Written by 11:35 Berita Kampus, Straight News

Mahasantri SMS, Rektor Blusukan

Selasa (25/03) Mabna Khadijah, salah satu asrama putri di Ma’had Sunan Ampel Al-Aly (MSAA) kedatangan Mudjia Raharjo -rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki)- bersama Totok dan rekannya seorang teknisi pengairan lingkungan UIN Maliki. Hal ini membuat mahasantri mabna Khadijah berlarian keluar dari kamar untuk menyaksikannya. Pasalnya, kedatangan mereka ini tidak terencana. Mereka datang untuk menanggapi pesan singkat yang dikirim oleh mahasantri mengenai masalah matinya air di kawasan ma’had (asrama) putri.


“Assalamu’alaikum, dengan segala hormat, kami mahasantri MSAA memohon dengan sangat agar masalah air yang mati segera ditangani. Karena sudah lebih dari satu minggu airnya mati. Kami kesusahan sekali pak, mohon segera diatasi. Terimakasih atas perhatian bapak. Wassalamu’alaikum wr.wb,” demikian isi pesan singkat yang dikirim Izzah, mahasantri mabna Khadijah kepada rektor.


Usaha mereka pun berhasil membawa rektor dan rekan kerjanya datang untuk memberikan penjelasan perihal matinya air yang telah berlangsung kurang lebih satu minggu ini. Dalam penjelasannya, rektor mengatakan bahwa kematian air ini disebabkan oleh debit air yang turun. Selain itu juga terdapat sedikit masalah pada pompa air yang terdapat pada kedalaman 80 meter dari permukaan tanah. Dia juga menghimbau agar mahasantri berempati.


Izzah mengaku kurang setuju dengan himbauan rektor agar mahasantri berempati. “Kita ini harus berempati seperti apa? Kita ini yang merasakan,” ucap Izzah. Ia mengaku kerap kali pulang ketika air di asrama mati. Ia mengajak beberapa temannya yang mempunyai jadwal kuliah siang saja untuk mandi di rumahnya, karena butuh waktu yang cukup lama untuk menuju kampus dengan angkutan kota. Selain itu Izzah mengaku pengeluarannya juga bertambah sejak matinya air. “Jelas ini menambah pengeluaran kami. Hanya untuk mandi saja kami harus mengeluarkan uang lagi sebagai ongkos angkutan. Belum lagi baju-baju yang tidak bisa kami cuci sendiri, sehingga kami harus mengeluarkan rupiah lagi untuk meggunakan jasa laundry,” tambahnya.


Hal itulah yang menyebabkan beberapa mahasiswa bertekat memperjuangkan haknya. Sebab menurut mereka kewajiban membayar telah dilaksanakan, tetapi haknya kurang terpenuhi. Mereka merasa penanganan masalah air ini sangat lamban, sehingga mereka nekat melapor langsung pada rektor.


Mudjia mengaku bahwa dirinya baru saja menerima kabar tentang matinya air kemarin malam (24/03), sehingga ia tidak setuju ketika mahasantri mendesaknya untuk segera mengatasi. Sebab menurutnya, tidak perlu diminta pun mereka pasti akan menanganinya, “Berita ini baru sampai ke saya tadi malam ketika saya di Jakarta (24/03). Salah siapa baru bilang saya tadi malam? Sejak tadi pagi saya belum mengerjakan apapun selain ngecek air,” jelas Mudjia.


Pihak asrama sendiri mengaku telah melaporkan masalah air ini pada pihak rekrorat sejak awal matinya air. Namun nyatanya terdapat kelambatan datangnya informasi pada rektor. “Nah kami kan hanya penyambung, bukan tukang. Tugas kami hanya menyampaikan ke atasan. Kami laporkan air mati mulainya kapan, hidupnya kapan. Kalau kita jelas sudah melapor sejak awal air mati. Hanya saja pak Mudji nya tidak tahu. Saya kan tidak tahu masalah birokrasi di rektorat seperti apa. Tapi yang pasti tim pengairan itu tahu semua,” jelas Enni Mutiati, selaku koordinator mabna Khadijah.


Dalam penjelasannya Mudjia mengatakan akan menyetok air sebanyak sepuluh tangki dari PDAM pada hari berikutnya untuk sedikit mengurangi kesulitan mahasantri selama proses pembenahan pompa air yang juga dalam masalah teknis. Karena pada idealnya, untuk memenuhi kebutuhan air di asrama putri pihak bagian umum harus membeli 80 tangki air dalam sehari. Sedang dalam proses pemulihan, mahasantri harus sabar menunggu tiga hari lagi untuk dapat kembali hidup normal. [Miftahu Ainin Jariyah]

(Visited 17 times, 1 visits today)

Last modified: 18 Juli 2022

Close