Supyanto, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Kopmaswas), organisasi pengawas lingkungan Sendang Biru, memberi sambutan dalam acara menanam seribu pohon yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Tursina (20/4). Ditengah-tengah sambutannya Supyanto sempat menangis, menurutnya, ia terharu dengan kegiatan anak-anak muda yang mau meluangkan waktunya untuk merawat alam, “Ini merupakan angin baru bagi kami semua, saya terharu karena selama ini kami merasa sendiri,” ujarnya.
Supyanto merasa sangat menyayangkan sikap warga sekitar yang apatis terhadap keadaan lingkungan sekitarnya. Menurutnya hal itu dikarenakan mereka kurang mencintai lingkungan yang mereka tinggali, “Ya mungkin karena sebagian besar warga disini merupakan pendatang, jadi rasa cinta mereka terhadap lingkungan itu kurang,” tambah Supyanto.
Kopmaswas mengawasi, memelihara dan memperbaiki kawasan Sendang Biru dengan sukarela tanpa mendapat gaji dari pihak pemerintah. Sebelum terbentuk menjadi suatu organisasi, Supyanto bersama rekan-rekannya telah melakukan kegiatan-kegiatan perbaikan alam secara pribadi tanpa terorganisir, “jadi siapa yang peduli gitu ya yang kerja,” ungkapnya
Supiati, warga sekitar Sendang Biru mengakui selama ini ia tidak pernah ikut andil dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan Kopmaswas. Ia beranggapan setiap orang mempunyai pekerjaan dibidangnya masing-masing, dan ia hanya bekerja untuk bidangnya sendiri. Sehingga ia bahkan tidak tahu menahu tentang kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan alam, “Kebanyakan disini itu enggak pernah mau tahu kegiatan-kegiatan seperti itu, jadi kalo mau kerja ya kerja sendirilah,” tambahnya
Diakui Supyanto, kondisi pantai sendang biru saat ini sudah sangat memprihatinkan. seluas 30 hektare dari 76 hektare hutan bakau rusak parah. Melihat sikap warga yang apatis terhadap keadaan di lingkungan sekitarnya, Fahrur Rozi Nasution salah satu peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanaman seribu pohon, mengaku pesimis terhadap kelangsungan hidup pohon-pohon yang ditanam di Sendang Biru. Menurutnya, perlu ditanamkan kesadaran pada masyarakat yang masih belum tahu dampak dari ketidakpedulian masyarakat pada lingkungan kedepannya.
Supyanto beranggapan pohon yang terus menerus ditebang akan menimbulkan kegundulan, “Nah lereng-lereng seperti itu ya digundulin,” ungkapnya seraya menunjuk lereng bukit yang sudah terlihat gundul. “Itu kan enggak ada penahan (pohon) tanahnya, tanah itu akan tererupsi dan masuk kelaut, disitu menutup terumbu karang, sehingga terumbu karang mati, dan ikan semakin menjauh, sehingga masyarakat kecil itu semakin susah untuk mendapatkan ikan,” tambahnya. [Latifatun Nasihah]
Last modified: 18 Juli 2022
