Mbokyah Syarat Buta Warna Ditinjau Ulang

Akhir-akhir ini cuaca di Malang sedang dingin-dinginnya. Pernah beberapa hari lalu saat menjelang subuh, suhu udara mencapai 16 derajat celcius. Tak ayal saya yang biasanya tidak pernah bangun saat subuh semakin mantab untuk tidak bangun. Bak seorang cenayang, teman saya membaca gejala ini sebagai bulan bagi mahasiswa baru (maba) datang. Musim maba, katanya.

Berbicara mengenai maba, perguruan tinggi se-Indonesia sedang sibuk menyambut kedatangan maba, tak terkecuali UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Yups, saat ini perguruan tinggi yang terkenal dengan atapnya yang berwarna orange tersebut sedang sibuk seperti perguruan tinggi yang lain. Di lain sisi, para calon maba juga sedang sibuk-sibuknya menyiapkan berkas untuk daftar ulang. Sebagian mahasiswa lama pun tidak kalah sibuknya. Mereka sibuk menanggapi rasa penasaran dan haus informasi para calon maba.

Rasa haus informasi para calon maba ini terbukti dari jumlah notifikasi di grub Official MABA 2019 yang mencapai seratus pesan lebih hanya dalam kurun waktu kurang dari lima menit. Entah itu perkenalan dengan teman sejawat, kehidupan kampus mendatang, atau perihal berkas-berkas yang harus mereka lengkapi untuk daftar ulang. Seperti biasa, sebelum mereka benar-benar dianggap sebagai mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mereka harus mendaftar ulang. Mereka harus melengkapi berkas-berkas yang ditentukan seperti bukti pembayaran, fotokopi ijazah, hingga surat keterangan sehat dan tidak buta warna bagi Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek), dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

Saya jadi teringat sekian tahun yang lalu saat menjadi calon maba, saya juga merasakan kesibukan seperti mereka. Bagi saya waktu itu daftar ulang bagaikan berdiri di depan gerbang kampus dan hanya butuh selangkah lagi untuk memasukinya. Namun, saya yang merupakan calon mahasiswa baru FITK waktu itu hampir saja gagal untuk melangkah masuk hanya karena satu prasyarat yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Jika kalian amati, dalam perspektif saya mengenai atap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pasti kalian bisa menebak prasyarat apa itu. Yups, keterangan tidak buta warna bagi mahasiswa FITK.

Prasyarat tersebut biasanya diminta di akhir proses daftar ulang. Konyolnya,  di UIN Maulana Malik Ibrahim salah satu fakultas yang memberikan syarat tersebut adalah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Di mana dalam fakultas tersebut terdiri dari beragam jurusan; Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Agamai Islam, Menejemen Pendidikan Islam, dan lain sebagainya yang tidak semua ada hubungannya dengan warna. Coba pikir saja sendiri, apa hubungannya warna dengan Pendidikan Agama Islam? Bahkan di fakultas Saintek saja tidak semua jurusan membutuhkan syarat tidak buta warna, Matematika dan Fisika semisal. Untungnya waktu itu saya termasuk manusia yang cerdik. Saya mengakali surat keterangan tersebut dengan menyuruh seorang teman melakukan tes memakai kartu identitas saya (ini tips untuk mengakali syarat yang diskriminatif, silahkan ditiru dengan bijak).

Populasi penyandang buta warna memang hanya sedikit jika dibandingkan dengan milyaran populasi manusia di bumi. Perbandingannya 1:12 untuk perempuan dan 1:200 bagi laki-laki jika dilihat dari hereditasnya. Permasalahannya, sekelompok kecil orang ini kerap kali termajinalkan dan terdiskiriminasi. Entah itu dalam bersosial, pendidikan, ataupun dunia kerja. Dalam bersosial, mereka kerap kali dianggap sebagai sosok yang lian dan aneh. Bayangkan ketika orang-orang dengan penglihatan normal mengetahui jika temannya buta warna, kebanyakan dari mereka akan mulai melakukan serangkaian tes uji coba. Dimulai dengan menanyai warna baju, warna bungkus makanan, atau jika ada gawai yang terkoneksi internet mereka akan coba mendownload huruf-huruf Ishihara untuk memastikan kalau dia memang alien.

Sebenarnya diskriminasi terhadap mereka lebih dirasakan ketika menyangkut masa depan, salah satunya pendidikan. Pendidikan di indonesia memang belum ramah bagi penyandang difabel khususnya penyandang buta warna. Entah itu dari syarat yang tidak pernah ditinjau ulang sampai fasilitas yang disediakan. Tak ayal demi mengenyam pendidikan tinggi yang sesuai mereka harus melakukan misi-misi yang memacu adrenalin. Menerima misi seperti saya yang memalsukan identitas  atau memilih untuk berdamai dengan keadaan dan merelakan cita-citanya kandas begitu saja.

Perlu diketahui juga, jika buta warna khususnya parsial merupakan kelainan genetik sehingga sulit membedakan warna, terutama merah dan hijau. Gangguan tersebut bukan berarti tidak bisa melihat warna sama sekali. Namun pada kondisi tertentu, warna itu menjadi bias. Semisal saat dipadukan dengan berbagai warna lain, jarak pandang, dan pencahayaan tertentu.

Jika boleh curhat, penderitaan penyandang buta warna bukan karena menjalani hidup dengan melihat warna yang lebih sedikit. Tetapi lebih kepada penderitaan psikis. Menjadi spesimen uji coba teman-temannya hingga kesulitan mengakses pendidikan dan dunia kerja. Jadi saya harap untuk siapa saja yang berwenang, mbokyah syaratnya ditinjau dan dikaji ulang. Kasian manusia seperti saya yang diterima di dua jalur masuk dengan jurusan berbeda. Sial keduanya Fakultas Tarbiyah. []

Tinggalkan Balasan