Aksi Kamisan Road to Campus dilaksanakan di depan Universitas Brawijaya, dengan mengangkat isu utama yaitu peringatan 27 tahun reformasi, pada 21 Mei bertepatan dengan lengsernya Presiden Soeharto (22/05/2025).
Universitas Brawijaya menjadi kampus kelima sebagai tuan rumah Aksi Kamisan Road to Campus, yang sebelumnya telah dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Malang, Universitas Insan Budi Utomo, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Fikri, fasilitator Aksi Kamisan, menyebutkan tujuan diadakannya kegiatan ini adalah bentuk solidaritas kepada massa aksi, paramedis, dan jurnalis yang merasakan trauma dari tindakan represif aparat, saat aksi tolak RUU TNI pada 23 Maret 2025 lalu. Aksi Kamisan hadir membersamai mahasiswa yang terkena dampak represi agar mereka tidak merasa sendiri. Selain itu, Fikri menyampaikan adanya kemungkinan buruk yang akan terjadi dari tindakan represif aparat sebelumnya.
Baca Juga: Kecewa terhadap Vonis Ringan Terdakwa Tragedi Kanjuruhan, Aksi Kamisan Kembali Digelar
Dengan putusan ringan atas terdakwa tersebut, Amnesty International Indonesia melalui Direktur Eksekutifnya menilai Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya telah gagal dalam pemenuhan keadilan terhadap korban kekerasan aparat dalam tragedi Kanjuruhan. “Di mana keadilan bagi korban?,” terang Usman Hamid, dilansir dari laman tempo.co.
“Beberapa massa aksi yang kami lihat merasa trauma itu rata-rata mahasiswa yang ada di kampus. Kami ingin menunjukkan ke teman-teman massa aksi 23 Maret lalu, bahwa kalian tidak sendirian dan kami bersolidaritas tentang apapun yang dirasakan teman-teman kampus,” ungkapnya.
Selain itu, Aksi Kamisan juga membawa isu perihal peringatan 27 tahun Reformasi sejak 1998. Fikri menyampaikan bahwa isu yang dibawa ini dalam rangka menolak lupa, ingin mengingatkan bahwa proyek reformasi sampai sekarang belum selesai. Sejalan dengan itu, Fauzan, Wakil Menteri Aksi dan Propaganda Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, mengatakan sejak reformasi digaungkan, praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) masih marak terjadi. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka salah satu contoh yang disebutnya.
“Kasus hari ini yang bisa kita lihat hadirnya Gibran menjadi salah satu bentuk adanya Korupsi, Kolusi Nepotisme, menjadi salah satu bentuk supremasi hukum yang diciderai dan dikhianati,” ujarnya.
Tentu tidak hanya persoalan KKN yang memang terjadi sampai tingkatan paling bawah sekalipun. Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi selama rezim Soeharto berdiri hingga saat ini menjadi hal yang diperhatikan pada Aksi Kamisan. Kemudian reforma agraria dan undang-undang masyarakat adat juga menjadi hal yang terus disuarakan oleh Aksi Kamisan.
Baca Juga: Aksi Kamisan Tuntut Penghilangan Komersialisasi dan Korupsi Pendidikan
Atha Nursasi, Wakil Koordinator Malang Corruption Watch (MWC) menjelaskan bahwa komersialisasi dan korupsi pada pendidikan muncul akibat adanya ideologi liberalisme dan kapitalistik. “Ideologi besar ini secara prinsip memberikan kebebasan pada pasar bebas dan mendorong keterlibatan kapital dalam pendidikan,” tuturnya.
“Ada diperlukannya reforma agraria, ada diperlukannya undang-undang masyarakat adat demi akhirnya tanah-tanah masyarakat adat itu terjamin keamanannya,” jelasnya.
Banyak hal yang belum tuntas walaupun reformasi telah berusia 27 tahun dan itu bukan merupakan waktu yang singkat. Fauzan menyampaikan harapan dilaksanakannya Aksi Kamisan Road to Campus ini dapat membangun kesadaran mahasiswa untuk menyuarakan bersama-sama. Selain itu adanya Aksi Kamisan dapat menjadi simbol bahwa masyarakat tidak pernah lupa atas apa-apa saja yang telah dilakukan oleh para penguasa.
“Harapan kami Aksi Kamisan ini membangun awareness mahasiswa hingga mencoba untuk menyuarakan isu tersebut. Kemudian, kami tidak lupa dan menutup mata atas adanya kesalahan-kesalahan dari kebijakan pemerintah. Kuharap juga bisa menyadarkan pemerintah,” terang Fauzan.
Kontributor: Malika S. Zulfa
Editor: Nurul Luthfiyyah
aksi kamisan reformasi Road to Campus
Last modified: 23 Mei 2025

