Aksi International Women’s Day (IWD) yang diadakan pada Sabtu (08/03/26) membawa isu femisida sebagai salah satu isu utama di aksi tahun ini. Aksi ini diikuti oleh lebih dari 150 mahasiswa dari universitas yang ada di Kota Malang dan sebagian besar diisi oleh perempuan. Massa yang tergabung bergerak sambil berorasi dari Kayu Tangan menuju Balai Kota Malang.
Secara singkat, femisida adalah pembunuhan atas perempuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), femisida adalah pembunuhan seorang perempuan oleh laki-laki karena kebenciannya terhadap perempuan. Dengan kata lain, femisida adalah tindakan misoginis atau kebencian terhadap perempuan. Mengutip dari Narasi.TV, istilah Femisida merujuk pada kekerasan yang paling ekstrim melebihi pelecehan dan kekerasan seksual. Sebab, femisida merupakan kejahatan ganda dan tidak bisa digolongkan sebagai pembunuhan pada umumnya, namun terdapat dominasi patriarki dibalik tindakan tersebut.
Ella, selaku salah satu partisipan aksi dari Universitas Brawijaya mengatakan bahwa femisida di Indonesia dan dunia Internasional sampai hari ini masih banyak ditemukan. Ia menerangkan, pada zaman dahulu perempuan dengan pengetahuan yang baru sering diberi julukan sebagai penyihir. Perlakuan perempuan dibakar, dibunuh, dituduh sebagai penyihir tidak berhenti di masa lalu dan masih terjadi hingga hari ini.
“Jadi ketika kita bilang itu masa lalu, bukan ya. ini masih terjadi sampai sekarang ini juga. Secara lokal dan secara internasional,” ujarnya.
Baca juga: International Women’s Day: Turut Menyoroti Dampak Program Makan Bergizi Gratis
Selain berdampak pada para pekerja, pemotongan anggaran ini juga dirasakan oleh perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Kelangkaan tabung gas elpiji yang sempat terjadi turut mempengaruhi aktivitas domestik bagi perempuan dan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Ella juga mengatakan bahwa masih banyak sekali isu-isu perempuan dunia terutama di daerah krisis yang memang perlu diperhatikan serta disoroti.
“Banyak sekali isu-isu di dunia seperti di Afghanistan dimana seorang tupai memiliki lebih banyak hak daripada seorang perempuan, gitu. Perempuan tidak boleh keluar sendirian tanpa suaminya dan harus tertutup dari atas sampai bawah. Lalu perempuan di daerah krisis seperti Yemen, Palestina, Kongo dan lain sebagainya itu juga perlu disoroti,” ujar Ella.
Lebih lanjut, Ella menanggapi bagaimana meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan femisida itu sendiri. Ia berpendapat semuanya dimulai dari percakapan yang dimiliki oleh lingkungan masing-masing. Ia menganggap yang dihadapinya bukan soal laki-laki, melainkan sistem patriarki yang telah merajalela di masyarakat. Salah satu bentuk perlawanan terhadap femisida itu sendiri terjadi ketika seseorang mulai melontarkan candaan yang berbau seksis.
“Kalau misalnya kalian mendengar jokes-jokes (candaan) yang merendahkan perempuan, mendiskriminasi dan lain sebagainya, bahkan hingga melecehkan perempuan, jangan ketawa. Mungkin kita ketawa untuk formalitas aja, tapi jangan. Ketika kamu diam, ketika kamu bilang itu tidak sopan, itu tidak boleh dikata, tidak boleh dibercandakan. Itu adalah sebuah aksi perlawanan,” katanya.
Baca juga: Aksi International Women’s Day: Menagih Ruang Aman dan Inklusif untuk Semua Gender
“Ruang aman itu pengennya untuk kesetaraan gender bukan hanya untuk laki-laki, tetapi bagaimana ruang aman yang disediakan oleh negara juga berlaku untuk perempuan. Karena kita tahu, bahwa hari ini perempuan sangat-sangat rentan untuk menjadi korban dari pelecehan, kekerasan, ataupun diskriminasi,” ujar Femina.
Sementara itu, Agatha selaku Komite Aksi IWD 2026 mengatakan perkembangan hak perempuan di setahun terakhir ini cukup masif tetapi diskriminasi yang ditujukan oleh kaum perempuan tetap terjadi.
“Kalau isunya sendiri ada pembunuhan dan juga kekerasan. Misalnya, ada juga kasus pembacokan yang terjadi di UIN SUSKA. Lalu, ada juga pelecehan seksual yang dilakukan terhadap anak oleh kakek dan bapaknya sendiri itu juga bisa,” ujarnya.
Agatha juga mengatakan bahwa ia merasa cukup puas terhadap aksi yang diselenggarakan hari ini. Hal ini dikarenakan massa aksi terlihat sangat aktif dan banyak hak dan isu perempuan yang disuarakan.
“Cukup puas, karena massa aksi ini sangat amat aktif dan juga banyak hal serta hak-hak perempuan yang disuarakan di aksi hari ini,” katanya.
Editor: M. Khozinatul Asror
Femisida International Women's Day iwd
Last modified: 11 Maret 2026

