Written by 22:35 Berita, Berita Kampus

Timbul Tenggelam Isu Miring Maliki Water: Dari Batuk-Batuk, Sumber Mata Air hingga Mindset Mahasantri

Keluhan mahasantri terkait kualitas air minum Maliki Water kembali beredar luas di lingkungan UIN Maliki Malang pada pertengahan April lalu, salah satunya lewat akun Instagram @uinmalikishitpost. “Ngomong-ngomong, engga ada penelitian tentang tingkat kepuasan konsumen Maliki Water?” tulis akun tersebut dalam kolom komentar postingan.

Galih Nalendra, mahasiswa baru fakultas psikologi mengamini bahwa mereka mengeluhkan kualitas air minum Maliki Water setelah mengonsumsinya, “kalau dari aku sendiri sih radang,” ungkapnya ketika ditanyakan perihal keluhan awal yang dialaminya (16/05). Galih  mengonsumsi air minum tersebut sejak awal pertama masuk Ma’had melalui rekomendasi musyrif yang bertugas di mabnanya. Galih dan teman-teman kamarnya memilih untuk mengonsumsi tersebut karena tawaran harga yang lebih terjangkau daripada merek lainnya, “jadi kan ya tergiur apalagi masalah air yang lebih penting buat setiap harinya gitu yang pasti dikonsumsi tiap hari.”

Namun, Galih masih berspekulasi bahwa radang yang ia rasakan diakibatkan oleh makanan yang ada di Kantin Ma’had Putra, “dari kantin juga kan keliatanya kurang higienis waktu itu pas awal-awal [masuk ma’had].” Hingga kemudian, Ia dan teman-teman kamarnya pun akhirnya sepakat untuk tidak membeli makan di kantin, sekaligus berhenti mengonsumsi air minum Maliki Water untuk mengantisipasi terjadinya hal serupa kembali, “ini bener-bener di awal semester atau pertengahan itu tuh udah berhenti minum Maliki Water, udah itu sekamar itu udah berhenti konsumsi,” jelas mahasiswa asal Jakarta tersebut.

Senasib dengan Galih, Shandyka, mahasiswa program studi Sastra Inggris pun mengalami batuk-batuk setelah mengonsumsi beberapa galon Maliki Water. Ia menceritakan bahwa pada saat awal konsumsi, Shandyka merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Awalnya normal-normal aja, beberapa galon selanjutnya gatau kenapa tiba-tiba jadi batuk-batuk. Saya ingat banget waktu itu jaman jamannya Maliki [Water] tuh sampai kalau di masjid itu sampai sahut-sahutan batuk-batuknya, sampai-sampai orang-orang benar relate kalau ini kayaknya ada masalah dengan airnya, dengan Maliki Water ini,” ceritanya. Ia juga sempat menganggap bahwa batuk-batuk yang ia alami berkaitan dengan musim pancaroba, “Mungkin karena musim, karena mikirnya masing-masing dari kita bukan orang Malang yang pada saat itu seingat saya musimnya juga dingin,” ungkapnya.

Baca Juga: Membaca Ulang PLTU; Penurunan Kualitas Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan

Aktivitas PLTU berpotensi pada penurunan kesehatan masyarakat sekitar, mengingat terjadinya pencemaran udara yang dihasilkan oleh pembakaran batu bara. Artikel dalam jurnal Vitruvian; Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan (Mahardihika B. & Tommy H., 2022 : 269) menguatkan bahwa operasional coal yard, crusher plan, ash disposal dan gas serta particular dari cerobong juga menyebabkan penurunan kualitas udara di sekitar wilayah tersebut.

