Kata orang, sekarang musim hantu. Ya, semuanya merasa takut diganggu oleh makhluk tak kasat mata itu. Mereka bisa bersemayam, terbang, atau malah hinggap di pundak manusia. Meski katanya ia ada di mana-mana, para alim, cenayang dan anak indigo pun tak bisa melihat jenis hantu itu. Pemerintah sudah memberi dekrit agar penduduk setempat berhati-hati dari gangguan hantu ketika beraktivitas. Diyakini kalau hantu-hantu itu suka mengutuk dan meracuni diam-diam.
**
Ia tampak bersenang-senang di pundak seorang anak. Sudah lima hari setelah pesta ulang tahun ketujuh si Anak, sang Hantu menungganginya ke mana pun dia pergi. Si Hantu membelai pelan hidung, wajah dan tapak tangannya. Tampak racunnya menempel di atas kulit. Ia semakin kegirangan tatkala si Anak bersalaman dengan ayah-ibunya sebelum pergi bermain, meninggalkan bercak di bibir ibu dan tangan ayah. Dia mengambil topeng dan pergi. Tak berselang lama, hantu lain pun menunggangi ayah dan ibunya, melakukan hal yang sama; racun menyebar, kutukan sudah di mulai. Para hantu bergembira.
Hai nak, aku temani kamu ya. Lihat, ini racunku dan ini kutukanku, mengalir dalam nadimu. Oh, lihat! Temanmu juga berteman dengan kami. Tenang saja, kami tidak merasuki seperti hantu lain. Kami hanya ingin mengajakmu bermain operaku nanti… Oh! Kau sudah menyiapkan topeng itu. Apa yang hendak kau lakukan, Nak?
Si Anak bertemu beberapa anak lain di tanah lapang dekat rumahnya. Mereka juga bertopeng penangkal hantu. Mereka tidak sedang bersandiwara. Mereka sudah lama memakainya selagi keluar rumah. Sekolah mereka sudah ditutup berbulan-bulan oleh pemerintah. Mereka belajar daring dengan guru mereka. Dan di akhir pekan ini adalah waktu bagi mereka, juga para hantu bermain seharian. Sang Hantu mendelik senang dengan pertemuan si Anak dengan teman-temannya.
“Uh, topeng ini bikin sesak saja ya.” ucap si Anak.
“Iya nih, lepas saja yuk!” jawab temannya.
“Yooo…!” mereka melepas topeng dan memasukkannya di saku celana.
Oh oh! Kau melepasnya! Ah… Lihat, racunnya beterbangan! Kabut itu… terhirup, tertelan dan oh! Kau, kau bersalaman lucu sekali dengan mereka!
Si Anak dan teman-temannya saling bersalaman dengan berbagai tos dan gaya. Lalu, setelah berunding, mereka pun memutuskan bermain petak umpet, benteng dan tembak-tembakan dari siang sampai petang tiba. Berjam-jam mereka bermain sampai lelah. Salah satu dari mereka membeli minuman es dalam plastik. Satu per satu mereka menyeruput dengan sedotan.
Wah, Nak, penatmu sungguh memuaskanku… Dan es itu melebur, masuk ke dalam mulut temanmu, uh…
Sebelum maghrib, anak-anak itu pulang ke rumah masing-masing. Pekan itu sangat menyenangkan bagi si Anak.
Wah, menyenangkan bukan, nak? Babak pertama opera ini… Kunamai Inkubasi. Mari nak, kita berlanjut ke babak kedua…
**
Tergolek di pembaringan, si Anak terlihat tak berdaya dengan demam tinggi. Wajahnya pucat pasi bak melati layu. Ibunya semakin panik tatkala panasnya semakin naik selama tiga hari itu. Ia pun segera menghubungi suaminya. Sembari duduk di samping kasur anaknya, si Ibu sesenggukan menjelaskan kondisi si Anak, suhu tubuhnya sudah 38° C. Di lain tempat, suaminya mendengar sambil menyetir mobil menuju rumah. Tatapannya menegang dibalik topeng penangkal hantu. Sementara, Sang Hantu menatap kejadian di ujung kasur dengan senyum iba.
