Cerita di Rantau Hingga Susahnya Lapangan Kerja di Kampung Halaman

“Saya memilih merantau ke Bali karena letaknya lumayan dekat dengan Jawa, sehingga kalau kita ada keperluan mendadak bisa pulang cepat,” jelas Lovi. Setidaknya itu adalah salah satu alasan ia dan beberapa lainnya memutuskan merantau ke Bali sebagai buruh bangunan.


Empat tahun silam, ia yang kerap disapa Mas Lovi ini pergi merantau bersama keluarganya. Sang istri pun, Intan Indriani Malibu, juga turut serta menemani di tanah rantauan. Intan mengaku tidak keberatan saat harus mengikuti suami untuk meninggalkan kampung halaman. Ia justru merasa keikutsertaannya merantau ke Bali dapat meningkatkan penghasilan bagi keluarganya.


“Di sini saya bisa ikut kerja nambah penghasilan suami,” terangnya. Selain pasangan tersebut, terdapat lebih dari lima kepala keluarga lainnya di desa Kecik, Bondowoso yang merantau ke Bali dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena sulitnya mencari lapangan pekerjaan di kota Bondowoso. Rata-rata dari mereka merantau untuk menjadi buruh bangunan seperti Lovi dan sebagian lagi ada yang bekerja sebagai pedagang.


Mengutip dari Setyobakti (2017), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) adalah salah satu faktor yang digunakan untuk pengukuran tingkat kesejahteraan suatu daerah. Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah perekonomian masih menjadi sorotan penting bagi penduduk desa, termasuk di Desa Kecik, Bondowoso.


Peluang pekerjaan yang lebih banyak tentu menjadi faktor utama mengapa penduduk desa lebih memilih merantau ke kota tersebut. “Ke Bali karena pekerjaan jauh lebih banyak daripada di rumah,” ungkap Lovi. Selain lovi, perantau lain juga mengatakan bahwa alasan mereka pergi merantau adalah karena kurangnya lapangan pekerjaan, “di Bondowoso itu susah mendapatkan pekerjaan” ungkap Nur Kholis, pemuda desa Kecik yang juga merantau ke Bali.


Di Kota Bondowoso yang tergolong kota kecil, memang cukup sulit menemukan lapangan pekerjaan yang menjanjikan apalagi bagi penduduk desa yang tidak memiliki lahan pertanian dan tidak memungkinkan bekerja di bidang tersebut. Terlebih di desa Kecik sedikit orang yang berpendidikan tinggi, untuk itulah merantau sebagai buruh bangunan di Bali merupakan pilihan terakhir bagi mereka, mengingat pekerjaan tersebut tidak menuntut pekerjanya untuk berpendidikan tinggi.


Alasan lainnya yang disampaikan oleh Lovi adalah harapan pada penghasilan yang memadai. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan merantau kehidupan warga menjadi lebih sejahtera, tak sedikit dari mereka yang saat ini dapat dikatakan mampu setelah memutuskan merantau. 


Biasanya mereka yang bekerja sebagai buruh bangunan dapat meraup gaji di atas dua juta rupiah tergantung dari keahlian dan kontribusi mereka dalam proyek. Lovi sendiri mengatakan penghasilannya di perantauan sudah lebih dari cukup, hal tersebut juga didukung karena memang Lovi termasuk ahli dalam pekerjaan tersebut, “Kisaran perbulan bisa dapat kurang lebih 4 juta perbulan,” ungkapnya.


Tetap “Mesra” di Rantau


Masyarakat desa Kecik yang merantau dan menjadi buruh bangunan di Bali terbagi menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing mandor. Mandor inilah yang akan menjadi pimpinan mereka serta bertugas untuk merekrut para pekerja yang bersedia untuk merantau. Terdapat dua mandor yang berasal dari desa Kecik salah satunya adalah Bawon Supriyadi yang sudah 20 tahun lamanya memilih merantau ke Bali.


Bawon sebenarnya adalah warga asli Tanggul-Jember namun dirinya menjadi warga Kecik saat menikah dengan Anita Wahyuni yang merupakan warga asli desa Kecik. Namun setelah menikah dia memboyong keluarganya ke Bali dan memilih menetap di sana, “saya memilih menetap di Bali ini karena memang bidang pekerjaan saya ada disini,” ungkapnya.


Desa Kecik Lojajar Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso. Foto: UAPM INOVASI/Irma Aminullah (17/08)

Istri Bawon, Anita Wahyuni juga ikut suaminya untuk menetap di Bali karena merasa di sana perekonomiannya lebih bagus dan cocok dengan keahliannya, “Buat saya prospek perekonomian di sini lebih bagus dan cocok dengan keahlian yang saya punya,” jelas Anita. 


Bahkan anak mereka mengatakan tidak keberatan saat orang tuanya mengajak untuk meninggalkan kampung halaman dan mengharuskan dirinya melanjutkan pendidikan di sana, “Saya ikut orang tua merantau sejak saya masih balita jadi adaptasi soal lingkungan sangat mudah saya jalani dan juga lingkungan di sini sangat menyenangkan jadi sama sekali tidak merasa keberatan ikut orang tua merantau,apalagi di Bali salah satu tempat yang banyak wisata nya. Untuk pendidikan sih saya gak masalah sama sekali ya, karena memang dari kecil sudah di Bali jadi untuk melanjutkan pendidikan sama sekali tidak ada masalah,” cerita Ricky Aris Maulana anak sulung dari pasangan tersebut.


