
Zainuddin saat menemui peserta aksi di depan gedung rektorat UIN Malang (2/5).
Senin (2/2), sejumlah mahasiswa UIN Malang yang mengatasnamakan dirinya sebagai bagian dari Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus menggelar aksi peringatan Hari Pendidikan Nasional. Aksi pagi itu bertujuan menyuarakan sikap peduli para mahasiswa terhadap pendidikan di UIN Malang. Salah satu tuntutan yang mereka sampaikan yakni pelibatan mahasiswa dalam perumusan kebijakan yang dilakukan oleh pihak birokrat.
Aksi diawali dengan pembacaan orasi dan press release yang kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan 1000 tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap perbaikan fasilitas serta sistem pendidikan di UIN Malang. Setelah itu, peserta aksi digiring menuju depan gedung rektorat dengan berjalan mundur. Aksi jalan mundur ini menjadi representasi dari kemunduran pendidikan yang terjadi di UIN Malang.
Ahmad Ainul Fuadi, salah satu orator dalam aksi itu mengungkapkan bahwa UIN Malang masih memiliki beberapa permasalahan dalam hal pendidikan. Menurutnya, mahasiswa perlu mengomunikasikan hal itu bersama pihak birokrat kampus. “Tuntutan kita tidak sepenuhnya dipenuhi. Adalah perbaikan sistem dan kualitas pendidikan khususnya di UIN Malang, sistem dosen mengajar seenaknya sendiri, kebijakan UKT yang tidak merata. Ada UKT tapi masih ada pungutan liar. Kualitas pengajar masih di bawah standard, katanya menuju World Class University (WCU)?” tegasnya.
Menurut Ainul, selama ini mahasiswa telah melakukan beberapa advokasi dan audiensi dengan pihak birokrat kampus. Sayangnya, hingga sekarang mahasiswa belum menemukan tindak lanjut dari advokasi dan audiensi yang telah mereka lakukan. “Sudah selama bertahun-tahun kita menuntut untuk perbaikan sistem, dan sebagainya. Namun, sampai sekarang kita tidak pernah menemui hasil dari itu semua,” keluh mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) itu.
Ainul juga mengungkapkan bahwa mahasiswa memiliki hak untuk diajak bicara oleh pihak birokrat kampus. Pembicaraan yang dimaksudkan terkait keterlibatan mahasiswa dalam setiap kegiatan, seperti perumusan kebijakan ataupun kurikulum kampus. Namun, menurutnya, selama ini UIN Malang tidak pernah melibatkan mahasiswa dalam hal itu.
Zainuddin, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga mengamini bahwa mahasiswa perlu dilibatkan dalam memperbaiki sistem pendidikan yang ada di kampus. Bahkan, menurutnya setiap merumuskan kurikulum biasanya para dekan selalu mengajak stakeholder atau pihak birokrat dan user atau mahasiswa untuk membahas bersama. “Kami butuh partner untuk selalu memperbaiki sistem pendidikan kita. Kalian (mahasiswa_red) adalah user. Oleh karena itu, kalian adalah partner kami semua,” ungkapnya.
Menanggapi tuntutan mahasiswa dalam aksi itu, Zainuddin mengungkapkan bahwa nantinya mahasiswa akan dilibatkan dalam urusan kampus, seperti terkait tuntutan fasilitas, dsb. “Kalau merasa belum dilibatkan, maka setelah ini kami akan lakukan itu. Kami akan perintahkan kepada semua dekan untuk mengundang Anda (mahasiswa_red) sebagai partner,” tegas Zainuddin saat menemui peserta aksi di depan gedung rektorat. “Saya tidak hanya ngomong saja, karena saya belum pernah berdialog dengan Anda seperti ini. Sehingga, persoalan yang Anda miliki tidak pernah tidak tersampaikan,” tambahnya.
Ainul dan peserta aksi hari itu mengungkapkan kembali melakukan aksi apabila pernyataan yang diberikan Zainuddin , sebagai perwakilan rektorat kampus, tidak direalisasikan. “Jika memang dalam waktu yang tidak ditentukan, itu tidak dipenuhi, maka kita bersama ribuan massa akan datang menduduki rektorat,” pungkasnya. [Luluk Khusnia]
Editor : Ahmad Ilham Ramadhani
Last modified: 22 Mei 2016

