Written by 23:03 Berita Kampus

Kasus Basri, Resonansi atau Provokasi?

Aliansi Mahasiswa dan Dosen Anti Kekerasan (25/2), menuntut dicopotnya Basri Zain dari jabatannya sebagai Wakil Dekan 1 Fakultas Humaniora.

Aliansi Mahasiswa dan Dosen Anti Kekerasan (25/2), menuntut dicopotnya Basri Zain dari jabatannya sebagai Wakil Dekan 1 Fakultas Humaniora.

“Pecat, pecat, pecat Basri Zain, pecat Basri Zain sekarang juga!” pekik Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Dosen Anti Kerkerasan di depan Rektorat (25/2). Mereka menuntut rektor tegas, dan meminta agar Basri Zain dilengserkan dari jabatannya sebagai Wakil Dekan 1 Fakultas Humaniora. Alasannya, Basri diduga tidak mengindahkan etika akademik. Dalam selebarannya, Aliansi Mahasiswa dan Dosen menuding Basri telah melakukan tindak pemukulan secara fisik dan intimidasi terhadap beberapa mahasiswa dan dosen.

Tuduhan intimidasi itu semua bohong menurut Basri, “Mereka diprovokasi,” katanya. Basri yang sebelumnya ditemui Inovasi (23/2) mengatakan, “Mahasiswa yang bersangkutan itu saya dengar membuat surat untuk memecat saya, ditujukan kepada Wakil Dekan dan Kabiro, itu pencemaran nama baik,” katanya. Menurut Basri, yang bersangkutan sempat menantang dirinya, “Silahkan saja Pak proses hukum,” katanya menirukan. Setelah itu mereka bertemu untuk bicara secara baik-baik, ketika hendak pergi, Basri mengaku hanya memegangnya, tidak ada pemukulan seperti yang dituduhkan. Sebelumnya yang bersangkutan, menurut Basri, meminta sumbangan untuk menulis buku, tapi ia menolaknya.
Aksi Aliansi Mahasiswa dan Dosen ini merupakan aksi lanjutan, setelah sebelumnya melakukan aksi di depan Fakultas Humaniora, (23/2). Pada aksi lanjutan ini, mereka yang berjumlah puluhan orang melakukan long march berkeliling kampus. Setibanya di pintu gedung rektorat, mereka berorasi sambil mengarahkan moncong toa ke arah pegawai rektorat dan mahasiswa yang menonton dari lantai atas.

Mereka kemudian memaksa masuk. Karena rektor tidak ada ditempat, mereka mengancam akan memboikot acara sosialisasi beasiswa S1 di lantai 5 gedung rektorat, lantas Satuan Pengamanan Kampus (Satpam) mendesak mahasiswa mundur keluar gedung. Dalam acara sosialisasi tersebut, mahasiswa berjubel, bahkan sampai tak kebagian tempat duduk. Berbeda jauh dengan massa aksi yang hanya puluhan orang.

“Mahasiswa diam saja, nggak bisa berbuat apa-apa, karena mereka merasa tidak ada gerakan-gerakan yang mampu menghasilkan resonansi, kami ingin memulai resonansi itu, kami ingin memulai gerakan itu, menyadarkan mahasiswa bahwa ini adalah perjuangan bersama,” kata Abdurrahchman Sofyan, koordinator aksi yang diwawancara disela-sela massa aksi.

Basri, (23/2) mengatakan mereka tidak bergerak sendiri, ada kelompok yang memanas-manasi. “Kalau gerakan itu betul-betul representatif, dan menyalurkan semua aspirasi mahasiswa, saya kira yang bergerak bukan hanya puluhan orang,” katanya. “Kalau kesalahan saya fatal dan yang disampaikan faktual, menurutnya mahasiswa akan datang semua.” Menurutnya, ini imbas dari ketidaksukaan orang-orang tertentu dengan kebijakannya yang memfasilitasi mahasiswa lulus tujuh atau delapan semester. Baginya S1 tidak harus meneliti, tidak seribet sebelumnya. “Segala cara digunakan untuk menghantam dan juga memfitnah saya di whatsapp,” katanya. [Rachmad Imam Tarecha]

(Visited 38 times, 1 visits today)

Last modified: 26 Juli 2015

Close