Terusir dari Tanah Sendiri
Musik perkawinan dilantunkan dengan mesra
dengan riuh bisingnya suara orang yang berbahagia tertawa
Bersatu jadi lebih utuh
dengan terihat duduk di singgasananya
Sedangkan aku?
Aku asik bermain dengan sepi
Menjadi pendengar mereka yang berbicara lirih
Mengusut semua yang terjadi pada ibu pertiwi
Ini bukan duka ataupun lara
Bukan pula senang atau bahagia
Ini iba
Cerita-cerita tentang kejayaan kerajaan yang tertulis pada kitab yang lalu
Hancur lebur bersama negeri yang dibangun dengan asa
Menelisik negeri ibu pertiwi
Jiwa-jiwa kelana ingin berpindah
negeri ini tak damai lagi katanya
Ada anak gadis berbaju merah pulang dari sekolah
tak dapati apa-apa di meja
Ibunya pulang dari pasar
dengan raut wajah biasa
karna utang menggunung
dengan laba yang tak dapat untung
Bapak ke sawah didapatinya cukong-cukong tanah rampas haknya
Ah sudahlah,
Barangkali inikah yang dijuluki damai ibu pertiwi?
Barangkali inikah pemandangan favorit tirani?
Penghuni negeri sengsara di negeri sendiri
Dara
Bajingan,
disematkan pada lelaki paruh bayah dengan wajah datar
yang menyusuri tiap ingatan
Setiap detiknya dapat dirasa
oleh saban gadis cantik dan molek tubuhnya
Kala itu hawa dingin selubungi senandung petaka
membuatku terlelap dalam pangkuannya
Indah kata-katanya berbisa gairah bejat
Dengan sedikit berbisik ke telinga
mengucapkan aksara-aksara yang kudengar seperti bencana
Terdengar risih, tapi aku tak ada lagi kendali.
Dia seperti tuhan ku satu malam.
Aku sangat mengetahui,
malam itu aku akan padam,
sebagai wanita perawan yang diagung-agungkan
Tangannya susuri tiap bagian diriku
Menjelma seperti angin
menjamah dengan bebas
Kuingat sepenuhnya
sampai dara ini benar-benar hilang
Aku mencoba memulihkan tiap ingatan,
tak ada lagi harga
tak ada lagi makna
Yang bisa kutemukan adalah ingatan terakhir yang kuharapkan
ketika dara ini kokoh
sebelum binasa oleh berahi bajingan itu.
Sundal
Sundal adalah kata yang cocok
pada langkah kakiku yang menyusuri dalam desa
Ke khilafan masa muda sebagai sebab
Aku dengan tubuh tak lagi muda
masih saja tidak lupa setiap sekonnya
setiap hitungan hangat tubuhmu,
dan kecupan-kecupan demi kecupan
kau sematkan pada bagian tubuhku
Hingga kita diambang batas gairah
Kemalangan jadi nasib
merusak mimpi yang tertata
Anak ‘haram’, kata mereka
lahir dari rahim ibu muda yang pernah zina
Ku kembalikan namaku pada mereka
masih tersemat ‘sundal’
Aku gagal dalam usahaku
Apa yang baik dari mereka yang menyematkan kata itu padaku?
Apa yang diterima sundal ketika merampungkan nasibnya?
Tetap saja,
hanya sumpah serapah yang mulai biasa ku dengar
Mereka Diam
Kembang itu hancur ketika tanganmu memasukkannya
Aku dengan akal setengah gila
mencoba mengembalikan asa yang kutumpuk sempurna
Semua suci yang terjaga, terambil seluruhnya tanpa permisi
ataupun memohon diri
Direnggut binatang-binatang berkaki dua bernafsu bejat
Ku suarakan sialku pada orang-orang penegak
pelindung rakyat, katanya
Mereka hanya sebagai pendengar
tanpa upaya dan usaha melindungi.
Banyak kasus, jadi alasan
Satu hari
Dua hari
Satu bulan,
tak ada warta bahagia
bajingan itu masih bebas lalu lalang dan tertawa
Aku benar-benar jadi mantan perawan yang gila
tangis jadi mati rasa
Apa guna aku hidup?
Aku menjauh dan semakin menjauh dari kenyataan
Mati jadi pikiran yang terus aku impikan
Aku bersanding bersama kefanaan
Hingga damai dan sial menjadi alasan
yang lebih baik menuju Tuhan. []
mahasiswaseni Puisi sajak sastra sastra perjuangan seni
Last modified: 27 April 2019