Malangnya kamu, Nak… Kita baru mulai di babak kedua di pentasku, dan kamu sudah terlihat payah. Bertahanlah, Nak. Kamu pasti menantikan babak selanjutnya operaku ini, aku akan selalu menemanimu…
“Jangan khawatir, Nak. Ayah sebentar lagi datang. Kita akan ke rumah sakit ya…”, si Ibu menggenggam tangan hangat anaknya. Si Anak hanya mengiyakan ibunya dengan suara berat. Tak lama kemudian, pintu depan rumah terbuka dengan keras oleh si Ayah. Tanpa basa-basi, Ayah bergegas menuju kamar anaknya dan menggendongnya ke dalam mobil. Ayah mengingatkan Ibu untuk membawa barang yang diperlukan, tak terkecuali topeng-topeng hantu itu. Mobil itu pun melaju cepat menuju rumah sakit.
“Ayah…,” Ibu memulai percakapan dari kursi belakang dengan anaknya tertidur di pangkuannya. “Mungkin kah anak kita terkena kutukan itu?” ia masih menangis.
“Tidak, bu. Aku harap itu tidak terjadi sekarang…” Ayah menjawab.
Tidak, itu memang sedang terjadi, Yah.
“T-tapi, gejalanya sangat mirip…”
“Bu, jangan pikirkan itu! Berdoalah semoga anak kita sembuh dari demam ini.” wajah Ayah mengerut, ragu akan ucapannya.
“Uhuk, uhuk…” si Anak terbatuk kecil. Suaranya yang teredam oleh topeng di mulutnya semakin mencemaskan orang tuanya.
“Duh Gusti…”si Ibu merintih seraya merapal doa dalam hati. Tak henti ia mengelus rambut anaknya. Sang hantu sudah duduk di ujung kaki si Anak, memberi senyum kepada mereka.
Oh Ibu, jangan bersedih. Buah hatimu akan terbebas nanti. Ia akan bergembira lagi. Jangan khawatir, aku selalu menemaninya. Oh Ayah, jangan meragu. Aku kan mengobati anakmu hingga ia sembuh. Iya, kan, temanku? Tidurlah dulu. Nikmati babak kedua ini.
Sesampai di rumah sakit, si Ayah langsung keluar dan menggendong anaknya masuk. Perawat di loket masuk dengan jubah menutupi sekujur tutupnya langsung menginstruksikan kepada perawat lain agar anak itu segera ditangani dalam ruang isolasi kutukan. Kedua orang tuanya juga dimasukkan ke dalam ruang khusus untuk menetralisir racun dari tubuhnya. Selepas masuk bilik yang menyiramkan air suci, si Ayah dan Ibu diisolasi dalam ruangan pasien tanpa gejala. Mereka pun menerima keputusan dokter dan perawat.
“Maafkan kami, pak. Tapi ini adalah protokol kami untuk menghentikan penyebaran kutukan hantu ini. Untuk dua minggu ke depan, bapak dan ibu akan dikarantina dalam ruangan terpisah agar memutus kontak kutukan ini. Dan untuk anak Anda, saya yang akan menjadi dokternya. Saya akan berusaha semaksimalnya hingga ia sembuh” ucap dokter ketika menemui pasangan itu. Sementara itu, si Anak sudah dibawa dengan kasur jalan menuju ruang isolasi khusus bagi pengidap kutukan.
“Baik dokter, kami akan selalu mendoakan dokter agar berhasil menyembuhkan penyakit anak saya.” Ayah menjawab si Dokter. Istrinya juga menyahut hal sama.
“Ya, besok saya akan kabari apakah ini kutukan atau demam biasa. Terima kasih atas doanya, sebaliknya saya akan berusaha. Mari, saya tunjukkan ruangan anda masing-masing.” Si Dokter berbalik dan membawa kedua pasiennya.