Senasip dengan pasangan Bawon-Anita, pasangan Lovi-Intan pun yang memiliki anak balita tidak menjadi masalah bagi pasangan ini untuk pergi merantau. Lovi mengatakan bahwa dia tidak akan menetap di Bali dan akan berhenti merantau saat anaknya sudah harus daftar sekolah, nantinya dia akan mencoba membuka usaha di desa saat waktu itu tiba. Hasil pekerjaannya di tanah rantau akan ia tabung sebagai bekal anaknya sekolah, hal ini juga dikarenakan bagi Lovi biaya pendidikan di Bali cukup tinggi. “Saya tidak akan menetap, dan akan berhenti sampai anak waktunya sekolah,” terangnya.


Bagi para perantau yang tidak menetap seperti pasangan ini biasanya akan pulang ke desa tiga kali dalam setahun yaitu saat perayaan besar misalnya saat hari raya idul fitri, hari raya idul adha, dan maulid nabi. Namun, jika terjadi kepentingan mendesak mereka biasanya akan langsung pulang ke desa.


Memikul Beban Tanggung Jawab dan Mencari Pengalaman


Sebagai seorang perantau, mereka memiliki tekad untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, “Sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga, dan agar bisa memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga setiap harinya” ungkap Wasil Musthofa, salah satu warga yang juga sudah cukup lama merantau ke Bali. Wasil mengakui bahwa dia memiliki anak yang sudah memasuki jenjang perguruan tinggi, sedangkan istrinya hanyalah ibu rumah tangga. Hal tersebutlah yang membuat Wasil harus merantau ke Bali agar kebutuhan keluarganya tercukupi.


Selain itu, juga ada sebagian warga yang memilih merantau untuk mencari pengalaman untuk bekal masa depannya, hal ini diungkapkan oleh salah satu remaja desa Kecik yang sudah mulai merantau meski usianya baru menginjak 20 tahun, “Dan masa depan yang lebih baik,” ungkap Muhammad Rega As’at Diansyah salah satu dari sekian banyak remaja Desa Kecik yang sudah mulai merantau sejak lulus SMA.


Sebagai perantau senior, Lovi memberikan saran pada remaja desa agar berusaha mencari pekerjaan di kota sendiri saja, karena menurutnya bekerja di kota sendiri lebih enak dan tidak mengharuskan mereka untuk berpisah dengan keluarga di masa remaja, “kalau kiranya masih ada pekerjaan di kota sendiri mending kerja di kota sendiri,” pungkasnya.


Alasan-alasan di atas dibenarkan oleh kepala desa Kecik Muhammad Ervan Anggani, beliau mengatakan bahwa alasan warga desa memilih merantau adalah karena gaji di Bali lebih besar dan untuk mencari pengalaman bagi para pemuda, “pertama bagi yang tua-tua adalah gaji di Bali lebih besar ketimbang di Bondowoso, kalau pemuda-pemudanya di samping mereka niat bekerja di Bali, mereka ada niatan lain, yaitu mencari pengalaman ke pulau Bali karena alasan keindahan pulau Bali yang terkenal sehingga mereka tertarik untuk merantau ke Bali,” jelasnya (10/08).


Namun disamping itu, Ervan membantah jika kurangnya lapangan pekerjaan di jadikan alasan warga memilih merantau, karena menurutnya warga bisa memanfaatkan tanah subur di Bondowoso dengan menjadi petani, “sebenarnya tidak sulit, kalau warga Bondowoso mau bertani atau jadi buruh tani, sangat gampang untuk mendapatkan pekerjaan di tanah yang subur Bondowoso ini,” terangnya.


Banyaknya para perantau, lanjut Ervan, sama sekali tidak berdampak terhadap agenda desa, seperti Pemilu dan agenda lainnya, “Sebenarnya tidak berdampak apa-apa karena saat ini perantau yang ke Bali sudah banyak berkurang, hanya 5% dari saja dari 600 penduduk warga Kecik, mengingat pemerintah desa atau kabupaten atau TNI polri sudah berusaha membantu untuk mencegah mereka merantau, salah satunya memberi bantuan berupa alat perdagangan, alat pertanian dan lainnya. Bahkan ada bantuan uang maupun beras,” jelas Ervan.


Selaku kepala desa, ia berpesan agar para pemuda desa tetap semangat dan tidak putus asa, “Pesan saya untuk pemuda khususnya di dusun Kecek, contohnya kakak-kakak kalian yang sukses, bahkan sudah menjadi dosen di perguruan tinggi ternama, menjadi guru dan mempunyai pekerjaan yg bermanfaat bagi orang lain.” []


Editor : Wildan Firdausi

Foto : Irma Aminullah


Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
LOKER ISU REDAKSI
merupakan wadah yang disediakan bagi seluruh sivitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan masyarakat umum yang ingin menyalurkan isu untuk diangkat menjadi berita.
Klik di sini
MARI BERKONTRIBUSI
kami menerima karya dari kalian yang ingin menyuarakan gagasannya melalui tulisan
Klik di sini
Previous
Next