Tak membutuhkan waktu lama, Perkenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2022 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN) Malang, pukul 08.55 saat sambutan acara, Nayliya Rahmatullah kambuh. 20 menit sebelumnya, ia izin ke Gedung B, tempat tim kesehatan PBAK bertempat. Nayliya mengatakan bahwa ia memiliki riwayat penyakit Maag. Menurut keterangan Nayliya, memang setiap kali dirinya makan, seringkali mengalami mual dan lalu muntah. “kemaren itu waktu awal setiap makan itu pasti muntah, sekarang ya paling sehari atau dua kali gitu,” terangnya sambil bercerita bahwa ia sempat ke klinik, meskipun itu hanya meminimalisir gejala maagnya.
Pada saat yang bersamaan, Rizka Zahrotul Ilmiyah, Koordinator tim kesehatan PBAK sedang mengurusi dua pasien lainnya. Helmiana Putri Fadhilah dan Ike Nabila. Sementara Khaidar Ali dirawat terpisah untuk ruangan laki-laki di sebelahnya. Di sampin Nayliya, adalah Helmiana yang menderita radang. Menurut keterangan Rizka, Helmiana kambuh sejak sebelum hari inti PBAK berlangsung, “kalau radang sebenarnya dia sakitnya itu udah dari kemaren-kemaren cuman udh bilang ke musrifnya belum dibawa ke klinik ya jadi baru dikasih obat waktu dia kesini,” terang Rizka pada UAPM Inovasi.
Selaku Koordinator, Rizka saat ditanyakan, perihal fasilitas kesehatan untuk peserta PBAK memang telah disediakan oleh Panitia. Sayangnya fasilitas tak lengkap. Misalnya bantal dan sprei harus disiapkan sendiri oleh Tim Koordinator Kesehatan yang juga berasal dari Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) UIN Malang. Daftar peserta yang memiliki riwayat penyakit bahkan belum sempat didata oleh Panitia. Kendati demikian, Tim Koordinator Kesehatan tetap melakukan kerja prosedural dengan pencatatan manual dan digital melalui google formulir. Menurut RIzka, antara lain hal ini karena belum adanya koordinasi yang cukup antara panitia PBAK-U dengan Tim Koordinator Kesehatan.
Ah. Sa’roni, Ketua Pelaksana PBAK 2022 UIN Malang menanggapi bahwa persoalan kesehatan peserta adalah fungsi dari pendamping. Menurutnya, pendamping adalah fasilitator dan penyambung lidah peserta. Adapun secara teknis, lanjutnya, pendataan sebenarnya dilakukan saat pendamping dapat melaporkan kondisi peserta dampingannya kepada Sa’roni, dan atau KSR-PMI selaku lembaga yang telah bekerjasama dengan panitia. Sayangnya pendamping dinilai kurang kerjasama dengan panitia. “sejauh ini pendamping masih kurang kerjasama dengan segala macam pihak karena mungkin sibuk dengan kelompoknya sendiri ya sehingga secara komunikasi ketika memang disitu sifatnya urgent kurang dalam penyaluran informasi,” terang Syahroni.
Perihal pendataan riwayat penyakit, Rizka memang mengaku bahwa antara Tim Koordinator Kesehatan dengan panitia PBAK-U belum ada koordinasi. Rizka berpendapat bahwa lebih baik pihak yang bersangkutan, seperti Ketua Pelaksana, Pendamping dan Tim Koordinator Kesehatan dan menetapkan teknis koordniasi mengenai peserta yang memilki riwayat penyakit seperti apa rinciannya. Sementara itu, Rizka juga mengaku saat hari menjelang maghrib, ia baru memperoleh nomor CO dan pendamping. Rizka menilai koordinasi antara panitia dan Tim Koordinator Kesehatan terbilang mendadak, “ini tadi bener-bener dadakan,” tukas Rizka. []
Editor: Ajmal Fajar Sidiq
kesehatan maba uin malang PBAK
Last modified: 03 September 2022

