Written by 09:47 Berita Kampus • 3 Comments

Samin Vs Semen Dinilai Membawa Pesan Sosialisme dan Komunisme

Samin2


Dr. Sakban Rosidi, M.Si, dosen Popular Culture di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memberikan kritik terhadap film Samin Vs Semen. “Jadi Film ini jelas membawa pesan, pesannya adalah pesan Sosialisme, pesan Komunisme, itu jelas gitu lho, kalau pembaca yang paling bodoh pun juga mengerti,” kata Sakban kepada Inovasi pasca pemutaran film Samin Vs Semen dalam acara Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) Fakultas Humaniora 22 Agustus 2015.

Film karya Watchdoc Documentary Maker ini, dalam sebuah teks yang termuat dalam filmnya menjelaskan bahwa film ini tentang pengikut ajaran SAMIN yang pernah menolak membayar pajak kepada pemerintahan kolonial belanda (1890). Pada bagian awal filmnya, memperlihatkan tampak udara wilayah pegunungan menuju areal pertanian yang kehijauan. Di sela-sela tayangan itu, terdapat teks-teks yang bertuliskan:

Mereka hidup di sepanjang Pegunungan karst KENDENG Jawa Tengah (Pada menit ke 00:41). Mereka disebut SEDULUR SIKEP atau orang SAMIN (01:02). 2006 PT SEMEN GRESIK akan membangun pabrik di Kecamatan Sukolilo, PATI, Jawa Tengah (01:28). Warga SAMIN menolak karena dianggap mengancam pertanian dan mata air (01:39). 2009 orang SAMIN memenangi gugatan di PTUN hingga Mahkamah Agung (01:47). 2009 PT SEMEN (GRESIK) INDONESIA mundur dari PATI dan pindah ke Kecamatan Gunem, Kabupaten REMBANG (01:54). 2010 – kini Grup INDOCEMENT masuk Pati dengan rencana pabrik di Kecamatan Kayen dan Tambakromo (02:06), ..tetangga desa orang-orang SAMIN (02:13).

Kemudian pada menit ke 02:25 tayangan tidak lagi menampakkan kehijauan pegunungan dan pertanian, melainkan pemandangan pembangunan pabrik yang kecoklatan dengan beberapa alat berat nampak beroperasi. Teks-teks dalam tayangan juga masih bermunculan, seperti:

PT SEMEN INDONESIA berhasil masuk Rembang dan mendirikan pabrik mulai 16 Juni 2014 (Pada menit ke 02:31). Kini sebagian warga Pati dan Rembang dibantu orang-orang SAMIN menghadapi SEMEN INDONESIA dan grup INDOCEMENT (02:40). Untuk para geolog, AHLI hukum, PAKAR lingkungan, pemerintah, media, PABRIK semen, POLISI, tentara, KREDITUR atau pemegang SAHAM.. (02:53) ..film ini hanya mengambil SATU sudut pandang.. …orang-orang SAMIN.(03:03)

Sakban mengatakan bahwa mahasiswa Sastra itu harus melihat bahwa media selalu punya perspektif. “Ia dibuat untuk kepentingan tertentu, Jadi kalau dia melakukan critical assessment to semen gresik, maka kita juga punya critical assessment terhadap film itu,” katanya. “Kita kan lihatnya begini saja, kalau anda tidak peka terhadap itu kemudian mengambilnya sebagai ideologi pergerakan ya goblok sekali anda. Wong film itu buatan, this is not reality, this is representation of reality. Jadi itu sudah mengalami pemilihan sudut pandang, pemilihan narasumber, pemilihan kata-kata. Jadi itulah gunanya kuliah cultural studies sama kuliah popular culture,” tambah Sakban. “Jadi kita nggak pernah kehilangan sikap kritis dalam situasi apapun, termasuk dalam film provokatif. Film itu kan sengaja dibuat untuk itu, kita sudah tahu. Bahwa memang negara kita itu cenderung berpihak pada kaum kapitalis, iya. Tetapi bahwa film itu memang sudah dirancang untuk membawa pesan, bukan membawa kenyataan, itu juga iya gitu lho,” tambahnya lagi.

