May Day; Tuntut Hak-hak Buruh Perempuan

Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Buruh bersatu tak bisa dikalahkan Ratusan massa yang terdiri dari buruh dan mahasiswa melakukan aksi May Day di depan Balai Kota Malang (01/05). Massa aksi tergabung dalam aliansi yang bernama Aliansi Rakyat Malang Bersatu (ARMB) dan berasal dari 29 organisasi. Mereka melakukan long

Pemaksaan Perkawinan; Antara Budaya dan Realita

International Women's Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret. Women’s March Malang (WMM) mengadakan diskusi dengan tema “Otoritas Tubuh dan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS)” untuk memperingati IWD tahun 2019. Diskusi yang membahas pro dan kontra RUU PKS ini diselanggarakan pada Sabtu, 9 Maret,

Belajar Kesetaraan Gender dari Film Kartini

Malang (31/01), Perpusatkaan Pusat Universitas Islam Negeri (UIN) Malang menyelenggarakan acara Nobar dan Ngupi (Nonton Bareng dan Ngupas Pilem). Acara tersebut mengundang Mundi Rahayu, Dosen Jurusan Sastra Inggris UIN Malang sekaligus pakar budaya dan media sebagai pemateri diskusi. Acara yang bertempat di Rumah Jurnal UIN Malang itu membahas film dengan

Menuntut Hak-Hak Buruh Perempuan

Buruh perempuan yang tergabung dalam Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) melakukan aksi unjuk rasa pada peringatan Hari Buruh Internasional (01/05). Aksi ini dilakukan di depan kantor Wali Kota Malang. Evi Afida, buruh Perusahaan Rokok Pakis Mas menuntut diwujudkannya situasi lingkungan kerja yang ramah perempuan. Evi, juga menginginkan adanya regulasi yang

Mengenang Kembali Supersemar

Bulan ini 52 tahun yang lalu, sebuah surat konon ditandatangani sang proklamator. Supersemar namanya, atau singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret. Berisi surat pengalihan pengamanan dari Presiden Soekarno kepada Jendral Angkatan Darat Soeharto. Dari surat itu pula sebuah rezim kelak berkembang dan bertahan begitu lama. Rezim ini menamai dirinya sebagai

Mengingat Sejarah, Menggugat Kekerasan di Aceh

Sebuah karya sastra seringkali muncul dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa kemanusian. Pramoedya Ananta Toer misalnya, karya-karyanya banyak yang menceritakan penjajahan Belanda, kerusuhan Orde Baru, dan pembantain komunis (yang sebagaian malah salah sasaran). Sepertinya Azhari juga demikian. Dalam kumpulan cerpen (kumcer) berjudul “Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi”