Written by 20:04 Opini

Siklus Tak Pasti Bulan Tanam Padi, Imbas Perubahan Iklim

common.wikimedia.org

Sumber gambar : common.wikimedia.org

Indonesia merupakan sebuah negara dengan iklim tropis yang mengalami dua musim dalam kurun waktu satu tahun. Musim penghujan dan musim kemarau. Bulan April hingga Oktober menjadi masa di mana Indonesia biasanya akan mengalami musim kemarau. Sedangkan sisanya, yakni Mei hingga September, Indonesia mulai mengalami musim penghujan.

Berbicara mengenai musim penghujan. Pernahkah kita menghitung berapa banyak intensitas hujan yang turun di Indonesia selama musim penghujan? Dan dalam jangka waktu satu tahun, kita lebih banyak merasakan mana, antara hujan dan dan terik matahari? Akhir-akhir ini, Indonesia tidak lagi merasakan musim yang datang tepat waktu. Sering kali musim penghujan datang tidak sesuai siklus.

Demikian halnya dengan musim kemarau. Pergantian musim yang tak menentu ini pun akhirnya tak jarang menimbulkan masalah bagi kehidupan masyarakat. Salah satunya yakni bagi petani. Penanaman padi yang biasanya dilakukan pada bulan November hingga Februari ikut mengalami perubahan sebagai akibat pergantian musim yang tak menentu. Bahkan, hingga bulan Desember pun, jumlah air yang tersedia terkadang belum mencukupi untuk melakukan penanaman padi. Padahal, berdasarkan siklusnya, bulan Desember seharusnya sudah memasuki musim labuh, sebutan musim penghujan bagi orang Jawa.

Beranjak pada siklus tanam padi yang berubah. Perubahan iklim juga berdampak negatif terhadap perkembangan sumber tanaman pangan Indonesia tersebut. Dalam artikel yang ditulis oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementerian Pertanian, dijelaskan tentang keterkaitan karbon dioksida atau CO2 dan suhu terhadap padi. Semakin meningkatnya konsentrasi CO2 dan perubahan suhu berpengaruh pada evolusi spesies gulma. Hal tersebut lantaran kenaikan suhu menekan populasi musuh alami hama. Hama makin tumbuh subur akibat musuh alaminya berkurang. Tidak berhenti di sana, dominasi hama atau penyakit tertentu akan menyerang tanaman padi. Seperti penyakit busuk yang menyerang batang tanaman padi.

Petani pun harus bekerja lebih ekstra, berjudi dengan alam. Memperkirakan kapan harus melakukan penanaman padi. Kalau salah memperikiranakan, tak jarang pertani akan mengalami rugi besar karena harus mengulangi proses penanaman. Proses itu pun membutuhkan modal yang tak sedikit.

Banyak faktor yang menjadi penyebab perubahan tersebut. Salah satunya yakni pemanasan global atau yang kerap disebut global warming. Global Warming merupakan kondisi di mana suhu bumi mengalami pemanasan akibat adanya kebocoran pada lapisan pelindung bumi yang disebut ozon. Di atmosfer terdapat berbagai macam gas yang berperan sebagai selimut untuk melindungi bumi. Di antaranya uap air, karbondioksida, metana, asam nitrat, dll.  Gas-gas tersebut kerap disebut sebagi gas rumah kaca yang akan bertindak dalam melakukan penyaringan terhadap sejumlah energi yang dipancarkan oleh matahari.

Tidak hanya itu, gas rumah kaca juga memberi efek layaknya rumah kaca yang biasa dijumpai di bumi. Rumah kaca di bumi berhasil menjaga suhu permukaan agar makhluk hidup di dalamnya dapat tetap hidup. Demikian halnya dengan gas rumah kaca, yang tak lain merupakan perangkat stabilitator suhu pada bumi. Dengan memanfaatkan energi matahari, gas rumah kaca menjadikan bumi tidak lagi dingin dan menjadi ruang yang nyaman untuk kehidupan.

Pada dasarnya, matahari memancarkan energi berbentuk cahaya ke bumi. Kemudian cahaya tersebut diserap oleh bumi. Lantas, cahaya yang tidak diserap, sebagian dipantulkan kembali ke atmosfer. Pantulan cahaya itulah yang kemudian menyebabkan peningkatan suhu pada bumi.

Seiring bertambahnya umur bumi, semakin meningkat pula sumber-sumber perusak lapisan pelindung bumi tersebut. Kegiatan industri, pembakaran bahan fosil, transportasi, dan pembuangan limbah menjadi penyumbang dalam rusaknya lapisan pelindung bumi.

Proses industri, telah melahirkan bahan-bahan pencemar udara berupa karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (NO2), hidrokarbon (HC), sulfur dioksida (SO2), dan berbagai partikel lain. Konsentasi CO2 yang cukup tajam, berbanding lurus dengan peningkatan suhu suatu wilayah. Bisa dikatakan jika konstrasi CO2 semamakin tinggi, maka suhu di wilayah tersebut akan semakin tinggi pula. Hutan sendiri yang bertugas sebagai penyerap CO2 kian tergerus oleh kegiatan indusri.

Indonesia sebagai negara yang menjadi penyumbang hutan pun telah mengalami pengeroposan. Menurut data terakhir dari www.fao.org, laju penebangan hutan atau deforestasi di Indonesia merupakan laju deforestasi tercepat di dunia. Hal ini juga yang menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika dan Cina. Data tersebut dapat dilihat pada gambar statistik konsentrasi CO2 pada Jurnal Perubahan Iklim Global dalam tulisan Sutowo Latief yang berjudul “Penyebab dan Dampaknya terhadap Lingkungan Hidup”.

Seperti dijelaskan dalam paragraf sebelumnya, tingkat CO2 sangat berpengaruh pada suhu di bumi. Contohnya statistik suhu kota Malang. Data dari  Stasiun Klimatologi Karangploso Kabupaten Malang dijelaskan bahwa setiap tahun suhu udara di Malang terus mengalami kenaikan. Tercatat pada tahun 1997 suhu Kota Malang sekitar 23,4 derajat Celcius. Namun, akhir tahun 2006 derajat suhu meningkat menjadi 24,2 derajat Celcius dengan suhu maksimun 33,5 derajat Celcius terjadi pada musim kemarau di bulan Oktober hingga November. Sedangkan di tahun 2008 suhu di kota Malang melonjak drastis hingga 34,0 derajat Celcius.

Dalam penelian Matthews Et Al 1997 menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu rata-rata 1 derajat Celius akan menurunkan produksi 5 hingga 7 persen padi. Suhu yang terus naik akan berakibat juga pada pengurangan lahan tanam padi yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut.

Itu hanya segelintir kecil saja dampak perubahan iklim. Bisa dibayangkan, kira-kira 20 tahun ke depan, berapa suhu di Kota Malang. Bagaimana dengan bahan pangan yang tersedia? Lalu bagaimana dengan aspek kehidupan yang lain? Kita sering mengampanyekan lingkungan go green. Tapi tak jarang pula kita lebih suka mengepulkan asap motor daripada berjalan, walaupun itu hanya berjarak 50 meter. [Aniek Nurul Khomariyah]


Editor : Luluk Khusnia


(Visited 73 times, 1 visits today)

Last modified: 07 Mei 2016

Close