Api yang Terbakar
Ku tatap sekelilingku
Ku tak melihat yang ditangkap mataku
Namun ku melihat tatapan kosong para jelata
Ditindas mata pongah tikus berdasi
Sungai kecil tak sadar menganak air di sudut mataku
Qalbuku berkecamuk
Diantara marah dan sedih
Antara benci dan cinta
Api menyala di jiwaku
Membara terbakar oleh ulah naga nusantara
Para penguasa negara tanpa rasa
Membunuh halus orang yang berkeringat untuk perutnya
Wahai para pemegang tahta
Kau orasikan cinta bangsa
Kau teriakkan patriotisme
Kau pekikkan nasionalisme
Dan dengan nikmatnya kau telan ludah sendiri
Tuhan sampaikan pekikkan kami untuk para pemegang kursi
Rona Belantara
Hari ini hari kau dilahirkan di bumi pertiwi
Darah biru pekat mengalir di dalam diri
Walau kau menangis tak megerti
Tapi semua tahu kau akan berarti
Kau membunga di tengah belantara
Mekar dengan pancaran surya
Lilitan benalu tak membuatmu sirna
Kau semakin merekah dan merona
Memang,
Aku tak bisa lagi mendengar nadamu
Tapi aku masih bisa bercengkrama dengan akalmu
Kau pelita bagi wanita-wanitaku
Kau Siapa?
Kau wanita gagal
Kau khianati dirimu sendiri
Kau lakukan yang kau hujati
Kau caci mulut moyangmu
Kau kritisi suara Tuhanmu
Lalu,
Santainya kemudian kau puji eluhkan
Bahkan mentaati
Dan,
Kau menjadi pahlawan bangsa?
Hah, untuk apa?
Penggerak wanita bisa?
Penentang perempuan paling berani?
Gadis paling peduli?
Hey, membuih di luar sana
Entah.
Bubur Kayu
Ku menatap dibalik dinding istana
Wajah-wajah cantik bergaris kasar
Tatapan pasrah tak meronta
Melangkah dengan lilitan di kaki
Bergerak kecil-kecil
Bahkan langkah manusia besi Jepang lebih besar darinya
Tak kuasa ku tahan gejolak diri
Melihat wanita di negeri tak kuasai diri
“A” dan “I” pun tak mengerti
Hati ini berteriak menyorak
Hey, ambil lah pena dan bubur kayu ini!
Kamu akan melihat dunia dan isinya
Suara hati siapa yang tahu?
Aku seorang putri yang mencintai istananya
Aku seorang dayak yang mencintai hutannya
Aku seorang manusia yang mencitai manusianya
Aku seorang wanita yang mencintai wanitanya
Itulah Aku
Tak lama tubuhku tegak di bumi
Tak luas tanah ku tapaki
Tak banyak tetesan air tubuh ku perasi
Tak banyak untuk ibu pertiwi
Ku tak pandai berkuda dan bersenjata
Gerakan yang ku tahu hanya pena
Tinta pembakar gejolak pahlawan sebenarnya
Itu yang aku ciptakan
Tak eluhkan puji dan tahta
Inginku darah biru dan merah sama
Harapku cantik dan tampan bersua
Tanpa sekat dalam
Gadis berakal bujang
Wanita bernapaskan pria
Bukan menyamai pun melangkahi
Bercita makan kertas juga
Agar tak bergantung penuh
Agar bisa mencerdaskan timangan
Darah penerus perjuangan
Bukankah guru pertama anakmu itu adalah wanita?
Lalu kenapa dengan bodohnya kau batasi ilmunya?
Hanya itu harapku
Itulah buah akal yang ku luapkan dengan tinta
Dia abadi, mengabdi untuk negri
Masih bertanya kenapa aku pahlawan?
Citaku untuk Anakku
Di alam yang tak lagi muda
Sudah banyak darah berjuangan tersimbah
Di jagat nan luas juga di tanahmu
Biar di luar sana mereka masih berdarah-darah
Kalian jangan
Tak pernah ku citakan pemberontakan
Apalagi pada anak-anakku
Mintalah dirimu agar kau punyai juga dirimu sendiri
Mintalah kertasmu agar bantu para lelaki
Tetap hargai bukan melangkahi dan menguasai
Sejatinya kau dan dia saling melengkapi
Bukanlah bersaing dan menyakiti
Tak usah khawatir
Kalian berposisi sendiri-sendiri
Kau perjuangkan hakmu tanpa lupa kewajibanmu.[]
emansipasi feminisme kartini perjuangan Puisi sastra
Last modified: 21 April 2019