Masalah-masalah keluhan yang disampaikan oleh mahasantri, menurut keterangan Muhammad Umar Syidiq, salah satu Musrif yang ditunjuk sebagai Penanggung Jawab (PJ) Galon Maliki Water, menjelaskan bahwa mereka selalu menelaah terlebih dahulu, apakah benar permasalahannya memang berasal dari Maliki Water atau tidak. Keluhan-keluhan yang masuk lalu ditindaklanjuti melalui Forum Ketua Kamar (FKK) yang nantinya laporan-laporan tersebut akan disampaikan langsung kepada pihak Maliki Water. “Jadi setiap ketua kamar itu melaporkan kepada PJ galonnya itu seperti saya, kemudian saya sampaikan ke pihak Maliki Water,” jelas Musrif Al-Ghazali tersebut.

Pihak Maliki Water melalui Imam Syahrudi membantah adanya keluhan yang beredar di kalangan mahasantri disebabkan oleh air minum yang dikelolanya. Imam meyakini bahwa apa yang dikeluhkan adalah bentuk dari pola pikir masa lalu terhadap Maliki Water yang masih terbawa sampai saat ini. Pola pikir masa lalu yang dimaksud adalah kesan terhadap pengelola sebelum Imam mengelola unit usaha ini sejak tahun 2018 silam – sebelumnya Imam bukan pengelola Maliki Water. Imam mengaku bahwa ia adalah generasi ketiga dari unit usaha ini, “Maliki Water itu generasi ketiga kalau gak salah untuk pengelolaan air minum di UIN ini.”

Menurut keterangan Imam, sebelum ia mengelola Maliki Water, pengelola air minum ini bermasalah, terutama dalam segi kualitas airnya karena masih menggunakan bahan dasar baku yang kurang layak minum. Begitu pula tempat pengolahan atau depo yang ditempati dirasa masih belum layak. “Itu ternyata memang bener laporannya gini, mesinnya gini, kemudian bahan dasar bakunya ambil dari sumber mata air yang ada di UIN sini. Wah saya ndak tau sumbernya, tapi kalo saya lihat ada di daerah Mabna Farobi sana, di pojok sana itu kan sumber ya.” Air yang berasal dari sumber mata air – yang merupakan sumber air Maliki Water sebelum dikelola Imam – di lingkungan UIN Malang tersebut kemudian Imam bawa ke Dinas Kesehatan Malang untuk diuji laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi namun masih bisa untuk keperluan MCK. Dengan pertimbangan tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan air PDAM sebagai bahan baku dasar air minum Maliki Water.

Pipa sumber air baku dasar Maliki Water yang berasal dari PDAM (Wildan Firdausi/UAPM INOVASI)

Keputusan menggunakan air PDAM Imam ambil sejak awal mengelola hingga sekarang. “Jadi semenjak yang namanya Maliki Water itu sudah tidak pakai sumber mata air UIN. Rupanya mindset ini masih kebawa, karena pengelola yang lama itu bermasalah karena ada timbul batuk lah, timbul sakit inilah, itu terbawa sampai dengan saat saya mengelola ini,” terangnya. “Rupanya mindset ini [keluhan dari pengelolaan sebelumnya] masih kebawa, karena pengelola yang lama itu bermasalah karena ada timbul batuk lah, timbul sakit inilah, itu terbawa sampai dengan saat saya mengelola ini,” lanjut keluhnya saat ditemui di Depo Maliki Water, Sabtu sore (27/05).

Baca Juga: Riwayat Penyakit Sebabkan Maba Tidak Mampu Mengikuti PBAK Secara Maksimal

Muhammad Multazim, salah satu mahasiswa baru dari program studi Ilmu Perpustakaan dan Ilmu Informasi fakultas Sains dan Teknologi (SAINTEK) yang tidak kuat mengikuti rangkain kegiatan PBAK-U mengatakan jika mereka harus kumpul di lapangan utama pada pukul 06.00 WIB dan melakukan persiapan dari pukul 04.00 WIB. Ia mengaku bahwa dari awal memang kondisinya kurang fit sehingga pada saat PBAK berlangsung ia memilih mengundurkan diri.

