Written by 10:51 Berita Kampus • One Comment

Teknik Informatika UIN, Butuh Konsentrasi di Jurusan

33 - Butuh Konsentrasi

 

Beberapa mahasiswa Teknik Informatika (TI) Universitas Islam Negeri Maualana Malik Ibrahim (Maliki) Malang mengeluhkan kurikulum di jurusannya. Ahmad Farid Rahman mahasiswa TI semester 12 mengatakan “Susahnya tidak ada kosentrasi di jurusan, sehingga kita harus belajar sendiri bidang mana yang ingin kita dalami”. Dikutip dari buku Pedoman Pendidikan Fakultas Sains dan Teknologi (saintek) 2013, kurikulum itu berisi seperangkat matakuliah yang dikembangkan oleh fakultas/jurusan/program studi untuk menyelaraskan pendidikan dan pengajaran.

Seperti yang telah diterapkan oleh Fakultas Ekonomi, salah satunya di jurusan manajemen. Mahasiswa manajemen telah diarahkan untuk memilih kosentrasi mulai dari semester 4. Dijurusan manajemen sendiri terdapat tiga pilihan konsentrasi yang dapat dipilih oleh mahasiswanya. Kosentrasi tersebut meliputi kosentrasi keuangan, kosentrasi pemasaran dan konsentrasi sumber daya manusia. Dalam buku pedoman kepenasehatan akademik fakultas ekonomi, konsentrasi merupakan kumpulan matakuliah tertentu yang wajib diambil oleh mahasiswa untuk menyelesaikan satuan kredit semester (sks) dalam perkuliahan.

Mahasiswa hanya dapat memilih satu kosentrasi dalam mendalami bidang manajemen yang ingin ditekuninya. Matakuliah yang dapat diambil mahasiswa selanjutnya berupa matakuliah yang dipasarkan dalam tiap tiap kosentrasi. Misalnya, pada kosentrasi keuangan mata kuliah yang dipasarkan seperti manajemen keuangan, manajemen investasi, analisis informasi keuangan, manajemen keuangan internasional, analisis sekuritas dan riset keuangan. Mahasiswa yang berkosentrasi keuangan hanya dapat memilih matakuliah yang terdapat dalam kosentrasi keuangan. Mahasiswa tidak diperbolehkan mengambil mata kuliah yang dipasarkan selain dalam kosentrasi keuangan.

Sedangkan dalam buku pedoman pendidikan saintek 2013 struktur kurikulum jurusan TI terbagi dalam 4 konsep mata kuliah. Mata kuliah bidang keilmuan dan keterampilan, mata kuliah keahlian berkarya, perilaku dan berkarya dan bermasyarakat kehidupan. Dalam buku tersebut tidak terdapat pengkonsentrasian seperti yang dimiliki jurusan manajemen sehingga mahasiswa tidak dapat memilih bidang mana yang ingin di dalaminya. Kurikulum di TI sendiri mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti semua mata kuliah yang ada.  “Kita harus pintar-pintar memilih dibidang mana kita ingin fokus, soalnya di UIN cuma mempelajari dasar-dasarnya saja,” ujar Farid.  Farid juga menambahkan “Nanti kalau tidak mendalami bidang mana yang kita suka, kita bingung mau ngerjain tugas akhir dengan fokus yang mana,” imbuhnya. Tidak hanya Farid saja yang mengatakan pentingnya kosentrasi dalam penyusunan tugas akhir (skripsi). Intan Pranastiti, mahasiswa TI semester 8 juga mengakui hal tersebut, “Biar lebih terarah, jadi mahasiswa punya pandangan mau ambil skripsi tentang apa dan punya pemahaman yang mendalam,” ungkapnya.

Intan mengeluhkan tidak mempunyai kemampuan yang mendalam pada mata kuliah yang diberikan di Jurusan TI. Akhirnya ia tidak memiliki spesifik bidang keahlian saat mengerjakan skripsi. Bidang-bidang TI tersebut meliputi sistem infromasi, jaringan, desain web, pemograman java ataupun bidang TI yang lain yang tercantumkan dalam beberapa mata kuliah TI. Tidak adanya kosentrasi di jurusan menjadi salah satu penyebabnya. Pembelajaran menjadi tidak terfokus pada satu bidang melainkan terbagi menjadi banyak bidang.

