“Tapi bila para pujangga diharapkan berfatwa, para pesohor diharapkan heboh. Dan kritik sastra pun jadi gosip,” tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggirnya berjudul Sastrawan. Barangkali Wawan, sapaan saya kepada Goenawan, sudah mapan duduk di kursi pesohornya. Bagaimana tidak, Catatan Pinggirnya telah terbukukan sebanyak 9 jilid. Pernah fotonya terpampang di meja kaca pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Malang, entah untuk apa. Bahkan, ada fotonya bersama teman saya sendiri. Ia jadi seorang pesohor. Dan di atas puncak karirnya itu, jarang dia terlihat di televisi. Mungkin dia menghindari gosip. Gosip yang beredar, dia memang enggan nampang, meski kerap kali ajakan ngeksis di televisi bertubi datang.
Masih dalam Catatan Pinggirnya, Sastrawan. Ia mencatut apa yang pada 1950-an diuapkan oleh A-Teeuw. Bahwasanya ketokohan menjadi dominan, ketimbang karya sastranya. Sebagaimana dampak dari pendidik kesusastraan di sekolah yang tak membawa anak didiknya menikmati karya, melainkan hanya mengetahui tokoh dan judul karyanya, paling banter membaca sinopsis. Karena itu pula, Wawan beranggapan sastrawan tak mati, tapi kesusastraan yang mati.
Wawan merujuk pada majalah Budaya Jaya, yang mendominankan karya sastranya. Lihat saja bagaimana Ashadi Siregar menulis Untuk Siapa Saya Menulis (Melihat Novel sebagai Medium Komunikasi Sosial), yang terbit pada Majalah Budaya Jaya, no 117 th 11-Februari 1978 hal 99 – 107 . Diawali dengan subjudul Motivasi dan tanggung jawab sosial, Novel sebagai medium komunikasi, Fungsi sosial Novel, Tujuan dan masarakat yang dituju, Kebudayaan komunikasi masyarakat kita, integritas dan kreativitas pengarang. Wow! Begitu epic! Mungkin ini yang didambakan Wawan, dominan pokok ketimbang tokoh.
Berkaca pada Wawan sendiri, barangkali ia hadir sebagai sosok yang dominan tokoh pada awalnya, karena nama Wawan lebih dahulu bertengger dikepala ketimbang Catatan Pinggir. Seperti mengenal Darwis Tere Liye dahulu, baru mengenal Negeri Para Bedebah. Paska membaca beberapa catatan pinggir, keraguan makin menjadi, makin tak bisa memahami, apa yang melambungkan Wawan atau apa yang melambungkan Karyanya.
Wawan mungkin sudah di puncak kepesohorannya, ia juga tak takut terjatuh, karena itu kusebutnya di posisi mapan. Dalam posisinya itu ia menyebut adanya “sindrom pujangga” juga “sindrom pesohor”. Menafsirkan apa yang hendak disampaikan Wawan ini, seakan-akan sindrom inilah yang turut membunuh kesusastraan, selain keruhnya pendidikan. Mungkin Wawan tak melihat dengan cara mereka menatap langit, atau sekedar puncak. Dan puisi Rendra ini mungkin dapat sedikit menggambarkanya, meski mungkin ada diluar konteks puisi Rendra sebenarnya.
Atau aku terlantar di pasar, aku berbicara
tetapi orang-orang tidak mendengar
Mereka merobek-robek buku
dan menertawakan cita-cita
Aku marah, aku takut, aku gemetar,
namun gagal menyusun bahasa
Hai Mak, W.S Rendra.
Ini tentang seseorang yang bahkan sudah berteriak, tapi tak ada yang mendengarnya. Hanya karena ia terlantar, ia bukan siapa-siapa. Ini mengingatkanku saat mencoba menyulut diskusi terkait isu diskriminasi kechinaan. Aku menyodorkan puisi Sapu Tangan Fangyin, awalnya baik-baik saja. Setelah kusebut Denny JA, nama penulisnya, kawan diskusiku mengernyitkan dahi. Diskusi pun mandek, pokok pun redup, ketokohan mengaburkannya. Denny JA memang sempat diributkan atas namanya yang masuk buku 33 tokoh sastra berpengaruh. Kritikan mengalir deras, buku itu pun bahkan dipetisikan.
Setidaknya kisah ini memberikan gambara kekinian, dimana ketokohan pun dijadikan penting dalam kesusastraan. Yang mana Wawan pun mungkin tak bisa membayangkannya, bilamana karyanya tak dibaca, hanya karena ia memiliki nama Goenawan Muhamad di Kartu Tanda Penduduknya. Hanya karena dia bukan siapa-siapa.
Maka menjadi tokoh pun hal yang kerap dikejar. Tentu dalam rangka berupaya menumbuhkan kesusastraan. Agar agar karyanya terbaca, melalang buana dan tumbuh. Karena dewasa ini, tokoh dijadikan penting untuk menyampaikan pokok. Menunggu agar pendidikan direvolusi, mengubah pokok menjadi lebih penting dari tokoh tidaklah sebentar. Tak semua sastrawan sabar menahan menyampaikan pokok, menunggu dalam pilu. Karenanya ia mengejar ketokohan, meski semata hanya teknik melambungkan gagasan, melambungkan pokok, agar dibaca. Bahkan merelakan dirinya disebut sindrom pujangga. Ini semua untuk menumbuhkan kesusastraan, sambil menunggu pendidikan di revolusi. [Rachmad Imam Tarecha]
Last modified: 28 Agustus 2015


