Written by  _&_  23:43 Berita Kampus, Straight News

Humor Seksis di Ruang Publik PBAK-U 2022

Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) 2022 tingkat Universitas (22-23/08) menjadi salah satu agenda di mana ruang publiknya digunakan untuk melontarkan humor seksis oleh beberapa pihak. Humor seksis tersebut hadir secara berturut-turut di hari pertama dan hari kedua pelaksanaan PBAK-U 2022. Tepatnya, hal tersebut dilakukan pada sesi pengisian materi yang disampaikan oleh perwakilan dari jajaran birokrasi mahasiswa maupun universitas.


Hari pertama saat penyampaian materi Bidang Kemahasiswaan, Ahmad Fatah Yasin memperkenalkan dirinya sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswian bukan Kemahasiswaan. Ia juga mengucapkan kalimat yang disambut gemuruh ramai dari mahasiswa baru, yakni terkait dirinya yang hanya mengurusi mahasiswi saja “kalau mahasiswa ndak tak urusi, yang saya urusi mahasiswi,” ucapnya. Beberapa saat setelahnya, ia kemudian mengklarifikasi ucapannya tersebut bahwa alasan ia mengaku sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswian adalah karena jumlah mahasiswa UIN Malang yang didominasi oleh perempuan. “Karena 60% mahasiswa kita adalah mahasiswi.”


Selain di hari pertama, humor seksis juga kembali hadir di hari kedua saat penyampaian materi Pengenalan DEMA-U. Muhammad Habibullah, selaku Wakil Presiden Mahasiswa di sela-sela pengenalan divisi Kominfo dan memperkenalkan salah satu media sosial DEMA-U berupa TikTok ia sempat menyisipkan objektifikasi berdasarkan gender perempuan dan laki-laki. “Ini pasti yang cowok-cowok ini yang di-follow yang joget-joget, cocok paling, ya. Yang cewek-cewek biasanya yang di-follow oppa-oppa (mengarah pada idol laki-laki dari Korea, red.),” ucap Habib di hadapan ribuan mahasiswa baru.


Menanggapi hal tersebut, Nur Lailatul Rohmah mahasiswa Tadris Matematika menyebutkan bahwa seharusnya statement seperti itu tidak pantas disampaikan oleh orang-orang yang menurutnya berpendidikan (WR III dan Wapresma, red.) apalagi disaksikan lebih dari 3000 mahasiswa. “Seharusnya jangan seperti itu lah, lebih ditata lagi bahasanya,” pungkasnya. Muhammad Nur Arifin, mahasiswa Hukum Keluarga Islam juga berpendapat bahwa hal yang bersifat pribadi (seksualitas, red.) tidak pantas dibicarakan di ruang publik. “Nggak pantas aja kalau dipublikkan.”


Berbeda dengan Lailatul dan Arifin, seorang mahasiswa Ilmu Al-quran dan Tafsir bernama Safira Ramadhani memberikan pandangannya terkait fenomena tersebut berdasarkan sudut pandang aturan Islam yang ia ketahui bahwa normalisasi yang terdapat di statement wapresma bahwa laki-laki memfollow akun yang joget-joget dan perempuan memfollow akun para laki-laki adalah tindakan yang tidak boleh dilakukan. Menurutnya, baik perempuan maupun laki-laki keduanya perlu menjaga hawa napsunya dan perlu memilah juga hati-hati terhadap apa yang ia lihat di sosial media.


Perilaku pelontaran humor seksis di ruang publik juga mendapat respon negatif dan penolakan dari beberapa ilmuwan yang fokus di bidang kesetaraan gender. Sriwattanakomen (2017) dalam jurnalnya yang berjudul Who’s laughing now? The effects of sexist and rape humor menyebutkan bahwa humor seksis termasuk humor penghinaan. LaFrance & Woodzicka (1998) juga menyebutkan dalam jurnalnya yang berjudul No laughing matter: Women’s verbal and nonverbal reactions to sexist humor bah Cawa humor seksis dapat dikatakan sebagai humor yang memandang rendah, berprasangka buruk terhadap kelompok tertentu, dan menjadikan objek seseorang berdasarkan gendernya.


Maryam Jameelah Al-Yasmin, seorang pengamat sosial sekaligus konsultan kekerasan seksual saat dihubungi oleh pihak inovasi (24/08) membenarkan bahwa apa yang disampaikan oleh WR III dan Wapresma adalah bentuk statement seksis. Ia menambahkan bahwa statement-statement tersebut adalah sesuatu yang tidak relevan karena tidak saintifik, seksis, dan menegakkan narasi seksualitas pada objek-objek peserta didik. Maryam juga menjelaskan bahwa mulanya humor seksis seperti itu tidak berbahaya namun ketika terus menerus diulang, akan terus melahirkan statement-statement seksis.


Menurut Maryam, seksisme di ruang akademik seharusnya direduksi apalagi dalam ruang publik seperti PBAK. Karena ketika diskursus pertama kali yang dikenalkan ke mahasiswa baru adalah diskursus seksis dan misoginis, maka akan sulit untuk menciptakan budaya ruang aman. “Ya, kita mau minta culture ruang aman kayak apa kalau misal PKKMB (PBAK, red.) aja sudah mengeluarkan statement yang seksis semacam ini,” ucapnya. []

(Visited 130 times, 1 visits today)

Last modified: 03 September 2022

Close