tapi oleh orang-orang di mana dia seharusnya dilindungi,” ucap Salma Safitri Rahayaan, aktivis Suara Perempuan Desa yang menjadi penyaji dalam acara tersebut.

“Perkosaan bisa mengakibatkan kehamilan, bisa juga tidak. Yang mengakibatkan kehamilan seperti tadi, problem-nya begitu complicated,” tambahnya. Ati dan Ros pun melahirkan anaknya tanpa bapak. Selain itu, mereka juga harus menanggung stigma dari tetangganya, yang menganggap perempuan yang diperkosa adalah perempuan yang “tidak baik”. Di Malang sendiri, kejadian semacam itu juga tak jarang terjadi. Sunarlin, Aktivis Koalisi Perempuan Indonesia menyebutkan, dirinya seringkali menerima pengaduan korban perkosaan, “Kadang satu kasus belum selesai, ada lagi kasus yang lain,” ucapnya.

Sebut saja Widji. Dia perempuan tuna wicara yang diperkosa oleh pamannya sendiri, namun belum sampai hamil. Setelah itu, dia bekerja di tempat penggilingan padi. Naasnya di sana, dia diperkosa oleh teman kerjanya hingga mengakibatkan dirinya hamil. Oleh sebab itu, dia pun diusir dari kampungnya. Beruntungnya, keluarga Widji sepertinya masih menerimanya dengan separuh hati. Widji pun lantas ditempatkan di shelter atau penampungan yang bertempat di daerah Jombang.

Namun nyatanya, di tempat barunya pun dia masih tidak bisa diterima dengan sepenuh hati. Menurut Sunarlin, Widji pun masih kerap menerima olokan dari temannya yang sama-sama tuna wicara. “Masak kamu hamil, terus di sini,” cerita Sunarlin menirukan olokan tersebut. Setelah itu, Widji pun melarikan diri dari penampungan yang juga merupakan pesantren itu. Dia menaiki bus jurusan Batu. Sesampainya di Batu, Widji kebingungan hendak melangkahkan kaki ke mana lagi. Perempuan itu pun lantas beristirahat di Alun-Alun Kota Batu. Karena Widji menginap di sana tanpa membawa tanda pengenal sama sekali, dia pun sempat diamankan petugas Satpol PP yang bertugas.

“Orang kampung masih menganggap perempuan yang diperkosa adalah yang hina. Bukan laki-laki yang hina. Harusnya yang diusir dari kampungnya adalah laki-laki pemerkosa,” ungkap Fifi, sapaan akrab Salma Safitri Rahayaan. Dia pun lantas mengutarakan kegelisahannya. Fifi menyayangkan mengapa sistem sosial masih terkesan mengusir perempuan korban pemerkosaan. Menurutnya, masih terdapat kesalahan dari sistem sosial yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat. “Hanya kita yang bisa memperbaiki kesalahan tersebut,” pungkasnya. [Salis Fahrudin]


Editor : Luluk Khusnia


(Visited 22 times, 1 visits today)

Last modified: 07 Mei 2016

Close