Dandhy Dwi Laksono, Jurnalis Watchdoc yang memproduksi film Samin Vs Semen ini menanggapi pernyataan Sakban. “Seorang akademisi mestinya berpikiran terbuka. Membumbui komentarnya dengan ‘bodoh’, ‘goblok’, ‘provokatif’, adalah bertentangan dengan proses dialektika intelektual. Dia telah menjadi jaksa, hakim, dan algojo sekaligus pada sebuah diskursus sosial,” kata Dandhy. Ia menjelaskan kepada Inovasi, bahwa dalam film non explanatory (tanpa intervensi naskah/narator) ini, dasar perlawanannya ada pada diri orang-orang Samin di Pati yang telah menjelaskan tentang konsep keselarasan alam, alam sebagai faktor produksi, ketahanan pangan, pengolahan berkelanjutan, dan bahkan bicara jaminan masa depan bagi anak cucu dari tanah layaknya seorang fund manager membahas long term investment. Tanah sebagai “deposito” abadi dan asuransi.

“Bagaimana pandangan-pandangan seperti ini disederhanakan dalam label ideologis ‘sosialisme’ dan ‘komunisme’,” kata Dandhy. “Bila pun benar ajaran Samin mengandung nilai ‘sosialisme’ dan ‘komunisme’ so what? Apakah bung Sakban gelisah karena pandangannya mewakili eksponen kapitalis?” tambahnya. Ketika hendak dimintai tanggapan lebih lanjut, Sakban merasa tidak perlu berkomentar lagi. “Saya berada di luar kota sampai 29. Saya merasa tidak perlu berkomentar lagi.” Tulis Sakban kepada Inovasi melalui pesan singkat (24/8).

Dandhy menjelaskan bahwa di Karangasem, Bali, ada desa yang bernama Tenganan Pegringsingan. Menurutnya, desa itu memiliki tanah seluas 917 hektare dan tak pernah berkurang sejengkal pun. Karena tanah itu dimiliki secara kolektif (komunal), meski digarap secara individu/keluarga. Ketika Bali digerus ekspansi hotel dan industri wisata, tanah mereka utuh karena tanah tak boleh disertifikatkan atas nama pribadi dan tak boleh dijual. Bahkan jadi jaminan bank. Sementara desa lain penduduknya telah menjadi buruh-buruh wisata karena tak lagi punya tanah. “Bila suatu saat mereka mempertahankan tanahnya dari industri wisata, apakah dengan mudah dituduh sosialis atau komunis?” Tanya dandhy.

“Bagaimana beliau mudah melabel local knowledge atau local wisdom sebagai ‘sosialisme’ atau ‘komunisme’, saya malah khawatir beliau sendiri tidak paham kedua konsep tersebut,” tambah Dandhy lagi. "Saya tidak ingin memberi kuliah tentang sosialisme dan komunisme pada bung Sakban, karena saya ingin beliau membaca lagi semua referensi dan sejarah di Nusantara. Juga melakukan studi antropologis tentang ideologi-ideologi lokal yang ada di Tanah Air. Bila seorang pengajar ‘pop culture’ gagal menggali ini, saya sarankan para mahasiswa agar meminta dosen pengganti," kata Dandhy. Bahwa mengajak orang untuk kritis pada sebuah karya film, menurut Dandhy itu juga benar dan harus. “Itu juga tugas seorang pendidik. Tapi memberi penghakiman berdasarkan pemahaman konsep yang kedodoran, adalah cermin dari wawasan yang terbatas,” imbuhnya. [Rachmad Imam Tarecha]

(Visited 268 times, 1 visits today)

Last modified: 29 November 2015

Close