Written by 20:25 Opini

Dari Antusias Hingga Kecewa: Belajar dari Kasus Volunteer Bodong

Beberapa waktu lalu, saya cukup antusias melihat banyak program volunteer dan internship yang berseliweran di linimasa media sosial saya. Rasanya menarik sekali karena kesempatan ini bisa jadi jalan untuk mahasiswa menambah pengalaman, relasi, sekaligus mempercantik CV. Apalagi, embel-embel “bekerja sama dengan perusahaan besar” membuat tawaran itu tampak meyakinkan.

Namun, semakin ke sini saya menyadari bahwa tidak semua volunteer dan internship benar-benar memberi manfaat. Ada yang hanya memanfaatkan tenaga mahasiswa tanpa memberikan imbalan yang sepadan. Dengan dalih mencari pengalaman dan relasi, mahasiswa sering kali diminta bekerja layaknya karyawan penuh, tetapi tanpa gaji sama sekali. Ironisnya, perusahaan-perusahaan seperti ini justru menjadikan unpaid internship sebagai strategi agar bisa mendapatkan SDM gratis.

Saya pun menjadi salah satu mahasiswa yang akhirnya ikut terjebak di lingkaran itu. Dengan penuh semangat, saya mendaftar ke sebuah program volunteer yang saat itu terlihat amat meyakinkan. Semua persyaratan baik yang simple hingga persyaratan yang rumit saya penuhi semua demi mengikuti kegiatan ini. Jujur saja, saya percaya karena nama perusahaan besar terpampang di banner yang tersebar. Saya membayangkan, kalau benar-benar ada kerja sama, pengalaman ini pasti akan sangat berharga.

Tapi kenyataan berkata lain. Pada 11 Agustus, 2025 akun Instagram @detektifpenipuan mengunggah sebuah postingan yang membongkar kebenaran. Sebuah NGO atau Non-Governmental Organisation berinisial BM ternyata mencatut nama perusahaan besar untuk menarik minat peserta. Perusahaan yang dicatut bahkan memberikan klarifikasi resmi bahwa mereka tidak pernah menjalin kerja sama dengan pihak BM. 

“Diduga, klaim kerjasama ini digunakan untuk menarik minat publik agar banyak orang mendaftar. Hasilnya, lebih dari 12.000 orang menjadi peserta dan menyerahkan data pribadi mereka ke pihak penyelenggara saat proses pendaftaran,” tulis @detektifpenipuan pada di keterangan postingannya

Membaca itu, saya benar-benar terkejut. Rasanya tidak percaya bahwa saya sendiri termasuk dari ribuan orang yang tertipu. Antusiasme berubah menjadi rasa khawatir, apalagi menyangkut data pribadi yang sudah saya berikan.

Namun, saya tidak sendirian. Ada banyak mahasiswa lain yang mengalami hal serupa. Bahkan, di kolom komentar postingan tersebut, sejumlah warganet membagikan pengalaman pribadi mereka.

Baca Juga: Polarisasi Politik Identitas Sebagai Senjata Utama di Pilpres 2024

Pemilihan Presiden (Pilpres) sudah semakin dekat, hanya terhitung sekitar lima bulan lagi saat tulisan ini dibuat. Hajat besar seluruh rakyat. Demikian kata orang-orang berpakaian rapi, dengan rambut klimis, berjas, tak lupa sepatu pantofel necis yang kinclong. Menurut PKPU No. 3 Tahun 2022, pencoblosan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden atau Pilpres 2024 akan diselenggarakan pada tanggal 14 Februari 2024 secara serentak.

Seorang pengguna Instagram dengan nama @louisanorland menuliskan, “Tapi yayasan itu emng agak-agak red flag sih… sebenarnya ya ikut volunteer kaya gini tu beresiko kalo ga ditipu ya harus mau uang commitment fee yang kita bayar tu dijadiin modal buat mereka”.

Komentar lain datang dari akun @nadiasf_18 yang mengaku pernah magang di tempat yang sama, “Pernah intern disana dan ya begitulah sama seperti teman-teman korban magang lainnya.. Ternyata ini sudah dari dulu sampe sekarang masih seperti ini dan makin sini makin masyaallah yaa.. Heran masih bisa tidur nyenyak kah pelaku nya xixi.”

Dari komentar-komentar itu, jelas terlihat bahwa praktik volunteer bodong ini bukanlah kasus sekali dua kali. Sudah banyak korban yang mengalaminya, bahkan sejak lama.

Saya pribadi tidak menyangkal bahwa sempat terbawa euforia. Tawaran volunteer atau internship yang terdengar bergengsi memang mudah membuat saya gelap mata. Tapi pada akhirnya, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga.

Saya juga tahu ada beberapa teman dekat yang ikut program itu. Mereka pun sama-sama merasa tertipu dan kecewa. Untungnya, kami masih bisa menjadikan pengalaman pahit ini sebagai pengingat agar kedepannya lebih berhati-hati.

Baca Juga: Kekerasan Seksual: Teknik Peliputan Skandal di Dalam Kampus

Saya menilai, bahwa potensi kekerasan terhadap Persma masih tinggi dan tidak bisa dihindarkan. Terlebih, ketika berita yang ditulis LPM berkaitan dengan 3 faktor utama pelaku melakukan represi. Termasuk, bila isu-isu yang diangkat berkaitan dengan dugaan skandal/kekerasan seksual yang terjadi di kampus. Dari masalah yang kompleks itu, kemudian saya  mengundang Yolanda untuk berbagi pengalaman tentang peliputan KS untuk Persma di kampus.

Pesan saya sederhana: untuk teman-teman mahasiswa lain yang belum sempat mengalami hal ini, jadikan kisah kami sebagai pelajaran. Jangan mudah percaya hanya karena ada embel-embel “internasional”, “fully funded”, atau nama perusahaan besar di sebuah poster. Selalu cek rekam jejak penyelenggara, pastikan kredibilitas, dan jangan sembarangan menyerahkan data pribadi.

Unpaid internship dan volunteer seharusnya memberi ruang belajar, bukan jebakan. Ada program yang sungguh-sungguh bermanfaat, tetapi ada pula yang hanya akal-akalan untuk memanfaatkan tenaga mahasiswa.

Kasus volunteer bodong yang terungkap pada 11 Agustus lalu adalah alarm bagi teman-teman semua bahwa semangat untuk mencari pengalaman jangan sampai membuat kita lengah. Karena kalau tidak hati-hati, bukannya mendapat pelajaran, justru kita yang berakhir jadi korban.

Sumber:

https://www.instagram.com/s/aGlnaGxpZ2h0OjE4MTcwOTY3OTM0MzU0NjU4?story_media_id=3692474359542774263&igsh=c3dweW1hamYyaDI=

Editor: Nurul Luthfiyyah

(Visited 73 times, 1 visits today)

Last modified: 23 September 2025

Close