Tidak Boleh Ada Kekerasan dalam OPAK

Mujaid Kumkelo, selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyatakan, masing-masing kampus memiliki kebijakan internal dalam pelaksanaan Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK). ”Kalau di UIN ini, kami tidak memperbolehkan bahkan mengharamkan adanya kekerasan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pihak kemahasiswaan telah berkoordinasi dengan pihak rektorat, terkait apabila terdapat panitia yang tidak bisa terkontrol. ”Apabila tidak bisa mengondisikan lapangan, tim dari pendamping dan dosen akan turun. Mereka akan malu karena artinya mereka tidak mampu mengendalikan lapangan,” ungkap Mujaid. ”Dan saya akan panggil orang tuanya lalu dikeluarkan. Itu langkah ekstrem,” imbuhnya. Lebih lanjut, Mujaid menyatakan tidak boleh ada kekerasan dalam pelaksanaan OPAK meskipun bertujuan untuk pelatihan mental.

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U), Muhammad Hasan Abdillah mengaku, akan melaksanakan kebijakan yang diberikan oleh pihak kemahasiswaan tersebut. ”Kita pun bilang ke panitia, kita tidak akan ada kekerasan,” ujarnya. Ia juga mengatakan pasti akan mengeluarkan panitia yang melakukan kekerasan. ”Dalam konteks perkataan panitia dengan nada tinggi nantinya bertujuan untuk penekanan bahwa kami serius. Jadi, apabila dihukum, ya dengarkan,” tambahnya. Sedangkan dalam konteks mendisiplinkan, ia mengungkapkan adanya Disiplin Mahasiswa (Disma) yang bertujuan menghukum bagi peserta OPAK yang melanggar. “Adanya Disma juga untuk merubah mindset para peserta yang dulu siswa sekarang mahasiswa, itu nggak bisa santai-santai.” imbuh Hasan. Kini, Disma memiliki sebutan Tim Romantis.

Senada dengan Hasan, Muhammad Atho’ Ubaidillah selaku Koordinator Steering Commitee (SC) OPAK tahun 2016 juga mengatakan bahwa hukuman yang diberikan bersifat membangun mental. Seperti orasi di depan misalnya. Itu pun kalau memang masih ada waktu. Ia juga menambahkan adanya aturan bagi Tim Romantis untuk berpakaian rapi. Seperti tidak berambut gondrong, tidak memakai sandal, dan tidak memakai celana sobek-sobek. Berkata kotor pun juga tidak diperbolehkan.

Terkait dengan tidak diperbolehkan ada kekerasan dalam OPAK, di Indonesia memang sudah seringkali terjadi kasus kekerasan selama masa orientasi pengenalan akademik. Seperti yang dilansir m.okezone.com dalam tulisan berjudul 10 Kasus Kematian Akibat Plonco Ospek Maut edisi 4 Agustus 2015. Dalam tulisan tersebut, berdasarkan data yang dihimpun oleh Okezone dan Koran SINDO, tercatat ada 10 kasus kematian mahasiswa baru (maba) akibat tindak kekerasan saat pelakasanaan orientasi pengenalan akademik, mulai tahun 2000 hingga 2013. Di antaranya yakni kasus Donny Maharaja pada tahun 2001. Maba Universitas Gunadarma Bogor tersebut mengalami kekerasan fisik hingga menyebabkan ia meninggal dunia. Tidak hanya itu, Agung Bastian Gulton, mahasiswa baru di Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran pada tahun 2007 meninggal karena disiksa oleh seniornya. Kasus kekerasan masih terjadi hingga tahun 2013. Fikri Dolas Mantya Surya, maba Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang juga meninggal saat pelaksanaan orientasi pengenalan akademik.

Menanggapi hal tersebut, Tritar Ardila, mahasiswa baru jurusan Biologi mengaku takut akan adanya kekerasan dalam OPAK. “Tapi kan pemerintah sudah tidak memperbolehkan adanya kekerasan dalam OPAK. Tapi nggak tahu lagi,” ujarnya. Demikian pula dengan Siti Aliya Nur Diana. Ia mengatakan tidak setuju dengan adanya kekerasan fisik dalam OPAK nantinya. “Kita kan masih baru, ya butuh dididik dan diarahkan. Nggak perlu adanya kekerasan,” ucap maba jurusan Perbankan Syariah itu. [Irva Azizah]

UAPM Inovasi
Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) INOVASI, salah satu lembaga pers mahasiswa di Kota Malang, yang masih peduli dengan permasalahan sosial di lingkungan kampus serta sekitarnya.
http://uapminovasi.com

2 thoughts on “Tidak Boleh Ada Kekerasan dalam OPAK

  1. Saya masih bingung dengan pernyataan Mujaid tentang tidak diperbolehkannya kekerasan meskipun untuk pelatihan mental. Lah, si Atho’ menyatakan kalau hukuman yang akan diberikan itu untuk membangun mental. Terus kekerasan/hukuman yang membangun mental itu sebenarnya boleh nggak sih?

    1. Mksdx di hukum yg tujuannya untuk membangun mental lur. Tp tidak boleh menggunakan kekerasan. Seperti orasi dll.

Tinggalkan Balasan