Si Ayah dan Ibu hanya saling bertatap. “Bersabarlah, sayang…” ucap Ayah. Ibu meyakini senyum dibalik topeng suaminya. Dia mengangguk selagi tetes air matanya terus mengalir.
Dua jam berselang tes kutukan, si Dokter terkejut dan langsung menyuruh perawat agar si Anak dipindah ke ruang ICU khusus kutukan. “Ini, positif dan gejala berat…” bisiknya dibalik jubah dan topeng putihnya. “Kita akan segera memasang alat infusnya. Juga beri dia obat anti demam untuk mengurangi gejala.” instruksi Dokter kepada perawat.
Bukannya itu indah, Nak? Mereka sungguh menyayangimu. Namun sekarang, kamu harus mandiri menyaksikan opera ini. Lihat, aktor-aktor ini sudah berpengalaman. Dan panggung ini, wah, penuh dengan warna putih. Warna terindah milik manusia. Uh oh, aku melihatnya. Kutukannya sudah mendidih dan racunnya menyatu dalam napasmu. Dan kamu melepas percik kembang api dari mulutmu berkali-kali. Indah sekali… Indahnya babak Gejala ini…
**
Ruang ICU itu tampak sangat tegang. Si Dokter tak sedetik pun meninggalkan ruangan itu sebab kondisi si Anak melemah. Suhunya semakin tinggi dan anak itu tak lagi tertidur, ia tak sadarkan diri. Ia menempelkan stetoskop di atas dada anak itu.
“Bagaimana, Dok?
“Persiapkan alat operasi. Anak ini mulai tidak mampu bernapas. Bronkusnya mulai tersumbat akibat lendir racun dan dia bisa terkena pneumonia. Kita akan berusaha memulihkan paru-parunya.”
“Baik, Dokter…”
Dokter mengusap peluhnya. Kejadian ini hanya terhitung beberapa kali dalam karirnya. Dia selalu bertaruh pada keberuntungan di saat-saat itu. Dan dia harus menggulir dadunya lagi sekarang. Kini ia bimbang sebab kutukan ini sudah hampir mencapai batas akhir dan yang pertama kali terjadi dalam hidupnya. Pada akhirnya, dia tetap memakai sarung tangan itu.
**
Selamat nak, kamu telah sampai di babak terakhir operaku. Lihat, indah bukan? Kunamai ini babak Korona! Bagaimana? Kamu anak yang tegar ya, nak. Tetap bisa bertahan menonton ini. Pertama, kita matikan dulu lampunya. Lalu, saksikanlah…! Tirai-tirai tersingkap itu akan menampilkan tayangan yang kamu kenal, bukan?
Dia tak lagi melihat cahaya-cahaya ruangan itu lagi. Si Anak memasuki gelap dan menyaksikannya, kenangan-kenangan yang ia ingat. Dia tampak menghayati dengan gurat kecil senyuman.
Oh, lihat! Itu ulang tahunmu seminggu lalu! Wah itu pertemuan pertama kita, iya kan? Aku begitu terpana, kamu begitu bahagia saat itu. Kue itu… Kamu dan teman-temanmu sungguh dekat. Kalian bahkan saling mencicipi kue kalian. Lezat sekali…
Dan oh! Kamu melihatnya? Kalian bermain dengan riang dari siang hingga petang. Dan kalian juga berbagi penat dalam minuman itu. Kalian pun menyimpan momen itu dan ingin mengulang esok hari. Masa-masa kecil yang indah sekali…
Dan oh… Itu tiga hari lalu… Kamu sakit dan ibumu bersedih. Ayahmu tergesa-gesa mengantarmu ke rumah sakit. Ibumu sampai menangis seperti itu, dia pasti sayang padamu, nak. Lalu, kamu tersesat entah di mana. Namun tak apa, kamu akan terbebas sekarang. Bersamaku, opera ini kita tutup…
Si Anak tak lagi melihat apa pun. Hanya putih…[]
*Penulis berasal dari Banyuwangi sekaligus alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan S1 di UIN Maliki Malang.
Last modified: 01 Juli 2021