Mindset tersebut juga menurut Imam berdampak pada tidak stabilnya pengelolaan Maliki Water, termasuk dari segi perkembangan konsumen. Imam berharap, hal seperti ini seharusnya sudah dapat ditangani dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Maliki Water dengan para musrif/ah setiap kali memasuki tahun ajaran baru. “Bukan berarti saya tidak percaya kepada peannggung jawab pada musrif musrifah, tetapi lebih menyingkronkan apa yang kami sampaikan kepada mereka,” tegasnya.

Sangat Terbuka terhadap Keluhan

Pihak Maliki Water yang bermitra dengan Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Maliki Malang sebenarnya telah menampung semua keluhan yang ada. Keluhan-keluhan tersebut kemudian diteruskan pada pihak P2B sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk ditindaklanjuti. Biasanya, penanganan yang dilakukan salah satunya dengan mengumpulkan kembali musrif/ah sebagai perwakilan pihak mahasantri untuk mensosialisasikan kembali bahwa air Maliki Water yang dikonsumsi bukan sumber utama dari penyakit yang dikeluhkan. Imam percaya pengelolaan air Maliki Water sudah sesuai standar operasional serta sudah lolos uji laboratorium dinas kesehatan. Tera ulang pun menurutnya rutin dilakukan setiap enam bulan sekali, “cuman apa yang kami punya, apa yang kami lakukan, apa yang kami sosialisasika n ini sampai ke mabna ini bagaimana saya gatau,” jelasnya.

Pihak P2B sendiri selaku yang membawahi beberapa bisnis yang ada di UIN Malang juga tidak membatasi dan membuka pintu selebar-lebarnya terkait keluhan-keluhan yang disampaikan mahasantri maupun warga UIN Malang sebagai bahan evaluasi, tetapi harus dengan adanya bukti dan data yang valid, “langsung saja, misalkan perwakilan dari musrif musrifahnya. Kalau ada yang tertulis malah enak kita, saya malah seneng karena itu yang saya tunggu, kalau ini kan kita investigasi sendiri,” ungkap Fahrul Kurniawan, Ketua P2B.  “Jadi kita sedang evaluasi itu [Maliki Water] terkait banyak hal termasuk itu kualitas dari air. Jangan sampai ada mahasiswa batuk batuk seperti itu,” sambungnya.

 Keluhan Rutin Tahunan

Menurut Umar, keluhan-keluhan yang diderita oleh mahasantri dalam setiap tahunnya memang selalu ada. Namun, ia menyangkal bahwa keluhan yang dialami bukan semata-mata dari air Maliki Water yang dikonsumsi mahasantri “Kalau itu emang beneran ada yang bikin penyakit itu penyebabnya dari maliki water, kenapa tiap tahunnya maliki water lulus uji lab, sedangkan maliki water itukan sudah bertahun tahun dan masalah itu merupakan masalah yang ada dalam setiap tahunnya. Ya, mungkin yang namanya mahasantri masih adaptasi dengan kondisi di Malang seperti itu. Jadi bukan penyebab utamanya dari Malaki Water.”

Hal ini dibenarkan oleh pihak P2B untuk tahun-tahun sebelumnya memang memang masih ada aduan mengenai keluhan yang disampaikan kepada mereka. Rida Dwi Utami, selaku staff  P2B mengakui bahwa laporan terkait keluhan mahasantri terakhir di tahun 2022. Kemudian, dari tahun 2022 sampai Juni 2023 belum ada aduan lagi atas keluhan yang disampaikan baik dari pihak mahad ataupun mahasantri. “2023 dia [Pihak Maliki Water] mengajukan izin baru ke dinkes dan sudah keluar uji labnya. Di 2023 sampai Juni ini udah gada keluhan mahasiswa ke sini, keluhannya pas di 2022. Kalau investigasi kita saat ini masalah dengan maliki water sudah tidak ada terkait air,” pungkasnya. []

Editor: Wildan Firdausi

(Visited 411 times, 1 visits today)

Last modified: 10 Juni 2023

Close