Intan yang juga tengah disibukkan dengan skripsi bercerita mengerjakan skripsi tidak sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Intan mengaku ingin lulus dengan skripsi bertemakan ke sistem informasi “Saya dulu ingin skripsi tentang sistem pendukung keputusan,” ujarnya. Namun Intan merasa kesusahan untuk mengerjakan skripsi dengan tema tersebut. Kesusahan itu disebabkan pengalaman dan materi sistem informasi yang ia peroleh sangat sedikit. Kemudian ia meminta saran pada beberapa dosen. “Aku ke dosen trus tanya-tanya, kira-kira ada judul atau enggak,” ungkapnya. Salah seorang dosen menawarkan sebuah judul penelitian tentang game pada intan. Intanpun menerima usulan judul meskipun ia tidak memiliki kemampuan yang sesuai dengan judul yang ditawarkan oleh dosen. “Teman-teman sudah punya judul, dikejar target kelulusan juga” ujar intan ketika ditanya alasan menerima judul tersebut.

Awalnya jurusan TI pernah ada pengkonsentrasian untuk mahasiswanya. Namun, masih belum bisa diberlakukan. “Konsentrasi tersebut telah ada namun masih sebatas kurikulum,” ujar Suhartono selaku Ketua Jurusan (kajur) pertama Jurusan TI. Kala itu, konsentrasi terbagi menjadi Sistem Infromasi, Teknik Informatika dan Elektro. Alasan Suhartono tidak memberlakukan kurikulum tersebut lantaran jumlah dosen dan mahasiwa belum memungkinkan. “Saat itu jumlah mahasiswa hanya 80, sedangkan minimal dalam setiap kosentrasi sendiri harus ada 30 mahasiswa. Sehingga kosentrasi yang dijalankan waktu itu hanya kub (lingkup red) TI saja,” jelas Suhartono.

Cahyo Crysdian kajur TI periode ini, menampik belum adanya kosentrasi di jurusan yang telah berdiri sejak tahun 2004. Menurutnya, saat ini TI telah memiliki kosentrasi yang terwakilkan oleh berbagai laboratorium (lab) yang disediakan oleh jurusan. Lab tersebut meliputi lab pemograman, computer vision, lab riset, lab jaringan, kecerdasan buatan, internet, bengkel robotik, lab multimedia, dan rangkaian digital. Lelaki itu beranggapan mahasiswa yang ingin mendalami sebuah bidang kosentrasi diharuskan untuk mengasah kemampuan di laboratorium yang telah disediakan. Cahyo menilai laboratorium merupakan tempat mahasiswa untuk membentuk sebuah komunitas mengembangkan minatnya. “Mahasiswa harusnya gabung dengan lab bukan sebagai asisten lab tetapi sebagai komunitas,” ujar Cahyo. Cahyo menambahkan “Jurusan membebankan semua bidang keilmuan itu di lab, jadi tergantung yang mengembangkan lab tersebut.”.

Pada kenyataannya laboratorium tidak dapat berfungsi sebagai sebuah komunitas seperti halnya yang Cahyo katakan. Beberapa komunitas di jurusan tidak menggunakan lab sebagai tempat riset mereka. “Basis riset sendiri masih individu dengan laptop masing-masing,” ujar Gianto Widodo selaku petugas Ahli di Lab Pemograman UIN Maliki Malang. Gianto menambahkan untuk saat ini, laboratorium belum difungsikan secara maksimal. “Laboratorium masih difokuskan untuk tempat praktikum mahasiswa” Ujar Gianto yang juga tengah mengerjakan riset di laboratorium tersebut. [Anik Nurul Komariyah]

(Visited 138 times, 1 visits today)

Last modified: 05 Februari 2016

Close